Agam, rakyatsumbar.id–Ratusan siswa dan guru di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, mendadak mengalami gangguan kesehatan diduga akibat keracunan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tercatat sekitar 280 orang penerima manfaat dari jenjang SD, SMP, hingga SMA mengeluhkan sakit kepala, sakit perut, mual dan demam, memaksa dua di antaranya dirujuk ke RSUD Bukittinggi untuk penanganan intensif.
Keluhan kesehatan itu pertama kali muncul sejak Senin (31/08/2026) sore, tak lama setelah para penerima manfaat mengonsumsi makanan yang disediakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh.
Jumlah korban terus bertambah hingga puncaknya terungkap Rabu (02/09/2026), memicu langkah cepat pemerintah daerah dan aparat kepolisian turun langsung ke lapangan.
Wakil Bupati Agam Muhammad Iqbal bersama Sekretaris Daerah Mhd. Lutfi AR dan Kepala Dinas Kesehatan Hendri Rusdian memimpin langsung peninjauan ke Puskesmas Palupuh dan dapur SPPG Pasia Laweh. Peninjauan itu turut melibatkan Kapolsek Palupuh IPTU M. Raufuddin Silitonga, unsur Muspika, Balai POM, hingga pihak yayasan penyelenggara SPPG.
“Kami langsung turun ke lapangan untuk memastikan seluruh penerima manfaat yang mengalami keluhan mendapat penanganan medis yang optimal,” ujar Muhammad Iqbal.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Hendri Rusdian menjelaskan, keracunan mulai diketahui pada Selasa malam, dimana pukul 21.00 korban mulai berdatangan ke puskesmas dan Pustu di Palupuah. Jumlah itu, sampai Rabu sore terus bertambah hingga mencapai angka 237 orang.
“Jumlah terus bertambah hingga mencapai 237 orang hingga Rabu sore,” ujar Hendri Rusdian.
Setelah mendapat perawatan medis di sejumlah fasilitas kesehatan yang ada di Palupuah, pada Rabu sore sekitar pukul 17.00 WIB, para korban sudah diperbolehkan pulang.
Hanya tinggal dua orang korban yang masih dirawat di RSUD Bukittinggi dan RS Tentara Bukittinggi.
“Kondisi dua siswa kita tersebut pun sudah membaik. Mudah mudahan bisa segera pulang,” ujar Hendri lagi.
Ditambahkan Hendri Rusdian, pihaknya masih menunggu hasil dari pemeriksaan sampel makanan dari BPOM terkait penyebab pasti kasus keracunan massal tersebut. Namun, dugaan sementara, memang berasal dari MBG. Dapur MBG yang melayani ke 20 sekolah tersebut, setiap hari menyediakan 2.816 paket MBG.
“Kita tunggu dulu hasil pemeriksaan sampel makanan dari BPOM. Waktunya sekitar satu minggu,” ujar Hendri Rusdian.
Sampel Makanan Diperiksa BPOM
Di tengah sorotan publik, Kapolsek Palupuh IPTU M. Raufuddin Silitonga mengungkapkan pihaknya bergerak cepat menelusuri sumber dugaan keracunan dengan mendatangi langsung dapur SPPG Pasia Laweh.
“Sampel makanan dari SPPG Pasia Laweh sudah diambil untuk diperiksa oleh BPOM Sumatera Barat, dan sampai saat ini kami masih menunggu hasil laboratorium tersebut,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi sekaligus kehati-hatian, Bupati Agam melalui Wakil Bupati menginstruksikan penghentian sementara seluruh aktivitas operasional dan pendistribusian makanan dari dapur SPPG Pasia Laweh, terhitung Rabu (02/09/2026), hingga hasil pemeriksaan laboratorium Balai POM Sumatera Barat keluar.
“Penghentian sementara ini murni langkah kehati-hatian, bukan kesimpulan akhir. Kami masih menunggu hasil laboratorium dan keterangan medis sebelum bisa memastikan penyebab pastinya,” pungkas IPTU M. Raufuddin Silitonga.
Keracunan terhadap 280 penerima manfaat MBG itu, merupakan yang kedua kalinya terjadi di Agam, dimana pada Oktober 2025, sebanyak 110 siswa juga keracunan MBG di Lubukbasung. (rom/rn/edw)





