09/12/2022
Beranda » Refleksi Sebelas Dasawarsa di Segelas Kopi

Refleksi Sebelas Dasawarsa di Segelas Kopi

Oleh : Aulia Rahim

Malam semakin larut, dinginsemakin menusuk. Saya arahkan kuda besi tua itumenuju Pantai Padang, tepatnya ke sebuah kedai kopi langganan. Kedai sederhana itu tampak ramai. Malam itubahkan saya tidak kebagian meja, sehingga harus duduk di dekat barista. Sang barista, yang saya kenal dekat, datang menghampiri. Sembari membawa pesanan saya, aeropressArabika Solok Minang, dia pun mengajak bercakap.

Pria muda asal Pasaman ini bercerita bagaimana kedai kopinya akhir-akhir ini semakin ramai. Bisnis kopi memang lagi menggeliat. Penopang utamanya tak lain karenapergeseran seleramilenial. Kaum muda inisemakin sering “nongkrong” di kafe.Dulunya hanya tren, tapi sekarang sudah jadi gaya hidup.Saya takzim mendengarnya. Saya tahu betul perjuangannya merintis usaha tidaklah mudah. Dengan peralatan minim seadanya, tiga tahunlalu, diamemulainya di teras rumah.

Ia kemudian bicara tentang peluang ekspansi, namun terkendala dengan modal usaha. Ia memang tak sendiri. Hari-hari ini, permasalahan akses kredit masih saja menghantui. Terkhusus para pelaku usaha mikro, yang acap dianggap tidak bankable. Eskalasipendanaan merekaselalu terkendala agunan. Di beberapa kasus, bisnis merekajustru dianggap tidak feasible. Gamblangnya, tidak berprospek, sehingga creditworthiness-nya diragukan.

Sekelebat pikiran saya melayang ke pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR).  Diperkenalkan sejak 2007, programpemerintahini dikhususkan untukmensubsidi para pelaku Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM). Maklum saja, sektor ini memang tulang punggung perekonomian bangsa. Kontribusinya memang luar biasa. Lebih dari 60% Produk Domestik Bruto disumbangkan olehnya. Sektor ini pun mampu menyerap 120 juta pekerja. Melalui KUR, pemerintah berharap akses terhadap permodalan menjadi jauh lebih mudah. Untuk itulah, alokasinya setiap tahun selalu ditambah. Jika 2015 lalu penyalurannya hanya sebesar Rp22,75 triliun, tahun ini KUR dialokasikan Rp190 triliun, meningkat delapan kali lipatnya. Tapi mengandalkan KUR saja belumlah cukup. Data Kementerian Keuangan menyebutkanmasih terdapat 44 Juta pelaku usaha mikroyang saat ini kesulitanmendapatkan akses permodalan. Pemerintah memang tidak bisa sendirian. Program serupa harus jugadiinisiasi dan didukung oleh seluruh entitas usaha, terutama bagi yangsudah mapan.

Beruntunglah Sumatera Barat punyaSemen Padang. Selama satu abad lebih, keberadaannya telah berjalin-berkelindan dengan perekonomian masyarakat minang. Perusahaan ini merupakan bagian penting dari sejarah modernisasi dan industrialisasi di Indonesia. Sebagai pabrik dan industri semenpertama di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, Semen Padang tetap eksis bahkan terus berkembang sejak tahun 1910 hingga saat ini, sebelas dasawarsa kemudian. Kiprahnya membangun negeri ibarat “tinta emas” yang ditorehkan di atas lembar sejarah peradaban. Kokohnya Monumen Nasional, Jembatan Semanggi, Gedung MPR/DPR, Hotel Indonesia dan Jembatan Ampera yang kita saksikan saat ini, tak lepas dari semenyang diracik dariserpihan batu kapur dan batu silika di Lubuk Kilangan. Perusahaan “plat merah” inipuntelah berkontribusi besar, tidak hanya dalam bentuk fisikbangunan, tetapi juga dalam bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat, utamanya di Sumatera Barat.

Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) “Paduli Nagari”, terhitung sudahribuan pelaku UMKM sebagai mitra binaan Semen Padang yang telah terbantu usahanya. Menurut saya programini bisa menjadi alternatif permodalan dalam memulai atau mengembangkan usaha, terlebih jika produk dan pasarnya sudah ada. Studi yang dilakukan oleh A McKinsky & Company menyimpulkan bahwa modal dapat menjadi kendala utama yang menghambat pertumbuhan bisnis dan usaha. Khususnya pelaku mikro atau wirausaha pemula yang acap tidak tahu akses pembiayaan yang baik dan aman bagi mereka. Suku bunga tinggi dari bank atau yang lebih parah, tawaran bunga rentenir yang mencekik, kerap mengurungkan niat dan optimisme mereka dalam mengembangkan usaha.

Sembari menyeruput kopi hangat yang tinggal setengah, saya merenungkankembali perjalanan segelas kopi sebelum tersaji ke meja seduh. Terbilang unik saya pikir, karena mampu menyerap banyak tenaga kerja dari hulu ke hilir. Usaha kopisebenarnyapatut diseriusi. Sumbar punya potensi untuk bersaing menjawab kebutuhan kopi nasional. Lihatlah data Badan Pusat Statistik yang mengkonfirmasi hal itu. Dengan area perkebunan mencapai 37 ribu hektar, rata-rata produksi kopi mencapai 15 ributon/tahun. Sebuah angka yang tidak kecil tentunya. Fenomena menjamurnya coffee shop maupun home roastery di berbagai daerah, bisa dijadikan ajang unjuk gigi pelaku usaha kopi di Sumatera Barat, baik yang di hulu maupun hilir, tentunya dengan dukungan dan aksesibilitas permodalan yang baik. Tetapi juga perlu dipahami bahwa modal bukanlah satu-satunya faktor yang dapat menjamin kesuksesan bisnis. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Harvard University, ada tiga hal yang membuat UMKM di negara berkembang sulit untuk “naik kelas”. Pertama adalah kualitas produk yang kurang diminati, kemudian ketakutan akan pengenaan pajak dan terakhir adalah kesulitan akses terhadap kredit.

Disinilah letak keunggulan CSR“Paduli Nagari”dari program sejenis, bahkan KUR sekalipun. Bentuk kemitraan yang ditawarkan tidak sekedar memberikan bantuan permodalan, tetapi juga disertai dengan pendampingan dan dukungan pemasaran. Dengan adanya program pendampingan, para pelaku usaha juga mendapatkan pengetahuan tentang tata kelola keuangan, manajerial, serta aktivitas promosi dan pemasaran.Hal ini dapat meningkatkan nilai tambah produk dan sekaligus menggugah semangat entrepreneurshippara mitra binaan. Saya membayangkan para petani kopi sebagai pelaku hulu selain mendapatkan pembiayaan, juga mendapat transfer ilmudari PT Semen Padang. Hal ini akan berdampak langsung pada meningkatnya kualitas kopi sehingga harga yang diterima petani akan semakin ideal. Dengan pola pembiayaan dan pendampingan, diharapkan tidak akan ada lagi cerita petani yang dipermainkan oleh tengkulak.

Selain itu, di Sumbar, interaksi langsung antara petani kopi dan penjual kopi siap konsumsi sangat dimungkinkan terjadi. Kebutuhan antar pelaku usaha ini akan semakin mudah terpenuhi, misalnya petani kopi membutuhkan alat pengupas kopi sedangkan penjual kopi menginginkan kualitas kopi terbaik. Adanya interaksi ini mampu memangkas rantai distribusi sehingga dapat memutar roda ekonomi secara lebih cepat. Hal semacam ini dapat dioptimalkan selama proses pendampingan para mitra binaan Semen Padang. Secara tidak langsung, proses pendampingan ini juga dapat dijadikan ajang bertukar informasi, inovasi, dan saling menularkan semangat entrepreneurship. Jika hal-hal tersebut terus dan konsisten dilakukanSemen Padang, imbasnya pelaku UMKM di Sumbar akan semakin sejahtera.PT Semen Padang telahmemulaibahkan sebelum yang lain memikirkannya. Inilah makna dari membangun negeri sesungguhnya.

Tak terasa kopi dihadapan sayapun ludes. Saya meminta teman saya membuatkan segelas lagi ketika seorang perempuan muda memasuki kedai.

“V60 drip ya…biar gak kalah manisnya”, ujar saya agak keras. (*)

1 thought on “Refleksi Sebelas Dasawarsa di Segelas Kopi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.