04/12/2022
Beranda » Tetap Tegar dan Selalu Berprasangka Baik

Tetap Tegar dan Selalu Berprasangka Baik

Kisah dr. Dessy Rachmawati yang Dinyatakan Negatif setelah 14 Hari Menjalani Isolasi

Oleh : Jon Kenedi (Padangpanjang)

Tidak pernah dibayangkan dr. Dessy Rachmawati, jika dirinya harus menjadi salah satu dari 13 tenaga kesehatan (Nakes) RSUD Kota Padangpanjang yang dinyatakan positif terpapar Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) setelah kontak lansung dengan NS, 29, warga Pincuran Tinggi Nagari Panyalaian Kecamatan X Koto Tanahdatar, yang lebih dahulu divonis positif Covid-19.

Panggilan seluler dari Dokter Spesialis Paru RSUD Kota Padangpanjang,  dr. Yenny Mukhtar Sp.PD berdering menghubungi  dr. Dessy Rahmawati, jam 10 malam, 30 April lalu. Suasana tegang bercampur haru ketika dirinya dinyatakan positif melalui hasil Swab Test bersama 12 Nakes lainnya, yang kontak langsung dengan NS.

“Saya ditelepon oleh dr. Yenny Mukhtar memberitakan hasil Swab Test dan saya dikonfirmasi positif. Berita ini sangat mengejutkan dan sangat berat buat saya terima saat itu. Pertanyaan saya, mengapa saya ya Allah,” cerita dr. Dessy yang akrab  dipanggil Cici, saat menceritakan awal mula dirinya menjalani karantina di RSUD Padangpanjang selama 14 hari, Rabu (13/05/2020).

Tidak lama setelah panggilan selularnya dimatikan, Cici lantas diminta berkemas  untuk di karantina malam itu juga di RSUD Kota Padangpanjang. Perasaan cemas dan kalut selalu menghantui, meskipun suami dan keluarga berusaha menenangkannya.

“Keluarga mendukung saya untuk diisolasi dan menasehati saya untuk kuat dan tegar,” ungkapnya.

Terlintas hal terberat bagi Cici terhadap kondisi seluruh keluarga serta rekan- rekan kerja di klinik miliknya, yang tentu melakukan kontak langsung dengan dirinya. Apalagi, virus Korona termasuk jenis virus yang cepat menyebar.

Namun, kekuatiran terhadap kondisi keluarga dan rekan-rekannya, ternyata tidak terjadi. Swab seluruh keluarga cici negatif dan rekan rekan kliniknya pun juga negatif.

“Alhamdulillah Allah melindungi orang yang saya sayangi,” sebutnya.

Sesampainya di RSUD, Cici bersama 12 orang Nakes lainnya bertemu di lobby Isolasi. Suasana buncah, tenaga kesehatan bertangisan dan mereka harus dipisahkan untuk menghendari penyebaran lebih meluas.

“Kami saling bertangisan saat bertemu di lobby ruangan isolasi. Petugas memanggil nama kami satu persatu untuk pembagian kamar,”  kenang Cici.

Perasaan sedih merundung hari-hari awal Cici diisolasi. Namun, Cici berusaha tegar dan berprasangka baik kepada Allah SWT.

“Saya berusaha untuk kuat dan tegar serta menghibur diri. Allah memilih saya dengan ujian ini, pasti ada hikmah dibalik ketetapan Allah SWT ini,” kata Cici.

Berdoa, berdzikir dan berprasangka baik kepada Allah SWT ternyata menjadi sebuah kekuatan dalam tubuh Cici. Gejala-gejala klinis pasien Korona seperti sesak nafas dan hal lainnya tidak begitu dia rasakan.

“Setelah 12 hari saya menjalani karantina  bersama teman-teman, Alhamdulillah saya pribadi tidak mengalami gejala berat. Allah meringankan penyakit saya,” ungkapnya.

Cici menceritakan, dia dan teman- temannya menjalani terapi obat-obatan sesuai resep dokter penanggung jawab dan rutin berolahraga.

“Makanan  kami dihitung sesuai dengan kebutuhan kami dan gejala kami masing-masing. Pakain kami juga diolah dengan pengolahan khusus (infeksius) oleh laundry rumah sakit,” lanjut adik dari tokoh mantan Wakil Ketua DPRD Kota Padangpanjang H.Eko Furqani itu.

Setelah 14 hari menjalani isolasi, tanggal 8 dan 9 Mei,  semua pasien Covid menjalani test swab ke 2 dan ke 3. Hasilnya baru diumumkan tanggal 12 Mei. Siang itu, sekitar pukul 13.00 WIB, Cici mendapatkan informasi menggembirakan dari dr. Yenny. Setelah 2 kali Swab yang dilakukan menunjukkan negatif Korona.

“Berita yang sangat saya tunggu dengan penuh rasa syukur dan sujud,” sebutnya haru.

Namun,  Cici merasakan kebahagiaannya masih belum terasa sempurna karena sejumlah  temannya yang lain masih positif Korona. Mereka masih tetap diisolasi di RSUD Kota Padangpanjang sambil menunggu rencana di Swab ulang pada15 Mei nanti.

Banyak hikmah yang dirasakan Cici selama diisolasi. Dia lebih banyak beribadah, mendekatkan diri kepada Allah.

Menanggapi kondisi Korona, Cici  yang sembuh dari Covid-19 itu memiliki sejumlah saran, meminta masyarakat harus patuh dan sabar menahan diri untuk tidak beraktivitas diluar rumah.

Bagi perantau dimohon untuk bersabar tidak pulang kampung dulu karena sangat berisiko dalam transmisi virus.

Selanjutnya, masyarakat hendaknya jujur terkait riwayat perjalanan dan sadar dengan isolasi mandiri. Kepada pemerintah pusat dan daerah harus sinkron dalam mengambil kebijakan. Karena dia khawatir  saat PSBB dilonggarkan akan bermunculan kembali korban, sehingga penanganan virus tidak akan pernah selesai.

“Untuk masyarakat mohon dukungan kepada Nakes. Jangan dikucilkan keluarganya. Perlakukanlah sebagaimana mestinya. Karna nakes tertular saat bekerja bukan karna traveling. Jangan lagi menambah beban psikologis buat nakes dan keluarganya,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padangpanjang Nuryanuar menyebutkan, meski telah dinyatakan sembuh dan sudah diperbolehkan pulang, tetapi 10 Nakes yang hasil Swabnya negatif tersebut tetap menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing.

“Alhamdulilah, dengan negatifnya hasil Swab 10 Nakes yang sempat dinyatakan positif terpapar virus Korona, tinggal 12 orang lagi yang masih dalam proses karantina di RSUD Padangpanjang. Mudah-mudahan beberapa hari kedepan akan ada lagi pasien yang negatif,” ucap Nuryanuar.

Meakipun masih tetap memberlakukan pengawasan menyeluruh, Nuaryanuar mengaku, cukup bangga dengan semangat petugas kesehatan yang melakukan pengawasan serta semangat untuk sembuh dari Nakes dan masyarakat yang menjalani isolasi.

“Kuncinya sistim imun tubuh kita dan tetap jaga kesehatan. Dengan adanya pasien yang sembuh, membuktikan virus Korona ini bisa disembuhkan meskipun belum ada vaksinnya hingga saat ini,” ucap Nuryanuar yang akrab disapa Pak Ujang itu. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.