Tiga Anak Bobol Puluhan Toko, Neny Andriani: Game Online Bukan Penyebab Tunggal

Neny Andriani, M.Psi., Psikolog, CI, C, NLP
Neny Andriani, M.Psi., Psikolog, CI, C, NLP

Padang, rakyatsumbar.id–Tiga anak nekat mencuri dan mengaku mempelajari cara membobol pintu toko melalui permainan daring Roblox. Kasus ini kembali memunculkan kekhawatiran tentang pengaruh game online terhadap perilaku anak.

Namun, Psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Putra Indonesia (UPI) YPTK Padang, Neny Andriani, M.Psi., Psikolog, CI, C, NLP, menilai game online tidak bisa langsung disebut sebagai penyebab utama anak melakukan pencurian.

Menurutnya, ada berbagai faktor lain yang saling berkaitan, mulai dari kontrol diri, kondisi emosional, pola asuh, lingkungan keluarga, hingga potensi kecanduan.

Neny menjelaskan, game online kini tidak hanya menawarkan permainan, tetapi juga berbagai transaksi digital. Item seperti skin, karakter, aksesori, hingga mata uang virtual seperti Robux dapat menjadi sesuatu yang dianggap penting oleh anak, terutama ketika berkaitan dengan gengsi dan penerimaan di lingkungan pertemanan virtual.

“Anak-anak pada dasarnya membutuhkan pengakuan dan validasi dari kelompoknya. Ketika sebuah item dianggap sebagai simbol status atau membuat mereka merasa lebih diterima, keinginan untuk mendapatkannya bisa menjadi sangat kuat,” ujar Neny.

Masalah muncul ketika keinginan tersebut tidak sebanding dengan kemampuan anak mendapatkan uang. Dalam kondisi kontrol diri yang rendah, dorongan membeli item dapat berkembang menjadi perilaku impulsif, termasuk mengambil uang milik orang tua atau orang lain.

“Game lebih tepat dilihat sebagai pemicu atau trigger, bukan sebagai satu-satunya akar masalah,” katanya.

Selain itu, kecanduan juga perlu menjadi perhatian. Sistem penghargaan dalam game dapat membuat anak terus mengejar rasa senang dan kepuasan dari permainan. Ketika anak sulit berhenti bermain, mudah marah saat akses dibatasi, mulai berbohong untuk mendapatkan uang, atau kehilangan minat terhadap aktivitas lain, orang tua perlu segera memperhatikan perubahan tersebut.

Karena itu, Neny meminta orang tua tidak hanya membatasi waktu bermain, tetapi juga memahami game yang dimainkan anak, mekanisme transaksinya, serta siapa saja yang berinteraksi dengan mereka di dunia virtual. Komunikasi terbuka juga penting agar anak memahami penggunaan uang, kontrol diri, literasi digital, dan konsekuensi dari setiap tindakan.

Menurut Neny, pencegahan tidak cukup dilakukan dengan menyalahkan atau melarang game online. Keluarga, sekolah dan lingkungan sosial perlu bersama-sama memperkuat ketahanan psikologis anak.

“Game online bukan satu-satunya faktor, tetapi ketika bertemu dengan kerentanan psikologis dan lingkungan yang tidak mendukung, risikonya bisa menjadi lebih besar,” pungkasnya. (edg)