Padang, rakyatsumbar.id– Melonjaknya harga pakan ternak dalam beberapa tahun terakhir menjadi persoalan serius bagi petani dan peternak. Kondisi tersebut mendorong banyak pelaku usaha peternakan mencari pakan alternatif yang murah, mudah diperoleh, namun tetap memiliki kandungan nutrisi tinggi.
Menjawab kebutuhan itu, Universitas Negeri Padang (UNP) menghadirkan solusi melalui Program UNP Berdampak dengan memperkenalkan budidaya Azolla microphylla di Nagari Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan.
Program pengabdian kepada masyarakat yang digelar pada 20 Juli 2026 itu mendapat sambutan hangat dari warga.
Para petani dan peternak tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai manfaat Azolla sebagai pakan alternatif berprotein tinggi, tetapi juga mengikuti praktik langsung mulai dari menyiapkan kolam, memperbanyak bibit, melakukan pemeliharaan, hingga teknik panen yang benar sehingga dapat diterapkan secara mandiri di lingkungan masing-masing.
Kegiatan ini dipimpin Ciptro Handrianto, S.Pd., M.Ed., Ph.D., dosen Departemen Pendidikan Non Formal, Fakultas Ilmu Pendidikan UNP, bersama tim lintas disiplin yang terdiri atas Dr. Akrimulah Mubai, S.Pd., M.Pd.T. dari Departemen Teknik Elektronika, Fakultas Teknik, Dr. Vevi Sunarti, M.Pd. dari Departemen Pendidikan Non Formal, Fakultas Ilmu Pendidikan, serta Dr. Rahmawati D., M.Pd. dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Tim juga melibatkan Tri Assifa Candra Defi, M.Pd., alumni Magister Pendidikan Non Formal UNP, dan Rahmat Setiawan, mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Non Formal UNP.
Dalam pelaksanaannya, tim pengabdian menggandeng Busril, Ketua Kelompok Tani Murni Sungai Sirah, sebagai mitra utama. Selama ini Busril dikenal aktif mengembangkan sistem pertanian dan peternakan terpadu di Surantih sehingga dinilai tepat menjadi penggerak dalam mengimplementasikan inovasi budidaya Azolla di tingkat masyarakat.
Ketua Tim Pengabdian UNP, Ciptro Handrianto mengatakan, kegiatan tersebut merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni mentransformasikan hasil penelitian menjadi solusi yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Kami ingin hasil penelitian dan inovasi di kampus benar-benar hadir di tengah masyarakat. Azolla microphylla merupakan alternatif pakan yang murah, mudah dibudidayakan, memiliki kandungan protein tinggi, sehingga mampu membantu peternak mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial yang harganya terus meningkat,” ujar Ciptro kepada Rakyat Sumbar di sela kesibukannya di Kampus UNP, Rabu (22/07/2026).
Menurut Ciptro, sebagian besar peternak di Nagari Surantih sebelumnya belum mengenal Azolla microphylla sebagai sumber pakan alternatif. Ada yang pernah melihat tanaman air tersebut, tetapi belum mengetahui nama, manfaat maupun cara membudidayakannya.
“Melalui Program UNP Berdampak ini, masyarakat tidak hanya mengetahui bahwa Azolla mengandung protein tinggi dan sangat baik untuk pakan itik maupun ikan, tetapi mereka juga langsung mempraktikkan cara membudidayakannya sehingga setelah pelatihan selesai mereka sudah siap mengembangkannya sendiri,” jelasnya.
Pelatihan diawali dengan pemaparan konsep zero-waste farming, yaitu sistem pertanian terpadu yang memanfaatkan seluruh sumber daya secara efisien sehingga limbah dari satu sektor dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber daya bagi sektor lainnya.
“Zero-waste farming bukan hanya bertujuan menekan biaya produksi, tetapi juga menciptakan sistem pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Melalui Azolla, peternak memperoleh pakan berkualitas, biaya produksi berkurang, sementara keseimbangan lingkungan tetap terjaga. Kami berharap Surantih dapat menjadi kawasan percontohan pengembangan Azolla di Kabupaten Pesisir Selatan,” katanya.
Untuk memastikan program berlanjut, tim UNP menyediakan bibit Azolla microphylla sebagai starter culture. Setelah pelatihan selesai, bibit tersebut diserahkan kepada kelompok tani agar dapat diperbanyak secara mandiri.
Karena berkembang biak sangat cepat melalui cara vegetatif, bibit awal itu dapat terus dikembangkan dan dibagikan kepada anggota kelompok tani lainnya tanpa harus membeli bibit baru.
Selama pelatihan, peserta memperoleh pendampingan intensif mulai dari menyiapkan kolam dengan ketinggian air sekitar 5–10 sentimeter, pemberian pupuk organik, penebaran bibit hingga teknik pemanenan yang tepat.
Dalam kondisi optimal, Azolla mampu tumbuh sangat cepat dan dapat dipanen hanya dalam waktu tujuh hingga sepuluh hari.
Setiap panen, sekitar 15–20 persen tanaman dipanen, sementara sisanya dibiarkan berkembang sebagai bibit alami sehingga produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Berbagai pertanyaan muncul mengenai teknik budidaya, kandungan nutrisi, hingga peluang menjadikan Azolla sebagai usaha produktif yang mampu meningkatkan pendapatan keluarga.
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian adalah demonstrasi integrasi budidaya Azolla dengan kolam ikan dan peternakan itik. Peserta menyaksikan secara langsung bagaimana tanaman paku air tersebut dimanfaatkan sebagai pakan alami sekaligus membantu menjaga keseimbangan ekosistem budidaya.
Azolla microphylla sendiri dikenal memiliki kandungan protein kasar sekitar 24–30 persen, kaya akan asam amino, vitamin A, vitamin B12, beta-karoten, serta berbagai mineral penting. Kandungan nutrisi tersebut menjadikannya pakan alternatif yang sangat baik bagi ayam, itik, entok, ikan nila hingga ikan lele.
Di akhir kegiatan, sejumlah kelompok petani menyatakan komitmennya untuk mulai mengembangkan budidaya Azolla secara mandiri sebagai bagian dari sistem pertanian terpadu yang mereka kelola.
Ciptro menegaskan, keberhasilan Program UNP Berdampak tidak diukur dari banyaknya pelatihan yang dilaksanakan, melainkan dari sejauh mana inovasi yang diperkenalkan mampu diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
“Kami berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, kelompok tani, mahasiswa, alumni, dan masyarakat terus berlanjut. Ketika masyarakat mampu membudidayakan Azolla secara mandiri, biaya pakan dapat ditekan, produktivitas meningkat, dan kesejahteraan petani maupun peternak ikut terdongkrak. Itulah esensi UNP Berdampak, yakni menghadirkan ilmu pengetahuan yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
Melalui Program UNP Berdampak, Universitas Negeri Padang kembali menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan solusi nyata melalui inovasi yang aplikatif, murah dan berkelanjutan bagi masyarakat. (edg)





