Pohon yang menjulang tinggi tidak pernah tumbuh tanpa akar. Di balik batang yang kokoh dan dahan yang merentang ke langit, ada akar yang diam-diam bekerja, mencengkeram tanah, menyerap kehidupan, menjaga keseimbangan dan memastikan pohon tetap hidup dan berkembang menghadapi perubahan musim.Begitu pula Universitas Andalas (UNAND).
Tujuh puluh tahun perjalanan UNAND bukan sekadar kisah tentang bertambahnya gedung, fakultas, program studi, mahasiswa maupun guru besar. Di balik perjalanan itu ada sejarah panjang, pergulatan zaman, nilai-nilai yang dipertahankan, sekaligus keberanian untuk terus bergerak menuju masa depan. Karena itu, “Tumbuh Berakar, Menjulang Berdampak” menjadi tema dalam peringatan 70 tahun Universitas Andalas.
Tema ini menggambarkan perjalanan sekaligus arah masa depan Universitas Andalas. Sekretaris Universitas Andalas, Dr. Aidinil Zetra, S.IP, M.A, saat ditemui di ruang kerjanya di Gedung Rektorat UNAND lantai 4, Rabu (2/9) sore, mengatakan setiap kata dalam tema tersebut memiliki makna.
“Tumbuh” berarti Universitas Andalas adalah institusi yang terus berkembang, belajar, dan memperbarui dirinya. “Berakar” berarti setiap pertumbuhan itu mempunyai fondasi yang kuat, sejarah, integritas akademik, nilai budaya Minangkabau, karakter Andalasian, serta komitmen kepada bangsa.
Sementara “menjulang” menggambarkan keberanian UNAND meningkatkan kualitas dan reputasinya hingga tingkat global. Namun, ketinggian sebuah universitas tidak cukup diukur dari ranking, publikasi, atau banyaknya gelar akademik. Karena itu, kata terakhirnya adalah “berdampak”. Ilmu pengetahuan harus kembali kepada masyarakat dalam bentuk solusi, inovasi, kebijakan, peningkatan kesejahteraan, dan kualitas kehidupan.
“Jadi tema ini sengaja dipilih karena pada usia 70 tahun pertanyaan bagi UNAND tidak cukup hanya seberapa besar UNAND telah tumbuh, tetapi seberapa jauh keberadaan UNAND dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” jelasnya.
Filosofi “berakar” dan “menjulang” menggambarkan perjalanan UNAND dari masa ke masa.
“Kita dapat membayangkan UNAND sebagai pohon Andalas. Pohon yang ingin menjulang tinggi harus mempunyai akar yang semakin kuat. Bagi UNAND, akar itu adalah sejarah kelahirannya, nilai keilmuan, integritas, pengabdian, kebudayaan Minangkabau, dan komitmen kebangsaan,” tuturnya.
UNAND lahir dari aspirasi masyarakat untuk menghadirkan pusat ilmu pengetahuan di Sumatera. Nama “Universitas Andalas” sendiri merujuk kepada Pulau Sumatera dan diusulkan Wakil Presiden Mohammad Hatta.
Sejak awal, kampus ini dibangun dengan semangat mencerdaskan bangsa. Itulah sebabnya lokalitas bagi UNAND bukan sekadar tempat berdiri sebuah kampus. Minangkabau dan Sumatera adalah akar identitasnya.
Namun akar tidak berarti membatasi gerak. Justru dari akar itulah UNAND ingin tumbuh untuk Indonesia dan menjulang untuk memberikan kontribusi kepada dunia.
“Menjulang adalah keberanian untuk menetapkan standar yang lebih tinggi. UNAND tidak boleh puas menjadi besar di Sumatera atau dikenal di Indonesia. Kita harus meningkatkan kualitas agar karya akademik UNAND diperhitungkan dunia,” jelasnya.
Tetapi kata yang paling menentukan justru “berdampak”. Menjulang tanpa berdampak hanya menghasilkan prestise. Karena itu, semakin tinggi reputasi UNAND, seharusnya semakin luas manfaat yang diberikan.
“Bagi saya, filosofi 70 tahun UNAND dapat diringkas demikian. Akar memberi kita identitas. Pertumbuhan memberi kita kekuatan. Menjulang memberi kita horizon. Dampak memberi seluruh perjalanan itu makna.Itulah arah Universitas Andalas setelah 70 tahun,” terangnya.
“Kita berakar di Minangkabau dan Sumatera, bertumbuh untuk Indonesia, dan menjulang untuk berkontribusi kepada dunia,” ungkap Aidinil di tengah kesibukannya sore itu.
Kalimat tersebut sekaligus menggambarkan bagaimana UNAND melihat masa depannya. Lokal dalam identitas, nasional dalam pengabdian, dan global dalam kontribusi.
Beberapa Tonggak Besar Perjalanan UNAND Selama 70 Tahun
Pertama, kelahiran Universitas Andalas pada 13 September 1956 dan peresmiannya oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta. Kedua, kemampuan UNAND bertahan melewati pergolakan politik akhir 1950-an dan kemudian membangun kembali aktivitas akademiknya.
Ketiga, pembangunan Kampus Limau Manis yang memperkuat UNAND sebagai universitas besar dan terintegrasi. Keempat, perkembangan disiplin ilmu hingga sekarang mencakup 15 fakultas dan Sekolah Pascasarjana.
Kelima, perubahan status kelembagaan hingga menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum atau PTN-BH pada 31 Agustus 2021, yang memberikan ruang lebih luas bagi universitas untuk mengembangkan otonomi, inovasi, kemitraan, dan sumber pendanaan.
“Sekarang kita memasuki tonggak berikutnya, transformasi menuju universitas berkelas dunia yang berdampak,” terangnya.
Sejak awal berdiri hingga menjadi perguruan tinggi seperti sekarang, UNAND mengalami perubahannya sangat besar.
UNAND bermula dari lima fakultas yang tersebar di beberapa kota di Sumatera Barat. Hari ini UNAND telah berkembang menjadi universitas multidisiplin dengan 15 fakultas dan Sekolah Pascasarjana, rumah sakit pendidikan, berbagai pusat penelitian, laboratorium, jejaring nasional dan internasional, serta lebih dari 36 ribu mahasiswa.
Saat ini Universitas Andalas memiliki 15 fakultas dan 1 Sekolah Pascasarjana. UNAND memiliki 154 program studi sarjana dan pascasarjana dan lebih dari 36.000 mahasiswa aktif, dengan 229 guru besar.
Pada tahun akademik 2026/2027 saja, UNAND menerima 7.602 mahasiswa baru dari lebih dari 75 ribu peminat. Tak hanya itu, pendaftar mahasiswa Internasional juga terus meningkat, pada tahun 2026 sebanyak 1.590 orang dari 51 negara.
“Angka tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat kepada Universitas Andalas. Bagi kami, semakin besar kepercayaan yang diberikan masyarakat, semakin besar pula tanggung jawab UNAND untuk mengubah kepercayaan itu menjadi kualitas, karya, dan dampak,” terangnya.
Tetapi perubahan paling penting bukan ukuran fisiknya. Yang sedang berubah adalah cara UNAND memahami perannya.
“Dulu universitas terutama dipandang sebagai tempat pendidikan tinggi. Sekarang universitas harus menjadi pusat pengetahuan, inovasi, pengembangan teknologi, kewirausahaan, pemikiran kebijakan, dan penyelesaian berbagai persoalan masyarakat,” jelasnya.
Sejarah UNAND Justru Menunjukkan Daya Tahannya
Pada akhir 1950an, pergolakan daerah menyebabkan aktivitas akademik terganggu dan beberapa fakultas harus dipindahkan. UNAND kemudian bangkit dan membangun kembali kehidupan akademiknya.
Pada periode berikutnya tantangannya berubah, keterbatasan infrastruktur, perubahan tata kelola pendidikan tinggi, kompetisi nasional dan global, pandemi, disrupsi digital, hingga sekarang perkembangan AI.
Pelajaran terpenting dari perjalanan itu adalah bahwa institusi yang bertahan bukan institusi yang tidak mengalami krisis, melainkan institusi yang mampu belajar dan beradaptasi tanpa kehilangan nilai dasarnya.
Itulah salah satu makna “berakar” bagi UNAND.
Nilai yang harus terus dijaga UNAND selama tujuh dekade adalah integritas akademik, kebebasan berpikir yang bertanggung jawab, pengabdian kepada masyarakat, penghormatan terhadap nilai budaya, serta ilmu pengetahuan yang digunakan untuk kemaslahatan.
UNAND juga memiliki karakter Andalasian yang menempatkan ilmu, amal, kehidupan sosial, dan nilai spiritual sebagai bagian dari pembentukan manusia.
Kampus boleh berubah secara teknologi, organisasi, dan infrastruktur. Tetapi universitas akan kehilangan maknanya jika kehilangan integritas dan keberpihakannya kepada kemanusiaan.
“Dalam 10 tahun terakhir UNAND banyak menorehkan capaian yang paling membanggakan. Saya kira kita harus melihatnya sebagai proses transformasi. UNAND telah menjadi PTN-BH, memperkuat jumlah dan kualitas program studi, meningkatkan jumlah guru besar, memperluas akreditasi internasional, meningkatkan produktivitas riset, membangun kolaborasi internasional, dan memperkuat hilirisasi inovasi.
Pada 2026 Unand memiliki sekitar 229 guru besar. Dalam bidang penelitian dan pengabdian, UNAND juga berada pada Klaster Mandiri, yaitu klaster tertinggi perguruan tinggi berdasarkan kinerja penelitian dan pengabdian.
Di tingkat global, posisi Unand dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026 meningkat ke kelompok 401-600 dunia, dari 601-800 pada tahun sebelumnya.
“Yang membanggakan bagi kami adalah bahwa indikator tersebut mulai bergerak menuju satu arah yang sama, peningkatan kualitas sekaligus peningkatan dampak,” ungkapnya.
Strategi Menghadapi Perkembangan Teknologi
Dalam menghadapi perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau AI (Artificial intelligence), UNAND melihat AI sebagai perubahan fundamental dalam cara manusia belajar, meneliti, bekerja, dan mengambil keputusan.
“Strategi kita bukan melarang atau sekadar mengikuti AI, tetapi membangun kemampuan untuk menggunakan, mengembangkan, dan mengawalnya secara bertanggung jawab,” jelas Aidinil.
“AI perlu diintegrasikan dalam pembelajaran, penelitian, administrasi, analisis data, dan pelayanan universitas. Pada saat yang sama kita harus memperkuat literasi AI, integritas akademik, keamanan data, etika, serta kemampuan berpikir kritis,” tambahnya.
Ia menyampaikan, UNAND pada 2026 telah menjalankan pelatihan pemanfaatan AI bagi dosen dan tenaga kependidikan serta memperkuat kolaborasi teknologi untuk transformasi digital.
“Ada satu prinsip yang penting, semakin cerdas teknologi yang kita gunakan, semakin penting kualitas manusia yang menggunakannya. Karena itu AI harus memperkuat kecerdasan manusia, bukan melemahkan daya kritis manusia,” ungkapnya.
Dampak nyata yang ingin ditunjukkan UNAND
UNAND lahir dari masyarakat Sumatera Barat, berkembang bersama masyarakatnya, dan mempunyai tanggung jawab moral untuk ikut menyelesaikan persoalannya.
Kontribusinya hadir melalui penyediaan sumber daya manusia, pelayanan kesehatan, riset pertanian dan pangan, peternakan, teknologi, ekonomi, hukum, sosial-politik, kebudayaan, kebencanaan, lingkungan, hingga penyusunan kebijakan publik.
“Kami ingin memperkuat posisi UNAND sebagai knowledge hub Sumatera Barat, yaitu pusat pengetahuan tempat pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan komunitas dapat bertemu dengan akademisi untuk mencari solusi berdasarkan ilmu pengetahuan,” jelasnya.
Kontribusi UNAND yang paling dirasakan langsung oleh masyarakat dan paling mudah terlihat tentu lulusan UNAND yang bekerja di berbagai sektor. Tetapi kontribusi langsung UNAND jauh lebih luas.
Ada pelayanan kesehatan melalui rumah sakit dan tenaga kesehatan, pendampingan UMKM dan nagari, teknologi pertanian dan peternakan, pemberdayaan masyarakat, konsultasi hukum, mitigasi bencana, inovasi pangan, rekomendasi kebijakan, pengembangan komoditas lokal, serta berbagai program pengabdian.
“Ke depan kami ingin pengabdian kepada masyarakat semakin terintegrasi dengan penelitian. Masalah masyarakat menjadi sumber pertanyaan ilmiah, kemudian hasil penelitian kembali kepada masyarakat sebagai solusi,” ujarnya.
Alumni merupakan salah satu bentuk dampak UNAND yang paling luas. Selama tujuh dekade, alumni UNAND telah bekerja dan memimpin dalam pemerintahan, pendidikan, kesehatan, hukum, bisnis, industri, politik, teknologi, lembaga masyarakat, serta berbagai organisasi nasional dan internasional.
“Bagi kami, reputasi universitas pada akhirnya dibawa oleh perilaku alumninya. Karena itu kami ingin lulusan UNAND dikenal melalui tiga kualitas: kompeten dalam profesinya, berintegritas dalam tindakannya, dan bermanfaat bagi lingkungannya,” ungkapnya.
Riset atau inovasi UNAND yang berhasil memberikan solusi bagi persoalan masyarakat sangat banyak, dan salah satu contoh menarik adalah inovasi berbasis gambir, komoditas yang sangat dekat dengan Sumatera Barat.
Peneliti UNAND mengembangkan tinta Pemilu berbasis gambir yang kemudian digunakan secara luas pada Pemilu 2024. Sekarang UNAND juga mendorong pengembangan hilirisasi gambir untuk menghasilkan produk bernilai tambah.
“Ini menggambarkan model yang ingin kami kembangkan. Potensi lokal diteliti dengan ilmu pengetahuan, dikembangkan menjadi inovasi, kemudian dihilirisasi agar menghasilkan nilai ekonomi dan sosial. Ke depan pola seperti ini akan diperkuat pada pangan, kesehatan, energi, kebencanaan, digitalisasi, lingkungan, dan berbagai bidang unggulan lainnya,” terangnya.
UNAND memposisikan diri sebagai kampus yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami ingin mengembangkan paradigma university as a problem solver, universitas sebagai bagian dari penyelesaian masalah. Artinya keberhasilan fakultas dan peneliti tidak berhenti pada jumlah publikasi. Kita perlu bertanya apakah pengetahuan tersebut digunakan, apakah inovasinya diadopsi, apakah kebijakan menjadi lebih baik, apakah industri berkembang, dan apakah kehidupan masyarakat meningkat,” jelasnya lagi.
Aidinil menyebutkan, karena itu pendidikan, penelitian, inovasi, hilirisasi, dan pengabdian harus berada dalam satu ekosistem. Kampus yang hebat menghasilkan pengetahuan. Kampus yang berdampak membuat pengetahuan itu bekerja untuk kehidupan.
“Dampak nyata yang ingin ditunjukkan UNAND kepada masyarakat melalui momentum 70 tahun ini, kami ingin masyarakat melihat UNAND melalui tiga ukuran sederhana, masalah apa yang dapat kami bantu selesaikan, kehidupan siapa yang menjadi lebih baik, dan perubahan apa yang dapat kami tinggalkan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, karena itu dampak UNAND harus hadir melalui lulusan yang berintegritas, riset yang menyelesaikan persoalan nyata, inovasi yang dapat digunakan masyarakat dan industri, pengabdian yang meningkatkan kapasitas masyarakat, serta pemikiran akademik yang membantu pemerintah menghasilkan kebijakan publik yang lebih baik.
Visi besar UNAND ke depan
Terkait visi besar UNAND untuk 10-20 tahun mendatang, Aidinil menyebutkan adalah membawa perguruan tinggi tersebut semakin dekat kepada World Class University tanpa kehilangan karakter dan tanggung jawab sosialnya.
Untuk menuju ke sana, UNAND harus memperkuat academic excellence, internasionalisasi, riset kelas dunia, transformasi digital, kualitas sumber daya manusia, jejaring global, serta hilirisasi inovasi.
“Namun bagi kami, World Class University bukan sekadar posisi dalam ranking internasional. Universitas kelas dunia harus mampu menghasilkan pengetahuan yang diperhitungkan dunia sekaligus menyelesaikan persoalan masyarakat tempat universitas itu tumbuh,” jelasnya.
Dies Natalis ke-70 harus menjadi momentum pergeseran orientasi dari sekadar academic output menuju academic impact, yaitu ilmu pengetahuan yang menghasilkan perubahan nyata.
“Setelah 70 tahun, kami ingin Universitas Andalas dikenal sebagai universitas berkelas dunia yang berakar kuat pada nilai, unggul dalam ilmu pengetahuan dan inovasi, serta nyata dampaknya bagi masyarakat. Kita ingin ketika orang mendengar nama Universitas Andalas, yang muncul adalah tiga asosiasi, integritas, keunggulan, dan dampak. Kami juga ingin menunjukkan bahwa universitas dari Sumatera dapat mempunyai akar lokal yang sangat kuat sekaligus mempunyai reputasi dan kontribusi global,” terangnya.
Ia menambahkan, setelah memasuki usia 70 tahun, pekerjaan rumah terbesar UNAND adalah mengubah potensi besar menjadi kinerja dan dampak yang konsisten.
“Kita memiliki SDM, mahasiswa, alumni, lahan yang luas, fasilitas, rumah sakit, laboratorium, jejaring, dan kekayaan intelektual yang besar. Tantangannya adalah menghubungkan seluruh kekuatan itu menjadi sebuah ekosistem yang produktif,” jelasnya.
“Kita harus mempercepat internasionalisasi, meningkatkan kualitas riset, memperkuat pendanaan di luar sumber konvensional, membangun budaya kerja yang lebih agile (lincah dan adaptif), mempercepat transformasi digital, serta meningkatkan hilirisasi hasil penelitian,” tambahnya.
“Pada usia 70 tahun, ukuran keberhasilan kita harus semakin bergeser dari berapa banyak yang kita miliki menjadi seberapa besar yang dapat kita hasilkan dan dampakkan,” ungkapnya.
UNAND terus memberikan manfaat lebih luas
Momentum peringatan 70 Tahun UNAND tidak hanya dirayakan dengan seremoni. Berbagai kegiatan akademik, sosial, kesehatan, lingkungan, pengabdian kepada masyarakat, kuliah umum, konferensi internasional, hingga olahraga seperti UNAND Run dan jalan sehat menjadi bagian rangkaian Lustrum XIV tersebut.
Rektor UNAND Efa Yonnedi, Ph.D. menyampaikan, tema “Tumbuh Berakar, Menjulang Berdampak” dinilai sangat sejalan dengan semangat UNAND untuk terus memperkuat fondasi akademik dan nilai-nilai yang menjadi akar institusi, sekaligus yang akan membawa UNAND semakin maju dan terus berkembang, serta memberikan dampak dan manfaat yang lebih luas.
“Tema ini sangat sejalan dengan bagaimana universitas ini terus mengakar secara kuat, kemudian menjulang, dan pada akhirnya terus memberikan manfaat kepada masyarakat,” ungkap Rektor UNAND diwawancarai usai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., memberikan kuliah umum pada kegiatan Lemhannas Goes to Campus di Gedung Convention Hall UNAND, Kamis (3/9).
Pada tahun ini, UNAND juga menghasilkan 70 buku, dan buku ini merupakan salah satu bentuk sumbangan kepada masyarakat.
“Nanti buku ini akan kita luncurkan, bersamaan dengan beberapa produk hasil inovasi UNAND. Produk-produk inovasi tersebut diharapkan tidak hanya berhenti sebagai hasil penelitian, tetapi juga bisa dimanfaatkan dan dijual kepada masyarakat, sehingga dapat dikomersialkan dan memberikan manfaat yang lebih luas,” pungkasnya.
Perjalanan UNAND hingga pada usia 70 tahun adalah perjalanan sebuah pohon yang terus tumbuh. Akarnya memberikan identitas, pertumbuhannya memberikan kekuatan, ketinggiannya memberikan horizon, dan dampaknya memberi makna.
Dari Sumatera Barat UNAND berakar, untuk Indonesia UNAND bertumbuh, menuju dunia UNAND menjulang, dan kepada masyarakat UNAND meninggalkan dampak. (Muharman)





