Utama  

Loraine Jurcka asal Belanda, Seberangi Lautan untuk Mencari Subuah Nama

Loraine Jurcka dan keluarganya mencicipi masakan Minang di Rumah Makan Aka, tepat di depan Museum Kereta Api Sawahlunto.
Loraine Jurcka dan keluarganya mencicipi masakan Minang di Rumah Makan Aka, tepat di depan Museum Kereta Api Sawahlunto.

Sawahlunto, rakyatsumbar.id–Asap membuat bukit kecil itu tampak seperti diselimuti kabut. Di antara pepohonan, nisan-nisan tua berdiri diam. Sebagian berbentuk salib, sebagian lain berupa bangunan kecil dengan ornamen yang mengingatkan pada arsitektur Eropa. Rumput tumbuh di sela-selanya. Udara siang itu panas dan berbau asap.

Kamis, 27 Agustus 2026, sekitar pukul 11.00 WIB. Seorang perempuan berambut pirang berjalan perlahan di antara makam-makam itu. Ia sesekali berhenti. Membaca sebuah nama. Membandingkannya dengan catatan yang dibawanya. Kemudian berjalan lagi.

Perempuan itu tidak terlihat seperti wisatawan yang sedang berburu foto. Namanya Loraine Jurcka. Ia datang dari Krommenie, kota kecil di dekat Amsterdam, Belanda. Bersamanya ada suaminya, Ruud Smit, putra-putri mereka, Jesse Smit dan Nova Smit serta Cyrana Manaputty, kerabat keluarga keturunan Ambon-Belanda.

Mereka berada di Kerkhof Sawahlunto, kompleks makam Belanda di Kelurahan Lubang Panjang, Kecamatan Barangin. Kawasan itu menyimpan 94 makam dan merupakan salah satu peninggalan sejarah kolonial di Sawahlunto. Ia kini menjadi cagar budaya yang masih dirawat sebagai bagian dari jejak sejarah kota tambang tersebut.

Loraine datang membawa sebuah nama. Keuskamp. Nama yang menyeberangi lautan. Nama itu telah menempuh perjalanan yang jauh sebelum kembali ke Sawahlunto.

Di Belanda, nama tersebut hidup sebagai bagian dari sejarah keluarga. Di Sumatera Barat, ia tertinggal pada jejak orang-orang yang pernah hidup pada masa Hindia Belanda. Loraine sedang mencoba menyambungkan keduanya.

“Kakek saya, F.J. Keuskamp, meninggal dunia di Fort der Capellen pada tanggal 11 Mei 1944,” katanya.

Fort der Capellen adalah nama Batusangkar pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Namun ada satu hal yang tidak sederhana dari cerita itu. Kakek Loraine tidak dimakamkan di Sawahlunto. Ia dimakamkan di Ereveld Pandu, Bandung.

Makam kehormatan itu menjadi tempat peristirahatan terakhir korban perang dan warga sipil yang meninggal pada masa konflik. Jadi perjalanan Loraine ke Kerkhof bukanlah perjalanan menuju makam kakeknya.

Ia sedang mencari kerabat lain. Jejak itu mengarah ke Sawahlunto.

Dan di kota tambang inilah pencarian tersebut mulai menemukan bentuknya.

Diantara 94 makam, Kerkhof bukan tempat yang ramai. Tidak ada suara kereta. Tidak ada bunyi mesin tambang. Tidak ada lalu-lalang pekerja seperti yang pernah terjadi ketika Sawahlunto menjadi kota tambang pada masa Hindia Belanda.

Yang tersisa adalah batu, tanah, rumput dan nama. Beberapa makam masih memiliki identitas. Sebagian lainnya kehilangan nisan atau tulisan yang dapat dibaca. Kondisi itu membuat pekerjaan mencari nama keluarga menjadi seperti menyusun potongan teka-teki sejarah.

Ia menemukan nama-nama yang berkaitan dengan keluarganya.

Henderika Keuskamp dan Frederika Keuskamp merupakan bagian dari garis keluarga F.J. Keuskamp dan Johanna Catherina.

Di sinilah cerita keluarga yang selama ini berada jauh di Belanda bersentuhan dengan tanah Sawahlunto.

Loraine tersenyum. Penemuan itu bukan sekadar keberhasilan menemukan sebuah nama. Baginya, nama itu adalah bukti bahwa keluarganya pernah mempunyai kehidupan di kota ini.

Kemudian ia menemukan rumah keluarganya. Namun makam bukan satu-satunya tujuan. Ada satu tempat yang justru lebih personal bagi Loraine. Komplek Saringan.

Di kawasan itu, ia menemukan lokasi rumah yang pernah ditempati ibunya.

Rumah itu tidak lagi hadir dalam bentuk yang sama seperti ketika keluarganya tinggal di sana.

Waktu telah Mengubah Kawasan

Aktivitas pertambangan yang dahulu menjadi denyut utama kota juga telah berubah. Bangunan dan kawasan lama beradaptasi dengan kehidupan baru.

Di salah satu bagian kawasan itu, bangunan lama kini bertransformasi menjadi hotel Saka Ombilin Heritage Sawahlunto.

Loraine melihat tempat tersebut dengan cara yang berbeda dari wisatawan biasa. Bagi wisatawan, bangunan tua adalah peninggalan sejarah. Bagi Loraine, ia adalah rumah. Di sanalah ibunya pernah tinggal.

Tidak ada foto keluarga yang tergantung di dinding. Tidak ada suara orang tua yang menyambutnya. Tidak ada benda pribadi yang bisa disentuh.

Tetapi tempat itu ada. Dan kadang-kadang, untuk seseorang yang sedang mencari masa lalu keluarganya, keberadaan sebuah tempat sudah cukup.

“This was a journey that touched my heart. Sawah Lunto is a small town with very kind and friendly people,” kata Loraine. Perjalanan ini menyentuh hatinya.

Makan siang setelah Mencari Masa Lalu

Setelah menyusuri makam dan jejak rumah, Loraine dan keluarganya kembali menjadi pelancong. Mereka mencicipi masakan Minang di Rumah Makan Aka, tepat di depan Museum Kereta Api Sawahlunto, mereka mencoba nasi Padang dengan berbagai lauk. Sambal, ikan, daging dan hidangan lainnya tersaji di meja.

Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan itu. Keluarga yang datang dari Belanda untuk mencari jejak masa kolonial justru berakhir menikmati salah satu bagian paling khas dari kehidupan Sawahlunto hari ini makanan Minang. Masa lalu tidak lagi terasa seperti museum.

Ia hadir dalam bentuk yang lebih sederhana. Di atas meja makan. Loraine dan keluarganya menghabiskan dua hari tiga malam di Sawahlunto. Mereka menginap di Khas Ombilin Hotel.

Menurut Rudi, General Manager Khas Ombilin Hotel, wisatawan asal Belanda memang kerap memilih hotel tersebut ketika berkunjung ke Sawahlunto, terutama mereka yang datang untuk menikmati kawasan heritage dan menelusuri sejarah kota.

Keturunan Penjajah Kembali Mencari Jejak

Sawahlunto menyimpan sejarah yang rumit. Kota ini tumbuh bersama industri batu bara pada masa Hindia Belanda. Jejaknya tidak hanya berupa bangunan tambang, rel kereta, gudang atau lubang tambang. Ada pula jejak manusia, mereka yang datang, bekerja, tinggal, sakit, mempunyai anak dan akhirnya meninggal.

Kerkhof menyimpan sebagian dari cerita itu. Karena itu, makam-makam tersebut tidak hanya berbicara tentang kematian. Ia berbicara tentang kehidupan yang pernah berlangsung. Tentang keluarga yang pernah tinggal jauh dari tanah asalnya.

Tentang anak-anak yang lahir di kota tambang.Tentang orang-orang yang kemudian meninggalkan Sawahlunto dan pulang ke Eropa. Puluhan tahun kemudian, keturunan mereka datang kembali. Bukan sebagai penguasa. Bukan sebagai pejabat kolonial.

Mereka datang sebagai anak cucu yang ingin mengetahui satu hal sederhana. Di mana keluargaku pernah tinggal ?

Loraine mendapatkan sebagian jawabannya di Sawahlunto. Ia menemukan nama di antara makam. Ia menemukan kawasan tempat ibunya pernah tinggal. Dan ia menemukan sebuah kota yang, meski telah berubah, masih menyimpan jejak keluarganya.

Pulang membawa Sepotong Sawahlunto

Pada Kamis yang panas itu, asap akhirnya hanya menjadi latar. Yang lebih penting adalah nama-nama yang tetap bertahan di atas batu.

Sebab sejarah keluarga kadang tidak tersimpan dalam album foto atau buku harian. Ia bisa tersembunyi di tempat yang jauh, dalam bahasa yang berbeda, bahkan di sebuah makam yang tidak pernah diketahui oleh generasi berikutnya.

Loraine datang dari Belanda untuk mencarinya. Sawahlunto memberinya sebagian jawabannya. Ia mungkin tidak membawa pulang makam. Tidak membawa pulang rumah. Ia hanya membawa cerita.

Tetapi bagi seseorang yang telah menempuh ribuan kilometer untuk menemukan masa lalu keluarganya, sebuah cerita bisa menjadi benda paling berharga untuk dibawa pulang.

Di Kerkhof Sawahlunto, sebuah nama yang lama terpisah oleh lautan kembali menemukan tempatnya. Bukan di Belanda. Melainkan di kota kecil di pedalaman Sumatera Barat, Sawahlunto. (Indra Yosef D)