LKAAM Sumbar Himpun 5,1 Ton Rendang untuk NTT, Diangkut Hercules TNI AU

Ketua LKAAM Sumatera Barat Prof. Dr. H. Fauzi Bahar Datuk Nan Sati, M.Si turut mengangkat bingkisan rendang dari kantor LKAAM ke truk yang telah di sediakan TNI AU untuk di berangkatkan dengan pesawat Hercules menuju NTT.
Ketua LKAAM Sumatera Barat Prof. Dr. H. Fauzi Bahar Datuk Nan Sati, M.Si turut mengangkat bingkisan rendang dari kantor LKAAM ke truk yang telah di sediakan TNI AU untuk di berangkatkan dengan pesawat Hercules menuju NTT.

Padang, rakyatsumbar.id — Pagi itu, halaman kantor Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat tidak seperti biasanya. Kardus-kardus berisi rendang tersusun dan terus berpindah dari tangan ke tangan.

Di satu sisi, prajurit TNI AU bergerak cepat mengatur pengangkutan. Di sisi lain, sejumlah ibu-ibu mengenakan pakaian adat Minangkabau ikut bekerja mengangkat bantuan tersebut menuju truk militer.

Di tengah kesibukan itu, Ketua LKAAM Sumatera Barat Prof. Dr. H. Fauzi Bahar Datuk Nan Sati, M.Si., juga turun langsung. Ia ikut mengangkat kardus demi kardus berisi rendang bersama para prajurit.

Pemandangan tersebut seakan menjadi gambaran sederhana tentang sebuah pesan besar, ketika saudara sebangsa sedang tertimpa bencana, jarak ribuan kilometer bukan alasan untuk berpangku tangan.

Sebanyak 5,1 ton rendang yang dihimpun LKAAM Sumatera Barat bersama Gebu Minang kemudian diberangkatkan menuju Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bantuan pangan itu diangkut menggunakan pesawat Hercules TNI AU agar dapat segera tiba di wilayah yang masyarakatnya masih menghadapi dampak bencana.

Bagi masyarakat Minangkabau, rendang tentu bukan sekadar makanan. Di balik cita rasa dan proses pembuatannya, terdapat nilai kebersamaan, ketekunan dan tradisi badunsanak. Kali ini, nilai tersebut ikut diterbangkan keluar dari Ranah Minang.

Rendang menjadi bahasa kepedulian, dikirim bukan hanya untuk mengisi kebutuhan pangan, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa masyarakat NTT tidak sendirian menghadapi masa sulit.

Fauzi Bahar mengatakan, kepedulian tersebut lahir dari pengalaman masyarakat Sumatera Barat ketika menghadapi bencana. Saat Ranah Minang berada dalam situasi sulit, bantuan dari berbagai daerah di Indonesia menjadi salah satu sumber kekuatan bagi masyarakat untuk bangkit.

“Kami pernah menerima bantuan bencana dari berbagai provinsi di Indonesia. Kami tahu bagaimana rasanya berada dalam bencana. Mungkin bantuan yang kita berikan ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak bencana gempa bumi di NTT,” ujar Fauzi, Sabtu (22/08/2026).

Bantuan tersebut diberangkatkan di tengah situasi kebencanaan yang masih berlangsung di NTT. Pada Kamis (20/8/2026) pukul 15.01.33 WIB, wilayah Flores diguncang gempa tektonik bermagnitudo 5,0.

Berdasarkan analisis BMKG yang tercantum dalam bahan laporan, pusat gempa berada di laut, sekitar 47 kilometer arah timur laut Ruteng, Manggarai, dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa dangkal tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust dan tidak berpotensi tsunami.

Sebelumnya, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 dilaporkan menimbulkan dampak besar. Dalam data yang menjadi bahan laporan, sebanyak 83 orang meninggal dunia, 986 orang mengalami luka-luka dan sekitar 110.785 warga harus mengungsi.

Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada puluhan ribu rumah, fasilitas umum, sarana ibadah, jalan hingga saluran irigasi.

Dampaknya turut dirasakan dunia pendidikan. Sebanyak 1.378 satuan pendidikan dilaporkan terdampak, dengan sejumlah bangunan sekolah mengalami kerusakan.

Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan dasar, terutama pangan bagi masyarakat yang masih berada di pengungsian, menjadi bagian penting dari penanganan pascabencana.

Karena itu, bagi Fauzi, pengiriman 5,1 ton rendang bukan sekadar kegiatan sosial. Bantuan tersebut merupakan bentuk nyata solidaritas masyarakat Sumatera Barat untuk saudara-saudara mereka di NTT. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada TNI AU yang membantu mengangkut bantuan dalam jumlah besar tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada TNI AU dan khususnya Lanud Sutan Syahrir, Padang. Bantuan dari TNI AU sangat dibutuhkan dalam membawa 5,1 ton rendang ini langsung ke NTT,” katanya.

Dibawah terik matahari Padang, proses pemindahan kardus terus berlangsung. Prajurit dengan seragam militernya, ibu-ibu dalam balutan pakaian adat Minangkabau dan jajaran LKAAM bekerja tanpa banyak bicara.

Mereka berada dalam satu irama, mengangkat, memindahkan dan memastikan bantuan siap diberangkatkan.

Dari Padang, rendang itu kemudian menempuh perjalanan melalui udara menuju NTT. Makanan yang selama ini identik dengan rumah makan, perayaan dan tradisi Minangkabau, kali ini Ia menjadi bekal bagi mereka yang sedang bertahan di tengah situasi bencana sekaligus simbol persaudaraan lintas pulau. (edg)