Waspada Energi Siberut 8 SR

259
Kepala Center of Disaster Monitoring and Earth Observation, Universitas Negeri Padang (DMEO UNP), Pakhrur Razi Ph.D.

Sumbar Digoyang Gempa “Dua Hari”

Padang, Rakyat Sumbar— Wilayah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) kembali diguncang gempa, Rabu (18/11/2020). Getaran yang dirasakan kuat di Kota Padang dan sejumlah daerah lain ini, merupakan kali kedua dalam dua hari beruntun.

Sebelumnya, Selasa (17/11/2020) pukul 08.44 WIB terjadi gempa dengan magnitudo 6,3 Skala Richter (SR) dengan pusat gempa di 109 kilometer barat daya Tuapejat, Kepulauan Mentawai. Sementara, Rabu (18/11/2020) kemarin, gempa terjadi dan dirasakan oleh warga Kota Padang dengan kekuatan 5,3 SR, berpusat di laut Pesisir Selatan. Gempa kali ini sempat membuat kocar-kacir dan kepanikan warga Padang.

Kepala Center of Disaster Monitoring and Earth Observation, Universitas Negeri Padang (DMEO UNP) Pakhrur Razi Ph.D menjelaskan, gempa yang berpusat di laut Pesisir Selatan tersebut erat hubungannya dengan gempa dengan kekuatan 6,3 SR terjadi di 109 kilometer barat daya Tuapejat, Kepulauan Mentawai.

“Ada hubungan sesar atau patahan gempa yang berpusat di Mentawai kemarin dengan yang terjadi di Sumatera (Kabupaten Pesisir Selatan) pada hari ini,” ucapnya saat dihubungi Rakyat Sumbar, Rabu (18/11/2020).

Pakhrur Razi menilai “Kalau dilihat dari Indo Australia, ada garis lurus sejajar dan pusat energi yang sama, dengan gempa kemarin jika dihubungkan dengan gempa yang terjadi pada hari ini.”

Lebih lanjut, Pakhrur Razi juga menjelaskan, yang ditakutkan itu peluang gempa dengan kekuatan 8,9 SR yang berpeluang terjadi di sekitar Siberut.

“Pada saat ini belum ada gempa yang bersumber di sekitar Siberut. Akumulasi  energi terbesar berpeluang terjadi disana,” jelas  Dia.

Terang Pakhrur, sebelumnya bagian utara dan selatan telah terjadi gempa yang telah terdistribusi melalui gempa susulan dengan kekuatan beragam. Pagai Utara, Pagai Selatan, Sipora telah terjadi gempa dengan kekuatan beragam.

“Gempa di sekitar Siberut ini yang kita takutkan,” jelasnya.

Pakhrur Razi mengingatkan, gempa dengan kekuatan 8,9 SR tersebut tinggal menunggu waktunya saja, karena sudah masuk ke dalam siklus 200 tahun.

“Dari catatan sejarah, gempa bumi terbesar dengan kekuatan magnetudo M 8.6 – 8.8 di Kepulauan Mentawai terjadi pada tahun 1797, sedangkan gempa dengan kekuatan M 8.8 – 8.9 terjadi di tahun 1833. Pada saat ini kita telah memasuki siklus 200 tahunnya. Ini yang harus di waspadai,” tutupnya. (edg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here