29/11/2022
Beranda » Pasa Ateh Adopsi Green Building

Pasa Ateh Adopsi Green Building

PANEL TENAGA SURYA | Panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di gedung Pasa Ateh, Kota Bukittinggi, Sumbar mampu menghemat listrik 20 persen, Kamis (28/08/2020). Pemerintah RI berkomitmen pemanfaatan EBT hingga 23 persen dengan proyeksi energi surya sebesar 6.400 MWp 2025. Kariadil Harefa/Harian Rakyat Sumbar.

Berbelanja Sembari Berwisata

Bukittinggi, Rakyat Sumbar– Pemerintah Indonesia berkomitmen menargetkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) hingga 23 persen dengan proyeksi energi surya menjadi 6.400 MWp pada 2025. Salah satunya daerah pemanfaatan itu di Kota Bukittinggi, dengan pemasangan panel pembangkit tenaga surya (PLTS) di Pasa Ateh, Bukittinggi. Panel itu dimanfaatkan pemko bagi pedagang dan mampu menghemat listrik 20 persen termasuk dapat dimanfaatkan untuk pengolahan air limbah dan hujan.

Selain PLTS, Bukittinggi telah mendapat jatah penerangan jalan umum (JPU) tenaga surya dan mampu menghemat listrik 1,5 giga watt per hour (GWh). Terkait PLTS di Pasa Ateh tetap di pantau petugas, sehingga kontrol arus bagi pedagang benar-benar tersistem dengan baik. Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Kota Bukittinggi dalam hal ini Kabid Pengelolaan Pasar, Herman saat berbincang-bincang lusa, ini salah satu infrastruktur yang diberikan pemerintah pusat untuk Kota Bukittinggi.

Herman mengatakan, kondisi pasar ateh saat ini memang belum maksimal, sebab masih dalam pengawasan pemerintah pusat. Walau status penyerahan tangan diberikan kepada Pemko Bukittinggi. Sekadar diketahui Pasa Ateh memiliki luas bangunan gedung 39.789 meter persegi, dengan fasilitas tambahan area parkir, eskalator, taman. Konsep ‘Green Building’ disematkan pada bangunan berlantai empat itu, memenuhi unsur keselamatan termasuk guncangan gempa bumi dan dilengkapi proteksi kebakaran.

“Daya tampung gedung ini kurang lebih seribu pedagang, dengan klasifikasi pedagang terbagi dua,” kata Herman, Sabtu (29/08/2020).

Menurut data Kementerian Perindustrian, Indonesia saat ini mengalami pergeseran terhadap sektor industri konstruksi dan berhasil menyumbang 10,60 persen dari total produk domestik bruto nasional. Kota Bukittinggi salah satu penganut inovasi konstruksi masa depan tersebut, kini telah trend di berbagai belahan negara, seperti Inggris, Amerika. Konsep green building itu dikabarkan menjanjikan perkembangan ekonomi, terutama permasalahan lingkungan dan merupakan isu dan perhatian besar bagi dunia.

Hingga Agustus ini, pengisi kios di gedung Pasa Ateh telah mencapai 80 persen dan besar kemungkinan akan terus terisi hingga akhir Desember tahun ini. Rata-rata pengisi kios selain pedagang kaki lima yang terdampak pada peristiwa kebakaran pasar di 2017, juga diisi para pedagang bulanan. Jual beli di gedung itu terus bergulir, walau kondisi pandemi wabah virus korona atau covid-19 masih belum reda. Konsep ramah lingkungan itu mampu mengurangi biaya operasional dan perawatan bangunan.

“Konsep bangunan ini sangat efisien, mulai dari material, energi dan air, sehingga biaya yang dikeluarkan pemko lebih hemat dibandingkan dengan bangunan konvensional. Kita sangat bersyukur tingkat kunjungan ke Bukittinggi terus ada dan jual beli terus tumbuh di pasa ateh,” ujar Herman.

Mengitari isi gedung itu terdapat pedagang pakaian jadi, pedagang bordir, pedagang sepatu, sandal, tas dan barang elektronik. Masing-masing lantai bangunan terdapat 257 petak kios, 278 kios pada lantai dua, lantai tiga terdapat 276 kios dan lantai empat terdapat 24 kios termasuk mampu menampung sebanyak 20 Pusat Jajanan Serba Ada (Pujasera) atau Food Court, terdiri gerai-gerai makanan yang menawarkan aneka menu yang variatif. Fasilitas lainnya ada ruang untuk salat dan terdapat di lantai empat.

“Pasa Ateh saat ini menjadi pusat perhatian dan percontohan, terutama dari bentuk konstruksi yang megah, dan pemko terus berbenah dan bersinergi sehingga regulasi ekonomi pedagang untuk kemajuan kota terus meningkat,” ucapnya menutup. (hrf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.