Padang, rakyatsumbar.id – Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sumatera dan Kalimantan, terus meluas dan menyebabkan kualitas udara di sejumlah daerah di Sumatera Barat masuk dalam kategori Berbahaya.
Khususnya di Kota Padang, berdasarkan pemantauan IQAir pada Rabu (16/09/2026) pukul 05.00 WIB, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) mencapai angka 903.
Tingginya indeks tersebut terutama dipengaruhi konsentrasi PM2.5 yang tercatat mencapai 528 µg/m³. Dalam pemantauan IQAir, PM2.5 menjadi polutan utama yang memengaruhi kualitas udara saat itu.
Angka AQI 903 tersebut masuk dalam kategori Berbahaya pada indikator IQAir. Kondisi ini menjadi perhatian di tengah kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera Barat.
Data IQAir juga mencatat prakiraan kualitas udara Padang mengalami penurunan indeks pada siang hingga sore hari. Pada pukul 14.00, AQI diprakirakan berada di angka 81, kemudian 80 pada pukul 15.00, 79 pada pukul 16.00, 76 pada pukul 17.00, dan 73 pada pukul 18.00.
Meski angka prakiraan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan catatan pukul 05.00 WIB, kualitas udara tetap perlu dipantau karena konsentrasi polutan dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer.
Dalam tampilannya, IQAir mencantumkan bahwa data tersebut disediakan melalui model berbasis satelit (satellite-derived model).
Kondisi ini menjadi perhatian, khususnya bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
Perkembangan kualitas udara perlu terus dipantau seiring masih adanya kabut asap di sejumlah daerah di Sumatera Barat dan provinsi tetangga.
AQI 903 menjadi catatan serius kualitas udara Padang di tengah kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Barat.
Perpanjang Penyesuaian Pembelajaran
Sementara itu, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Padangpanjang dampak asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tercatat sebesar 163,943.
Angka tersebut berada pada kategori tidak sehat dan berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.
Kondisi kualitas udara yang masih berada pada kategori tidak sehat itu, membuat Pemerintah Kota Padangpanjang memperpanjang penyesuaian kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan sebagai langkah antisipasi untuk melindungi kesehatan peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan.
Kebijakan tersebut diberlakukan selama dua hari, Kamis hingga Jumat, 17–18 September 2026, dengan mempertimbangkan perkembangan kualitas udara di Kota Padang Panjang dan sekitarnya.
Berdasarkan laporan hasil uji UPTD Laboratorium Lingkungan Hidup Dinas Perumahan, Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim LH) Kota Padangpanjang, pengujian per 16 September 2026 menunjukkan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebesar 163,943.
Angka tersebut berada pada kategori tidak sehat dan berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.
Hal demikian disampaikan Wali Kota Padangpanjang Hendri Arnis, menanggapi kondisi udara Kota Padangpanjang yang belum membaik, Kamis (17/09/2026).
Hendri mengatakan, penyesuaian kegiatan pembelajaran merupakan langkah bersama untuk menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik selama kondisi udara belum kembali membaik. Ia berharap kondisi udara segera membaik sehingga aktivitas pembelajaran dapat kembali dilaksanakan secara normal.
“Harapan kita kondisi udara segera membaik sehingga kegiatan pembelajaran dapat kembali berjalan seperti biasa. Untuk sementara, mari kita bersama-sama menjaga kesehatan anak-anak, membatasi aktivitas di luar rumah dan mengikuti arahan yang telah ditetapkan,” ujarnya.
Hendri Arnis juga mengajak orang tua untuk mendampingi anak selama mengikuti pembelajaran dari rumah serta memastikan aktivitas di luar ruangan dibatasi, terutama ketika kondisi udara belum memungkinkan.
Selain penyesuaian kegiatan pembelajaran, Pemko mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker ketika berada di luar rumah serta memantau kondisi kesehatan, khususnya anak-anak.
Ancaman ISPA dan Sesak Napas
Karhutla yang melanda sejumlah titik di Limapuluh Kota, termasuk kawasan Kecamatan Kapur IX, kini memicu keresahan mendalam di tengah masyarakat. Bukan lagi sekadar mengancam kelestarian alam dan perkebunan, kepulan kabut asap pekat yang menyelimuti permukiman dalam beberapa waktu terakhir mulai mengancam kesejatan publik secara nyata.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kabut asap dan aroma menyengat sisa pembakaran dahan dan gambut kian menyesakkan dada, terutama pada pagi dan sore hari. Aktivitas luar ruangan warga kini terganggu akibat jarak pandang yang menurun dan udara yang terasa kian tidak sehat.
Ini terjadi adalah merupakan dampak dari kabut asap dari kebakaran Hitan Dan Lahan (Karhutla) di wilayah Sumatera, kini kian meresahkan masyarakat, khususnya do Kecamatan Kapur IX.
Berdasarkan laporan lapangan,paparan asap yang menyelimuti pemukiman warga dalam beberapa waktu terakhir mulai memicu kekwatiran. Kondisi udara yang kian memburuk memaksa Pemkab Limapuluh Kota menggelar rapat koordinasi lintas sektor di jajaran pekat limapuluh kota, guna antisipasi terhadap kesehatan publik yang tengah mengancam warga.
Kecemasan warga bukan tanpa alasan. Kabut asap yang pekat dari titik api, salah satunya yang sempat melanda kawasan perbukitan di Nagari Galugua, menyebabkan penurunan kualitas udara yang drastis.
Puskesmas setempat mulai dipadati oleh warga yang mengeluhkan gejala klinis akibat polusi asap.
Kondisi ini menjadi ancaman nyata yang sangat mematikan bagi kelompok rentan, seperti balita, anak-anak, lansia, serta ibu hamil di Kecamatan Kapur IX.
Menyikapi hal tersebut masyarakat berharap Respons Cepat Lintas Sektor, guma menanggapi kualitas udara yang sudah masuk dalam kategori tidak sehat,Sekretaris Daerah Limapuluh kota Herman Azmar, menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan tinggal diam.
Penanganan dampak kesehatan kini menjadi salah satu fokus prioritas utama di samping pemadaman api di lapangan pungkasnya.
Sekolah Libur, MBG Dibagikan ke Warga
Yang menarikannya, ketika sekolah diliburkan akibat kabut asap, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Padang seharusnya ikut berhenti sementara. Namun, pemandangan berbeda terlihat di lapangan. Saat siswa TK, PAUD, SD hingga SMP belajar dari rumah, makanan yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) justru dibagikan kepada warga di tingkat Rukun Tetangga (RT).
Pantauan Rakyat Sumbar, Kamis (17/9), sejumlah makanan MBG dibagikan kepada masyarakat di Kelurahan Surau Gadang. Makanan yang biasanya diterima siswa di sekolah itu dialihkan kepada warga, menyusul dihentikannya sementara aktivitas pembelajaran tatap muka akibat kondisi udara Kota Padang yang terdampak kabut asap.
“Ya, karena sekolah TK, PAUD, SD hingga SMP se-Kota Padang diliburkan akibat kabut asap, MBG dibagi-bagikan ke warga,” ujar Nita, salah seorang warga penerima MBG di Kelurahan Surau Gadang, Kamis (17/9).
Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mengenai pola distribusi MBG ketika sekolah tidak beraktivitas. Di satu sisi, makanan untuk siswa disebut tidak lagi diproduksi dan disalurkan seperti biasa karena penerimanya belajar dari rumah. Di sisi lain, makanan tetap tersedia dan bahkan sampai ke tangan masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang Yopi Krislova mengatakan, pihaknya telah mengirimkan surat edaran kepada SPPG berkaitan dengan pengalihan aktivitas pembelajaran selama kabut asap. Dalam edaran tersebut, sekolah tidak melakukan aktivitas hingga masa PJJ berakhir.
“Mereka sudah tahu karena kita sudah kirim edaran. Kita menyebutkan sampai besok kita tidak beraktivitas di sekolah,” kata Yopi.
Yopi menjelaskan, penghentian sementara distribusi MBG ke sekolah dilakukan karena terdapat risiko makanan yang sudah disiapkan tidak diambil siswa. Dengan kondisi pembelajaran dari rumah, mekanisme penyaluran seperti saat kegiatan belajar tatap muka tentu tidak dapat berjalan normal.
“Kalau diproduksi saat peralihan pembelajaran, dikhawatirkan ada siswa yang tidak menjemput,” ujarnya.
Kebijakan PJJ sendiri diterapkan karena kualitas udara Kota Padang berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Karena itu, pemerintah masih menunggu perkembangan cuaca dan kualitas udara sebelum kembali membuka sekolah dan menjalankan kembali pola distribusi MBG seperti biasa.
Yopi menyebut pembelajaran tatap muka berpeluang kembali dimulai Senin pekan depan, namun tetap bergantung pada kondisi udara.
“Kita lihat kondisi cuaca terlebih dahulu. Kalau memungkinkan kualitas udara turun, kita kembali memulai proses pembelajaran tatap muka,” katanya. Ia berharap hujan lebat turun di wilayah sumber kabut asap sehingga kualitas udara membaik dan aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan, dapat kembali berjalan normal. (edg/jef/sdn)





