Padangpanjang, rakyatsumbar.id–Rangkaian penutupan Festival Seni Indoensia (FKI)+ XIII di Gedung Hoeridjah Adam Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang begitu megah, termasuk dengan adanya penampilan Karya Tari Bulek Kato dari Sanggar Titian Aka pimpinan Dr. Rasmida, S.Sn., M.Sn dan Komposer Dr. H. Rafiloza, S.Sn., M.Sn yang pernah menjadi wakil Indonesia pada Festival Tari Dunia di Korea Selatan.
FKI+ XIII yang digelar dari tanggal 20 hingga 24 Oktober 2026 berlangsung sukses, tentunya tidak terlepas dari kerja sama yang baik dari seluruh panitia yang terlibat.
Demikian juga The 2nd International Conference on Arts, Media, Art Education, and Culture (ICAMAC 2) yang dipercayakan pada Pascasarjana, menjadi bagian penting dari rangkaian FKI yang dilaksanakan di ISI Padangpanjang.
Jika FKI adalah tubuhnya — berupa pameran, pertunjukan, pasar kreatif dan eksebisi — maka ICAMAC adalah otaknya, disinilah gagasan, riset dan kritik akademik diuji dan dipertemukan. Begitu juga rangkaian kegiatan yang lain yang bervariasi, semua berjalan dengan lancar sampai penutupan berlansung
FKI+ XIII yang dicanangkan sebagai ruang perayaan kreativitas Indonesia berakar pada tradisi dan berdialog dengan teknologi masa depan yang dibungkus dengan tema Art Folklore and Ecology.
Tari Bulek Kato Memukau
Pada malam penutupan FKI+ XIII dilaksanakan berbagai pementasan yang melibatkan beberapa sanggar dan sekolah, salah satunya Sanggar Titian Aka yang dipimpin Dosen ISI Padangpanjang Dr. Hj. Rasmida, S.Sn., M.Sn yang beranggotakan mahasiswa setempat. Karya yang ditampilkan penuh makna, berangkat dari lokalitas Minangkabau yang berjudul Tari Bulek Kato.
Menurut Rasmida, karya ini merupakan pengembangan dan penguatan dari karya tari sebelumnya yang fenomenal, yakni Tari Sakato.
Sakato pertama kali digarap dalam Rangka Temu Taman Budaya se-Indonesia dan mengikuti lomba tari kreasi pada Festifal Pinang Masak di TMII anjungan Jambi dan mendapatkan juara 1.
“Tari ini juga sering ditampilkan di berbagai even besar seperti Festifal Serambi Mekah, Festifal Danau Maninjau, Pemilihan uda Uni Sumatera Barat, Alek Nagari dan juga MTQN Tingkat Sumatera Barat di Bukittinggi,” kata Rasmida.
Sedangkan untuk tingkat Internasional Sakato ditampilkan memenuhi undangan acara besar di Malaysia yakni Rentak Bertandak dan pada tahun 2025 Tampil pada Even Besar Cheonan World Dance Festival di Korea Selatan, menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang sebelumnya melalui seleksi oleh FIDAF Indonesia.
Terinspirasi Filosofi Minangkabau
Menurut Rasmida, Tari Sakato merupakan aplikasi musyawarah dan mufakat yang diinterpretasikan secara koreografis sebagai sebuah proses, bukan sekadar hasil akhir.
“Dramaturgi karya dapat memperlihatkan perjalanan, perbedaan, interaksi, konflik/ketegangan, dialog, pertimbangan, kebersamaan, mufakat dan harmoni,” sebutnya.
Dalam penampilan karya, lanjutnya, penggunaan empat meja dalam karya posisi awal diposisikan melingkar. Lingkaran tersebut menjadi simbol ruang bersama tempat setiap pihak memiliki posisi yang relatif setara.
Komposisi lingkaran/ galombang juga memiliki hubungan kuat dengan struktur Randai. Lingkaran bukan hanya bentuk estetis, tetapi dapat dimaknai sebagai ruang sosial untuk berunding dan membangun kesepahaman.
“Ketika meja akhirnya menyatu menjadi bentuk bundar dan penari membentuk komposisi lingkaran, visual tersebut dapat dibaca sebagai pencapaian mufakat,” jelas Rasmida yang juga didampingi komposer Dr. H. Rafiloza, S.Sn., M.Sn.
Properti piring dapat dimaknai sebagai simbol keseimbangan. Kemampuan penari menjaga piring sambil melakukan gerak dinamis menjadi metafora bahwa mencapai kesepakatan membutuhkan kehati-hatian, pengendalian diri, keseimbangan kepentingan, dan tanggung jawab bersama.
Dengan demikian, Sakato tidak hanya menggambarkan “kesepakatan”, tetapi memvisualisasikan proses sosial masyarakat Minangkabau dalam mencapai kesepakatan melalui musyawarah. Nilai lokal tersebut kemudian ditransformasikan menjadi pesan universal tentang toleransi, perdamaian, kebersamaan, dan penghargaan terhadap perbedaan.
Jika Sakato bicara tentang kebersamaan, maka Bulek Kato melangkah lebih dalam: tentang bagaimana kebersamaan itu dibulatkan. Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat.
Air menjadi bulat karena pembuluhnya, kata menjadi bulat karena mufakatnya.
“Begitupun di Balai Adat, keputusan tidak boleh jatuh dari satu mulut. Harus melalui kesepakatan. Tari Bulek Kato mengintegrasikan nilai tradisi dan pendekatan kontemporer dalam upaya menghadirkan pesan kesepakatan melalui seni. Melalui eksplorasi gerak, ruang, setting dan properti, karya ini merepresentasikan proses musyawarah sebagai jalan menuju mufakat,” urainya.
Filosofi Bulek Aia Dek Pambuluah, Bulek Kato Dek Mufakat ini menjadi bukti nyata komitmen Sanggar Seni Titian Aka Studio R bersama ISI Padangpanjang dalam menjaga dan mengembangkan seni tradisi Minangkabau agar tetap relevan di masa kini.
Karya ini didukung penuh oleh 10 penari terbaik ISI Padangpanjang yang tergabung di Sanggar Seni Titian Aka, yakni Ariefin Alham Jaya Putra, Leoni Intan Sari, Rajif Ayunda, Mhd Arif Silfandhi, Frizi Aulia, Siti Bungsu Gabriel, Hayunda Oktafindas, Zivara In Remazaya, Yuni Partiwi dan Putri Wulandari.
Eksplorasi teknik dan pola gerak yang digarap sesuai kompetensi masing-masing penari, serta dialog gerak yang dibangun melalui permainan level dan desain lantai yang dinamis, karya ini tidak hanya menyuguhkan keindahan gerak semata, namun juga pesan mendalam tentang kekuatan kebersamaan dan musyawarah mufakat.
“Semoga Karya Tari Bulek Kato dapat memberikan apresiasi seni yang edukatif, inspiratif, serta menjadi persembahan terbaik dari Sanggar Seni Titian Aka untuk masyarakat seni di Sumatera Barat dan Indonesia. Terima kasih atas dukungan dan apresiasinya,” sebut Rasmida saat menutup penampilan.
Diapresiasi Penonton
Apresiasi diberikan salah seorang penonton yang serius mengikuti rangkaian rangkaian penampilan Tari Bulek Kato tersebut. Dimana, Aurel Oktota Melina, mahasiswa dari ISI Padangpanjang, takjub melihat penampilan dan rangkaian cerita yang dibawakan dalam tarian tersebut.
“Tentunya untuk menghasilkan karya sebagus ini, dibutuhkan pendalam ide dan penggarapan properti yang begitu maksimal. Tidak heran jika karya ini menjadi perwakilan Indonesia pada ajang Festival Tari Dunia di Korea Selatan. Karena memang bagus dan penuh makna,” katanya.
Dora, mahasiswa Jurusan Tari ISI Padangpanjang, juga mengaku bangga dengan penampilan karya Dosen ISI Padangpanjang itu. Karena, dengan adanya ajang festival seperti FKI maupun festival lain sebagai ajang untuk mengukur sejauh mana, karya-karya yang dihasilkan.
“Saya juga ingin menghasilkan karya seperti karya Bunda Rasmida ini, doakan saya ya pak, bisa berkarya dan tentunya juga ingin go internasional seperti bunda,” pintanya. (Jon Kenedi)





