Dua Korban Keracunan MBG di Pariaman Dirujuk ke M Djamil

Bupati Padangpariaman John Kenedy Azis saat melakukan pengecekan terhadap Dapur SPPG di Kabupaten Padangpariaman, Selasa (15/09/2026).
Bupati Padangpariaman John Kenedy Azis saat melakukan pengecekan terhadap Dapur SPPG di Kabupaten Padangpariaman, Selasa (15/09/2026).

Pariaman, rakyatsumbar.id—Kasus keracunan dipicu setelah mengkonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan Madrasah Tsanawiyah Negeri I Kota Pariaman nampaknya terus berkembang.

Berdasarkan data yang dihimpun melalui Kepala MTsN I Kota Pariaman, Tarmizi, diketahui jumlah korban terus bertambah. Tercatat data terakhir jumlah siswa yang terdampak mencapai 127 orang.

Para korban tercatat tidak hanya berasal dari Kota Pariaman saja, namun juga ada yang berasal dari Kabupaten Padangpariaman.

“Gejalanya memang tidak sama antara satu anak dengan anak lainnya. Diantaranya, ada yang mengalami gejala keracunan, seperti mual hingga muntah ketika sesampainya di rumah. Namun terbanyak mengalami saat masih berada di sekolah, atau beberapa saat setelah mengkonsumsi menu MBG tersebut,” terangnya.

Tarmizi juga menyebutkan jika seluruh korban telah mendapatkan perawatan seperlunya oleh tim medis, di Kota Pariaman.

Wali Kota Pariaman sendiri sebutnya, juga langsung turun memantau dan mengomandoi penanganan para korban.

“Berdasarkan perkembangan terakhir yang kita terima, terdapat empat anak yang masih dirawat di rumah sakit di Kota Pariaman, sementara dua korban lainnya yang menunjukkan gejala yang makin mengkhawatirkan dengan gejala kondisi fisik dan nadi melemah saat ini telah dirujuk ke RSUD M.Djamil Padang.

Dari pihak sekolah, lanjutnya, terus aktif memantau serta memonitor perkembangan para korban yang masih menjalani perawatan. Informasi yang kita terima dari orang tua korban, kedua korban yang dirujuk ke Padang, baru saja menjalani penanganan medis di ruang ICU RSUD M Djamil Padang.

“Kabarnya baru saja mereka segera di pindahkan ke ruangan perawatan di rumah sakit tersebut,” sebutnya.

Tidak ketinggalan pula, untuk membantu meringankan beban biaya para keluarga korban selama berada di rumah sakit di Kota Padang, pihaknya bersama guru-guru di MTsN I Kota Pariaman telah sepakat menghimpun dana secara sukarela, selanjutnya dana yang berhasil terhimpun akan disalurkan membantu biaya korban dan keluarganya.

“Informasi yang kita terima, para korban berasal dari keluarga kalangan ekonomi kurang mampu, makanya mereka tentu sangat membutuhkan uluran bantuan berbagai pihak. Terutama biaya bolak balik dari Pariaman ke Kota Padang, atau sebaliknya,” terang Tarmizi lagi.

Operasional SPPG Dihentikan Sementara

Di pihak lain, guna melakukan evaluasi menyeluruh terkait kasus gejala keracunan yang terjadi, maka atas intruksi Walikota Pariaman, aktivitas SPPG yang biasa melayani menu MBG di MTsN I Kota Pariaman dihentikan atau di stop sementara waktu.

“Makanya untuk sementara ini kegiatan MBG di sekolah ini praktis distop sementara. Hal itu memang perlu dilakukan sebagai langkah evaluasi menyeluruh terhadap kegiatan MBG, khususnya terkait kejadian gejala keracunan yang dialami para siswa di madrasah ini,” terang Tarmizi lagi.

Bupati Cek Lansung Dapur SPPG

Tak ingin pelaksanaan program pemenuhan gizi berjalan hanya sebatas laporan administratif, Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis turun langsung mengecek kondisi dan operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Bersama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman dan jajaran, Bupati melakukan peninjauan langsung ke sejumlah SPPG di Kabupaten Padang Pariaman, Selasa (15/09/2026). Tiga SPPG yang dikunjungi yakni SPPG Ketaping, SPPG Anduang Sintuk dan SPPG Lubukalung.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh proses penyediaan makanan bagi penerima manfaat benar-benar memenuhi standar kebersihan, keamanan pangan, higiene dan sanitasi.

Satu per satu tahapan diperiksa Bupati, mulai dari penerimaan bahan pangan, penyimpanan, proses pengolahan, hingga makanan siap disajikan dan didistribusikan kepada penerima manfaat.

Bupati tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga memastikan bagaimana dapur SPPG dikelola dari hulu hingga hilir. Sebab, menurutnya, kualitas dan keamanan makanan merupakan bagian yang tidak boleh ditawar dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi masyarakat.

Dalam peninjauan tersebut, masih ditemukan sejumlah hal yang perlu segera dibenahi oleh pengelola SPPG. Di antaranya kondisi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang dinilai belum layak dan belum sesuai ketentuan, serta pengelolaan sisa bahan makanan dan limbah pengolahan yang masih perlu diperbaiki.

Selain itu, ditemukan pula sisa bumbu basah yang masih disimpan, serta minyak jelantah dan sisa hasil penggorengan yang membutuhkan penanganan dan pengelolaan lebih sesuai dengan prinsip keamanan pangan dan sanitasi.

Temuan tersebut menjadi perhatian serius Bupati. Ia meminta pengelola SPPG tidak menganggap remeh persoalan kebersihan, sanitasi maupun pengelolaan limbah, karena seluruh aspek tersebut berkaitan langsung dengan keamanan makanan yang dikonsumsi masyarakat.

“Jangan sampai kita kecolongan. Program ini menyangkut gizi dan kesehatan masyarakat. Karena itu, semua prosesnya harus benar-benar kita pastikan aman, bersih dan sesuai standar,” tegas Bupati.

Bupati juga meminta agar setiap temuan di lapangan segera ditindaklanjuti. Pengelola SPPG diminta melakukan pembenahan terhadap sarana dan tata kelola yang belum sesuai, termasuk aspek IPAL, penyimpanan bahan dan sisa makanan, serta pengelolaan minyak jelantah dan limbah penggorengan. (ris)