Agam, rakyatsumbar.id—Konon kabarnya, salah satu alasan kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara dilatarbelakangi motifasi untuk mencari rempah-rempah yang banyak dihasilkan oleh negeri ini.
Begitu pula halnya maksud kedatangan bangsa Belanda, melalui kongsi dagangnya yang dikenal dengan sebutan VOC. Hanya saja, belakangan niat itu berubah menjadi monopoli perdagangan rempah, hingga berujung pada pendudukan hingga penjajahan.
Dalam banyak literatur, juga semakin menguatkan alasan utama kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke tanah air. Kekayaan dan keragaman komoditi rempah yang dihasilkan berbagai daerah di bumi Nusantara menjadi alasan paling kuat untuk itu.
Sebut misalnya, komoditi cengkeh, lada, pala hingga tanaman kopi. Begitu pula komoditi akasia dan casiavera disamping masih banyak lagi komoditi lainnya.
Hal itu agaknya sangat beralasan, terutama mengingat komoditi rempah-rempah yang dihasilkan negeri ini tergolong memiliki mutu dan kualitas terbaik, terutama di bandingkan komoditi sejenis yang ada di negara lain.
Menariknya, hingga saat ini komoditi rempah yang dihasilkan para petani di negara kita masih banyak kita temukan di berbagai daerah di tanah air, termasuk diantaranya komoditi casiavera. Meski, belakangan harganya cenderung berfluktuasi, tergantung pada kondisi permintaan pasar, namun sebagian petani tetap memilih mempertahankannya.
Berdasarkan penelusuran koran ini, komoditi casiavera sendiri, dulunya bahkan pernah menjadi komoditi primadona bagi masyarakat petani, termasuk diantaranya bagi petani di Sumbar.
Kecamatan Malalak, adalah salah satu contohnya, dimana para petani di daerah ini terlihat masih terus berupaya memperthankan komoditi kulit manis atau casiavera ini.
“Tanaman casiavera atau kulit manis ini boleh dikatakan tanaman turun temurun bagi masyarakat kita di Malalak ini. Bahkan sampai sekarang juga masih terus bertahan,” terang Sidi, salah seorang petani casiavera di Kecamatan Malalak.
Tidak seperti biasanya, kondisi cuaca di kawasan pegunungan Singgalang di sekitar Kecamatan Malalak yang biasanya berhawa sejuk, hari itu berubah begitu terik, bahkan hawa teriknya serasa mau membakar kulit.
Saat itulah Sidi terlihat sibuk menjemur produk casiavera yang baru saja dipanennya sehari sebelumnya.
“Kulit manis jenis ini umurnya lebih kurang sudah tiga puluh tahun, namun dibanding tanaman sejenis, Alhamdulillah hasil dan kualitasnya terbilang lebih baik,” terangnya.
Seperti diketahui, komoditi Casiavera atau kulit manis sudah tidak begitu asing lagi bagi keseharian masyarakat di daerah yang terletak kawasan lembah di kaki pegunungan Singgalang ini.
Umumnya, warga di daerah Malalak memilih nembudidayakan tanaman kulit manis di kebun atau di ladang yang merupakan ulayat mereka secara turun temurun, atau biasa disebut dengan parak. Dan hal itu bahkan terus berlangsung dari satu ke generasi, hingga masih tetap bertahan hingga hari ini.
Bahkan pada era 70-an hingga tahun 80 an, komoditi atau produk kulit manis pernah begitu berjaya.
“Bisa dibayangkan, cukup bermodalkan satu pikul saja, waktu itu sudah bisa pembeli rupiah, berbeda dengan saat ini yang harganya masih jauh dari yang diharapkan,” ujarnya lagi.
Diakuinya, menekuni atau membududayakan komoditi kulit manis tentunya sangat menutut ketekunan dan kesabaran lebih.
Hal itu tentunya sangat beralasan, karena untuk bisa memanennya saja membutuhkan waktu hingga puluhan tahun, atau sekitar dua puluh tahunan lebih.
“Jadi tanaman kulit manis ini ibaratnya bisanya dijadikan kucio atau tabungan, sebab untuk memenuhi belanja harian jelas tidak bisa diandalkan,” imbuhnya lagi.
Meski demikian, sekalipun tidak bisa diandalkan memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari, namun tetap saja selama ini kulit manis telah banyak berjasa bagi masyarakat Malalak.
“Betapa tidak, dengan modal kulit manis ini banyak yang berhasil mengantarkan warga Malalak berangkat ke Tanah Suci. Begitupun untuk keperluan membangun rumah hingga untuk keperluan membiayai pesta perkawinan anak-anak mereka,” imbuhnya.
Dengan alasan itulah menurutnya, para petani kulit manis saat ini sangat menanti dan berharap adanya perhatian dan pembinaan lebih dari pihak terkait, sehingga diharapkan harga kulit manis bisa dihargai sepantasnya.
Ditegaskannya, salah satu permasalahan mendasar yang dihadapi pasaran kulit manis dewasa ini, terutama mengingat rendahnya daya tawar petani dalam hal harga atau pemasarannnya.
“Padahal informasinya harga kulit manis di luar negeri itu cukup mahal, hingga dihargai hingga lima dolar atau lebih, namun sayangnya harga di tingkat petani dalam negeri cenderung jauh di bawah standar,” tegasnya.
Dengan alasan itulah ke depannya para petani kulit manis berharap perlunya perhatian khusus dari pihak pemerintah, sehingga dengan begitu diharapkan harga kulit manis kembali bergairah, tentunya seiring meningkatnya gairah dan motivasi para petani kulit manis yang ada. (Yurisman)





