Revdi Dorong Pers Mahasiswa Bangun Branding dan Jaga Kredibilitas

Revdi meminta LPM mengenali karakter dan pembacanya, menentukan positioning serta menemukan pembeda. Media juga perlu memiliki content pillar agar produksi berita lebih terarah.

Padangpanjang Rakyat Sumbar – Jurnalis dan Pemimpin Redaksi Harian Rakyat Sumbar member of Jawa Pos Group, Revdi Iwan Syahputra, S.Sos., mendorong pers mahasiswa tidak sekadar memproduksi berita, tetapi membangun karakter, branding, nilai jual dan kepercayaan pembaca.

Hal itu disampaikan Revdi yang dikenal dengan nama pena Ope, saat menjadi narasumber Pelatihan Jurnalistik Tingkat Menengah LPM Pituluik Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, 28–29 September 2026.

Dalam pelatihan bertema “Strategi Branding Kreatif & Nilai Jual Media Kampus”, Revdi mengatakan perkembangan media digital membuat pers mahasiswa menghadapi persaingan yang semakin luas. Media kampus tidak hanya berhadapan dengan media profesional, tetapi juga media sosial, content creator, influencer dan berbagai platform digital.

 

“Pertanyaan penting bagi media hari ini bukan hanya apakah kita bisa membuat berita, tetapi mengapa orang harus membaca media kita dan apa yang membuat kita berbeda,” kata Revdi.

Menurutnya, branding media bukan sekadar logo, warna dan desain. Branding terbentuk dari identitas, konsistensi, pengalaman pembaca dan kepercayaan yang dibangun melalui akurasi serta standar jurnalistik.

Revdi meminta LPM mengenali karakter dan pembacanya, menentukan positioning serta menemukan pembeda. Media juga perlu memiliki content pillar agar produksi berita lebih terarah.

Ia mencontohkan satu liputan dapat dikembangkan menjadi berbagai produk, seperti berita, feature, video, wawancara, infografis, carousel Instagram, Reels dan TikTok.

“One event, multiple content. Satu kegiatan tidak harus menghasilkan satu produk,” ujarnya.

Revdi juga mengingatkan peserta agar tidak menjadikan media sosial sekadar tempat membagikan tautan berita. Setiap platform, katanya, memiliki karakter yang berbeda sehingga konten harus disesuaikan dengan platform dan perilaku audiens.

Selain mengejar perhatian atau attention, media harus membangun trust dan loyalty. Menurutnya, viral dapat mendatangkan perhatian, tetapi kredibilitas yang membuat pembaca kembali.

Dalam aspek nilai jual, Revdi menyebut pembaca, komunitas, reputasi, jaringan serta kemampuan produksi konten sebagai aset media kampus yang dapat dikembangkan menjadi kerja sama media partnership, content collaboration, event partnership dan produksi kreatif.

Namun, ia menegaskan kerja sama tidak boleh mengganggu independensi editorial.

“Kerja sama boleh. Independensi harus tetap dijaga,” tegasnya.

Revdi juga menekankan pentingnya regenerasi dan sistem kerja agar media tetap berjalan meski pengurus berganti. Untuk itu, LPM perlu memiliki pedoman branding dan editorial, dokumentasi, database narasumber, kalender editorial serta standar verifikasi dan koreksi.

“Pengurus boleh berganti. Tetapi standar jurnalistik tidak boleh ikut berganti,” katanya.

Di akhir materi, Revdi mengingatkan peserta bahwa kredibilitas merupakan fondasi utama media. Verifikasi, konfirmasi, pemisahan fakta dan opini, penggunaan judul yang tidak menyesatkan serta keberanian melakukan koreksi harus menjadi bagian dari kerja pers mahasiswa.

“Jangan hanya membangun media yang terlihat. Bangun media yang berarti,” ujar Revdi.

Pelatihan Jurnalistik Tingkat Menengah LPM Pituluik ISI Padangpanjang dengan tema “Strategi Branding Kreatif & Nilai Jual Media Kampus” digelar pada 28–29 September 2026 dengan menghadirkan Revdi Iwan Syahputra, S.Sos., sebagai narasumber.(*)