24/04/2024

rakyatsumbar.id

Berita Sumbar Terkini

Beranda » Pelatihan Menulis di Lapas Suliki Menyambut Momentum Sumpah Pemuda: Langkah tak Biasa tapi Berefek Luar Biasa

Pelatihan Menulis di Lapas Suliki Menyambut Momentum Sumpah Pemuda: Langkah tak Biasa tapi Berefek Luar Biasa

Seharian berada di tengah-tengah Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Suliki, di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, merupakan sebuah pengalaman penting dan sangat berharga bagi saya.


Oleh: Firdaus Abie – Suliki, Limapuluh Kota

Semangat dan optimisme mereka, memberikan gambaran bahwa Lapas tidak lagi seperti yang dikatakan orang selama ini. Lapas sudah menjadi tempat bimbingan dan pembinaan yang memperhatikan nilai-nilai etika dan kemanusian.

Ketika Rahmah Fajria, S.Sos, Pustakawan Muda Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Lima Puluh Kota, meminta kesediaan saya untuk berbagi kiat dan bimbingan menulis kepada WBP di Lapas Suliki, saya justru balik bertanya. Apakah ini serius?

Sejak belasan tahun menjadi motivator dan instruktur menulis jurnalistik mau pun karya sastra, sudah diikuti puluhan ribu peserta (pelajar, mahasiswa, guru, karyawan Perbankan, Humas dan wartawan), baru kali ini saya diminta untuk berbagai dengan WBP di Lapas.
“Kami ingin memberikan tambahan bekal dan pengalaman kepada WBP, Pak,” kata Nuryati Noy, Ketua Dharmawanita Lapas Suliki, sembari menyebutkan, WBP di Lapas Suliki butuh wadah agar mereka bisa melepaskan kegalauannya, rasa gundah gulana, gemuruh yang ada di dada dan pikirannya.

“Semoga ada yang mau pula mendengarkan impian-impian mereka untuk masa masa depan,” kata Kamesworo, Kepala Lapas Kelas III Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota.
Tema yang diusung untuk pelatihan menulis tersebut, sangatlah menggoda. Pena di balik Jeruji, Wujudkan Mimpi. Pelatihan diikuti 40 peserta. Naskah tersebut akan dikemas menjadi sebuah kumpulan kisah para WBP. Kegiatan ini sejalan dengan momentum peringatan Sumpah Pemuda, dilaksanakan Rabu (25/10).

Saat di tengah-tengah WBP memberikan materi, saya sangat bersemangat, sebab keingintahuan mereka terhadap langlah-langkah praktis menulis, sangat luar biasa. Saya berikan motivasi mengapa kita harus menulis. Apa manfaatnya jika seseorang memiliki kemampuan menulis. Bagaimana langkah memulai menulis.

Saya beberkan semua seluk beluknya. Mulai dari mempersiapkan diri, menemukan ide tulisan, bagaimana menghimpun kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf sehingga terciptalah sebuah naskah.

Saya memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya disaat materi diberikan, sehingga tidak harus menunggu saya menyelesaikan materi terlebih dahulu. Saya “diserang” dengan banyak pertanyaan. Apalagi ketika Bunda Literasi Kabupaten Limapuluh Kota Ny Nevi Safaruddin, Kepala Lapas Suliki Kamesworo, Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Limapuluh Kota Radimas S.Pd, anggota DPRD Limapuluh Kota Doni, Pustakawan Muda Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab Limapuluh Kota Rahmah Fajria S.Sos, memberikan hadiah spontan untuk setiap peserta yang bertanya mau pun menjawab pertanyaan.

Saya tak mau kalah. Sejumlah buku karya saya dan buku lain, memang sengaja saya bawa. Tujuannya untuk dijadikan sebagai hadiah kepada peserta yang aktif, seperti kebiasaan disetiap sesi saya menjadi pemateri pelatihan. Sejumlah buku saya bagikan.

Menariknya ada sejumlah peserta yang bertanya atau menjawab berulang kali, padahal panitia sudah menyampaikan, bagi yang sudah mendapat hadiah, namun masih bertanya atau menjawab, tak diberi hadiah tambahan. Tetapi mereka tak peduli. Mereka masih tetap bertanya dan menjawab. Mereka sangat antusias. Mereka tak mempedulikan hadiah spontan itu lagi. Tak jarang sekali menunjuk empat hingga tujuh orang.
Setelah materi diberi, lalu semua peserta diberi waktu selama 1.5 jam untuk menulis, minimal 700 kata. Lima menit menjelang azan Zuhur, kegiatan dihentikan untuk sementara.

Salat berjamaah dulu. Setelah itu, semua WBP apel siang. Dilanjutkan makan bersama. Ketika kembali ke ruang pelatihan, saya memancing mereka.
“Adakah yang sudah selesai tulisannya?”
Sejumlah peserta menjawab dalam versi berbeda. Ada yang mengatakan belum. Ada yang sudah. Saya minta kepada yang belum untuk melanjutkan.

“Bagi yang sudah selesai, siapa yang tampil pertama untuk membacakan naskahnya?” pancing saya.

Ada tiga orang yang mengacungkan tangan. Saya meminta salah satu diantaranya, kemudian duanya lagi saya urut untuk kedua dan ketiga.
Sesi ini sangat meriah. Ada tepuk tangan. Gelak dan tawa. Ada canda yang menimpali satu sama lain.

Tulisan yang dibuat sebahagian besar adalah tentang diri si penulis bersangkutan, tetapi juga ada cerita tentang kawan sesama WBP. Ada sisi baik dan agak kurang elok tentang teman yang diceritakan, tetapi teman yang diceritakan justru tertawa terpingkal-pingkal. WBP yang tidak ikut pelatihan, namun mengikuti suasana pelatihan dari balik selnya, memberikan sorakan gemuruh. Mereka tertawa bersama.

Sebuah tulisan diantaranya, menyebutkan terang-terangan nama tokoh dalam kisahnya. Semua tertawa dan memberikan tepuk tangan meriah selama penulisnya membacakan kisah tersebut. Di balik jeruji lain, ada seseorang yang tertawa, begitu pun yang lain. Kecurigaan saya muncul.

“Apakah nama tokoh dalam kisah yang dibacakan ada di sini?” tanya saya pada seorang peserta.

Ia mengangguk sembari tak henti-hentinya menahan tawa sambil bertepuk tangan, seperti yang lain. Ia kemudian menunjuk pada seseorang yang duduk di depan sebuah sel.

“Nama dikisah tersebut, orangnya yang pakai baju merah, celana kuning itu,” katanya memberikan penjelasan.
Ternyata orang dimaksud adalah lelaki yang sempat saya perhatikan sebelumnya. Beliau tidak ikut menjadi peserta, namun ketika naskah itu dibacakan oleh penulisnya, sosok yang dijadikan tokoh kisah itu ada di Lapas tersebut. Sesama warga binaan, baik peserta mau pun yang bukan peserta, begitu pun audiens lainnya, tertawa terpingkal-pingkal.

Tak berselang lama, ketika naskah itu masih dibacakan, lelaki tersebut justru datang ke area pelatihan. Di tangannya ada ompreng. Beliau berdiri di sisi penulis yang sedang membacakan naskahnya. Sang penulis membacakan kisahnya di depan sebuah podium.
Selesai naskah dibacakan, tepuk tangan semakin meriah. Nuryati Noy memberikan sepiring kue kepada penulisnya. Ia memotong menjadi dua bagian. Satu potongan diberikan kepada tokoh dalam kisah yang membawa ompreng tersebut dengan disuapkan. Semua memberikan tepuk tangan.

Kemudian lelaki yang membawa ompreng mengambil piring yang masih berisi sepotong lagi. Ia kemudian menyuapkan pula kepada penulis naskah tersebut.

Suasana kembali bergemuruh. Ada yang tertawa terpingkal-pingkal.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengawasan Perpustakaan dan Kearsipan Kab Limapuluh Kota Srisaparmi ST, memberikan hadiah spontan kepada sang penulis, namun Ia berpesan agar hadiah tersebut dibagi dua, sebab tulisan bagus tersebut terinspirasi dari teman bersangkutan. Keduanya tertawa, apalagi sosok yang dijadikan tokoh dalam cerita.
Keduanya sepakat dan saling memberikan tosan.

Ada juga naskah yang membuat semua terpaku, terdiam, seakan menahan nafas disaat naskah tersebut dibacakan. Suasana hening. Ada mata yang berkaca-kaca menyimak kisah tersebut. Semua seakan dibawa masuk dalam kisah dan gemuruh rasa yang dimilikinya. Semua baru tersadar setelah naskah itu selesai dibacakan.

Bagi saya, bekal menulis yang diberikan Lapas Suliki kepada WBP, merupakan langkah yang tak biasa, tapi diyakini akan memiliki efek luar biasa. Saya menyimak dengan seksama penjelasan Kepala Lapas Kamesworo. Ada celah penting yang terlihat oleh beliau. Kemampuan menulis adalah sebuah kemampuan khusus, disaat Warga Binaan sudah memiliki kemampuan khusus tersebut, maka akan ada manfaatnya untuk masa depan yang masih panjang.

Seseorang yang memiliki kemampuan khusus di bidang menulis, tidak dimaksudkan untuk menjadikannya sebagai wartawan atau sastrawan, tetapi kemampuan menulis bisa dikembangkan untuk kebutuhan lain. Apalagi saat ini, tuntutan kehidupan membutuhkan kemampuan menulis.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas. Ribuan atau mungkin jutaan buku telah hadir di Lapas (lebih populer disebut dengan Penjara), buku-buku tersebut tak hanya menjadi milik penulis atau keluarganya atau lingkungan mereka di balik jeruji besi saja, tetapi tersebar sampai ke berbagai pelosok. Sangat banyak buku yang ditulis di penjara menjadi bacaan banyak orang, dan menjadi inspirasi yang mampu melintasi waktu dan benua.

Bupati Limapuluh Kota Safaruddin Dt Bandaro Rajo, saat membuka acara tersebut, memberikan apresiasi luar biasa. Katanya, kegiatan ini mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain, namun efeknya sangatlah luar biasa bagi WBP.
Bupati menyampaikan salam salut terhadap terobosan Kalapas Suliki beserta seluruh staf. Salam salut luar biasa kepada WBP yang menjadi peserta dan mengikuti kegiatan dengan penuh semangat.

Saya juga menyampaikan terima kasih kepada Kalapas Suliki Kamesworo dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Limapuluh Kota serta panitia yang memberikan kepercayaan kepada saya untuk berbagi dengan Warga Binaan Pemasyarakatan di Lapas Suliki.
Semoga semua yang dilakukan diberkahi Allah.

Penulis adalah Wartawan Utama, Sastrawan, Instruktur Menulis dan Youtuber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.