04/12/2022
Beranda » Belajar Daring, Ortu jadi Pendidik

Belajar Daring, Ortu jadi Pendidik

Rahmi Hayati, SS

Oleh : Rahmi Hayati, SS

Saya adalah ibu rumah tangga dan mengelola bisnis jasa laundry. Selama ini persoalan belajar anak tidak ada kendala. Namun saat pandemi berubah hingga 180 derajat.

Zahid, si  bungsu saya,  sekarang terlihat senang. Senang bisa memegang handphone Umminya lebih lama dari biasa. Alasannya mengerjakan tugas sekolah. Biasanya sehari-hari boleh pegang handphone hanya satu jam, saat ini bisa lebih lama. Sesekali istirahatnya main game, saat Ummi lengah juga atau lelah seharian dengan pekerjaan.

Namun tetap ada rasa tidak puas dalam dirinya, “Mengajar Ummi tidak  seseru jika ustazah yang mengajarkan,” seperti yang pernah Zahid ungkapkan.

“Belajar di rumah juga sepi,” katanya suatu hari.

Lain lagi cerita abangnya Zahid, siswa pesantren yang masih harus mondok di pemondokan Ummi. Setiap pagi harus mengikuti pembelajaran daring lewat Gogle Class Room. Pukul 08.00 WIB harus mengisi daftar hadir. Mandi pagi juga harus sedikit memaksa si abang. Bagi ummi kedisiplinan harus ditegakkan, jangan kalah sama pesantren. Tapi Ummi harus mempunyai ekstra tenaga dan pemikiran.

Awal pembelajaran daring, Ummi pernah menangis di depan ayah, karena belum terbiasa menjadi pendidik seutuhnya. Selama ini santai saja, anak jarang ada pekerjaan rumah karena sudah tuntas di sekolah. Ummi jadi banyak kegiatan pengembangan diri, belajar tahsin, belajar bisnis, semua ruang belajar hampir diikuti. Termasuk ruang kumpul emak-emak selesai rutinitas seharian.

Tapi saat ini jauh berbeda keadaannya. Ummi harus di rumah, jadi guru juga satpam bagi anak-anak. Mencek hasil belajar tiap hari. Alhamdulillah punya banyak waktu untuk itu.

Ada dalam hati sebuah pemikiran, betapa luar biasa Allah memberikan wabah ke muka bumi. Buat orang menyadari betapa kecilnya daya khayal manusia. Belum pernah ada ibu-ibu berkhayal jadi guru dan pendidik anak-anak di rumah, dan itu serentak dilakukan manusia seluruh dunia, terutama Ummi yang bertugas sebagai ibu rumah tangga juga belajar  jadi tukang laundry.

Dalam kondisi sekarang ini agar hasil baik sesuai jadwal, anak harus dipantau  hasil belajarnya. Kalau disambil kegiatan yang lain sudah tentu tidak sesuai yang diharapkan. Semisal jadwal pembuatan tugas anak akan molor selesainya. Anak ummi  yang sekolah dasar Islam terpadu pengiriman tugas ke sekolah itu satu kali dalam satu minggu, ini sangat meringankan. Tingkat stres orang tua jadi berkurang.

Si Abang yang tingkat SMP alhamdulillah sudah mandiri mengerjakan tugas-tugasnya. Namun ada rasa gundah di hati Ummi, Zahid  yang usia sekolah dasar belum mandiri. Tugas belajar Daringnya mesti dijaga ketat dan terkadang dia mengeluh capek. Akhirnya ummi mencari di Google metode efektif pembelajaran Daring ini.

Ummi dengan keadaan ini serasa menjadi anak usia sekolah dasar. Kembali belajar bahasa Indonesia. Pelajaran bahasa yang berkesan di Mapel anak sekarang adalah tugas menemukan ide pokok dan ide tambahan. Usia kelas empat SD sudah diajarkan memahami sebuah cerita, Ummi jadi terkagum, karena Ummi berlatar belakang pendidikan bahasa dan Sastra Indonesia.

Giliran belajar matematika, jidat Ummi yang mulai berkerut  semakin bertambah kerutannya. Kembali mengutak-atik soal, mbah Google dan Youtube jadi tempat Ummi menuntut ilmu. Sedih juga belum sesempurna ustazah di sekolah dalam memberikan pemahaman pada anak.

Pernah kejadian lucu. Ummi pagi-pagi sudah berkutat menonton Youtube mempelajari pecahan. Ummi kegirangan karena berhasil memahami soal-soal pecahan. Senangnya dengan bangga memanggil si bungsu untuk segera mengerjakan soal-soal yang tertunda, tapi dengan  entengnya si anak menjawab sudah menyelesaikan tugas matematikanya, saat Ummi tidur. Katanya kakaknya yang membantu. Antara senang dan lemas.

Suatu kali memeriksa handphone si abang. Kebetulan Ummi punya handphone yang masih sedikit baik, tapi tidak bisa dipakai untuk pembelajaran daring. Suatu kali Ummi menemukan abang ternyata punya grup satu sekolah waktu sekolah dasar. Bahasa yang mereka gunakan sebagai percakapan membuat Ummi mengernyitkan kening. Bahasa gaul yang kebablasan dan hilang rasa sopan santun.  Ummi berpikir ini salah satu kelemahan anak sering memegang handphone. Alhamdulillah abang tidak ikut-ikutan, dia hanya di grup wa tapi tidak ikut terlibat obrolan. Tetap saja ini harus menjadi perhatian orang tua, bahaya terlalu sering menggunakan handphone.

Pembelajaran daringnya membuat kantong ibu-ibu kompleks menjerit. Mau demo katanya pada kepala sekolah, minta uang SPP diturunkan, buat beli pulsa. Hal ini membuat kepala sekolah harus mencari jalan keluar. Akhirnya anak-anak diberikan pembelajaran Luring selama dua kali dalam sepekan.

Lain lagi kisah bu RT ku. Mendengar banyak ibu-ibu yang mengeluh biaya internet, maka  dibukalah wifi gratis bagi anak-anak sekolah. Sudah dua pekan dibuka informasi tersebut namun belum ada anak sekolah yang datang ke rumah bu RT, barangkali  disebabkan tetap nyaman belajar di rumah.

Kesimpulannya selama belajar daring banyak memberikan kisah bermakna. Orang tua jadi pendidik sesungguhnya. Anak-anakpun dapat menemukan pendidikan akhlak dari orang tua serta interaksi anak dan orang tua lebih lama.

Para orang tua bersabarlah dengan kondisi sekarang, kita semua merasakan hal yang sama. Masih banyak saudara-saudara kita yang lebih sulit mengikuti pembelajaran daring ini. Seperti mereka yang berada jauh di pelosok desa juga kondisi ekonomi yang tidak mudah.

Setelah menulis, saya merasakan bahwa anak-anak membutuhkan peran seperti guru di sekolahnya. Lebih fokus  bersama selama pembelajaran Daring ini. Orang tua harus lebih bersabar terhadap anak di masa pandemi ini. (*)

(*) Penulis adalah Ibu Rumah Tangga dan Usaha Laudry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.