Padang, rakyatsumbar.id — Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Prof. Ir. Yassierli, ST., MT., Ph.D. mengingatkan lulusan perguruan tinggi (PT) agar tidak hanya mengandalkan ijazah untuk memasuki dunia kerja.
Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menuntut lulusan memiliki kompetensi yang terus diperbarui serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan dunia kerja.
Pesan tersebut disampaikan Yassierli saat memberikan orasi ilmiah pada Rapat Senat Terbuka Wisuda ke-72 Politeknik Negeri Padang (PNP) di Gedung PKM PNP, Sabtu (26/09/2026).
Orasi ilmiah mengangkat tema “Menjadi Talenta Adaptif di Dunia Kerja yang Terus Berubah”. Kegiatan tersebut dihadiri pimpinan PNP, civitas akademika, sejumlah kepala daerah, pimpinan kementerian dan lembaga, dunia industri serta mitra PNP, dosen dan tenaga kependidikan, serta orang tua dan keluarga wisudawan.
Turut hadir Rektor Universitas Andalas Dr. Efa Yonnedi, S.E., MPPM., Akt., CA., CRGP dan Senior Eksekutif Universitas Negeri Padang Prof. H. Ganefri, Ph.D., yang turut mendampingi kedatangan Menaker.
Dalam orasinya, Yassierli mengatakan dunia kerja sedang mengalami perubahan yang berlangsung semakin cepat. Perkembangan AI, robotika, platform digital, otomatisasi, ekonomi digital hingga pola kerja jarak jauh dan berbasis proyek telah menciptakan jenis pekerjaan baru sekaligus mengubah cara pekerjaan lama dijalankan.
Mengutip Future of Jobs Report 2025, Yassierli menyebut sekitar 22 persen pekerjaan diperkirakan terdampak perubahan. Pada saat yang sama, diproyeksikan muncul 170 juta pekerjaan baru, sementara 92 juta pekerjaan mengalami perubahan atau hilang.
Menurutnya, perkembangan AI tidak semata-mata harus dipahami sebagai ancaman terhadap pekerjaan manusia. AI juga mengubah peran dan cara manusia bekerja.
Merujuk AI Jobs Barometer PwC 2026, pada sejumlah pekerjaan AI dapat mengambil alih tugas tertentu sehingga manusia dapat lebih fokus pada pekerjaan kompleks yang membutuhkan judgement, pengambilan keputusan dan kemampuan manusiawi.
Konsep tersebut berkembang menjadi co-intelligence, yaitu kondisi ketika manusia dan AI bekerja, belajar dan beradaptasi bersama, dengan manusia tetap memegang kendali.
Karena itu, Yassierli menegaskan ijazah tetap memiliki nilai, tetapi tidak cukup menjadi satu-satunya modal memasuki dunia kerja. Dunia kerja semakin bergerak menuju pendekatan skills first, ketika kemampuan dan kompetensi yang dapat dibuktikan menjadi semakin penting.
Ia mendorong lulusan membangun dynamic skills, yakni kemampuan yang terus diperbarui, dikombinasikan dan diterapkan sesuai perkembangan dunia kerja.
Empat kelompok kemampuan yang ditekankan meliputi core and technical skills, human skills, AI collaboration skills, serta innovative and entrepreneurial mindset.
Untuk kompetensi teknis, lulusan didorong mengembangkan kemampuan melalui tahapan learn, practice, intern, certify, dan build portfolio. Dengan demikian, kompetensi tidak berhenti pada ijazah, tetapi diperkuat pengalaman, sertifikasi dan portofolio.
Sementara itu, kemampuan manusia atau human skills tetap menjadi kekuatan penting. Berpikir kritis, pemecahan masalah, komunikasi, kolaborasi, kepemimpinan, empati, integritas dan kesadaran sosial tetap dibutuhkan dalam ekosistem kerja berbasis teknologi.
Di era co-intelligence, lulusan juga dituntut memiliki kemampuan memahami bidang yang digeluti, merumuskan masalah, mengorkestrasi AI, melakukan penilaian kritis serta bertanggung jawab terhadap pemanfaatannya.
Yassierli juga mendorong lulusan memiliki entrepreneurial mindset. Kewirausahaan, katanya, bukan sekadar mendirikan bisnis, tetapi kemampuan melihat persoalan, menciptakan solusi, mengambil inisiatif dan menghasilkan nilai.
Ia mengingatkan pentingnya growth mindset dan kebiasaan belajar berkelanjutan melalui prinsip “1% Better Every Day”.
Kebiasaan sederhana seperti membaca 15 menit, belajar bahasa Inggris 30 menit, mempelajari AI 30 menit, mengerjakan satu proyek setiap semester, aktif dalam organisasi dan terlibat dalam proyek komunitas dapat menjadi bagian dari pengembangan diri.
Yassierli juga menekankan peran perguruan tinggi dalam menyiapkan talenta yang sesuai kebutuhan dunia kerja. Kampus didorong memastikan kompetensi lulusan terukur dan dapat dibuktikan, mengintegrasikan human skills, serta memperkuat hubungan dengan industri melalui portofolio, micro-credential, pembelajaran berbasis proyek dan co-design curriculum.
Dalam kesempatan itu, Menaker memaparkan sejumlah agenda Kementerian Ketenagakerjaan dalam peningkatan kompetensi SDM, antara lain transformasi Balai Latihan Kerja, Pelatihan Vokasi Nasional dengan target 340.000 peserta pada 2026, penyempurnaan Labor Market Information System (LMIS), serta Program Magang Nasional dengan target 150.000 peserta pada 2026.
Sementara itu, Direktur PNP Ir. Revalin Herdianto, S.T., M.Sc., Ph.D. dalam sambutannya menegaskan bahwa wisuda bukan sekadar seremoni akademik, melainkan awal bagi para lulusan untuk mengabdikan kompetensi yang diperoleh selama menempuh pendidikan.
“Hari ini bukanlah akhir dari perjalanan. Hari ini adalah awal dari pengabdian,” ujar Revalin.
Ia mengatakan, hingga Wisuda ke-72, jumlah alumni PNP telah mencapai 34.050 orang yang tersebar di instansi pemerintah, BUMN, perusahaan swasta nasional maupun internasional.
Menurut Revalin, PNP tidak hanya melepas lulusan, tetapi juga tenaga profesional, teknisi, engineer, entrepreneur dan calon pemimpin masa depan.
Karena itu, ukuran keberhasilan PNP tidak semata-mata dilihat dari jumlah mahasiswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan.
“Ukuran keberhasilan kita adalah ke mana mereka pergi setelah lulus, apa yang mereka kerjakan, seberapa besar manfaat yang mereka berikan kepada masyarakat, dan seberapa besar kontribusi serta dampak mereka kepada bangsa dan negara,” katanya.
Revalin memaparkan hasil tracer study PNP. Dari 1.552 lulusan tahun 2025, sebanyak 1.011 alumni memberikan respons. Dari jumlah tersebut, 677 orang tercatat telah bekerja, 27 orang berwirausaha dan 34 orang melanjutkan pendidikan.
Sementara pada Wisuda ke-72, dari total 1.695 wisudawan, sebanyak 193 orang tercatat telah bekerja dengan masa tunggu nol bulan.
Lulusan tersebut antara lain bekerja di PT LiuGong Machinery Manufacturing Indonesia sebanyak 39 orang, Kemendikdasmen–Sumbar 18 orang, PT Team Metal Indonesia 10 orang dan PT Trakindo Utama 10 orang.
Bahkan, enam wisudawan tercatat bekerja di Hungaria dan satu orang di Republik Ceko.
Namun, Revalin menyebut capaian tersebut masih menjadi pekerjaan rumah bagi PNP. Kampus terus memperkuat hubungan dengan dunia industri melalui pengembangan kurikulum bersama, program magang, project based learning, dosen praktisi dan sertifikasi kompetensi.
“PNP tidak ingin berhenti pada paradigma mahasiswa lulus, kemudian selesai. Kami ingin membangun ekosistem: masuk PNP, belajar, memperoleh kompetensi, mendapatkan pengalaman industri, memperoleh sertifikasi, membangun jejaring internasional dan akhirnya bekerja, berwirausaha atau melanjutkan pendidikan,” tegasnya.
Revalin menambahkan, PNP terus membuka akses pendidikan dan dunia kerja internasional melalui kerja sama dengan perguruan tinggi dan industri di China, Taiwan, Jepang, Malaysia dan sejumlah negara lainnya.
Salah satunya melalui program 2+1 bersama LiuGong Machinery dan Liuzhou Polytechnic University di China. Pada Batch 3 tahun 2026, sebanyak 128 mahasiswa PNP mengikuti proses seleksi program tersebut.
PNP juga mengembangkan program 2+2 joint degree dengan mitra pendidikan di Guangdong, China. Selain itu, sebanyak 36 alumni disiapkan pada 2026 untuk bekerja sebagai engineer bidang konstruksi di Jepang.
Kepada para wisudawan, Revalin berpesan agar ijazah PNP tidak hanya dijadikan tiket untuk mencari pekerjaan, tetapi menjadi paspor kompetensi untuk memasuki dunia kerja Indonesia maupun global.
“Jangan takut memulai dari bawah. Yang harus kalian jaga adalah integritas, kompetensi, disiplin, kerja keras dan kehormatan,” pesannya.
Ia berharap para lulusan mampu membawa nama baik keluarga, Sumatera Barat, Kota Padang dan PNP di mana pun berada.
“Dari Padang menuju Indonesia. Dari Indonesia menuju dunia. Dan dari dunia, kembali membawa ilmu, pengalaman, teknologi, investasi dan kemajuan untuk Indonesia,” pungkasnya.
Wisuda ke-72 PNP dilaksanakan selama tiga hari dengan total 1.695 wisudawan.
Pada Sabtu (26/9), sebanyak 596 lulusan dari Jurusan Teknik Mesin, Teknologi Informasi dan Bahasa Inggris mengikuti prosesi wisuda. Sebanyak 549 wisudawan mengikuti secara luring dan 47 secara daring.
Selanjutnya, Minggu (27/9), sebanyak 573 lulusan diwisuda, terdiri dari 451 lulusan Jurusan Teknik Elektro dan 122 lulusan Jurusan Akuntansi.
Sedangkan Senin (28/9), sebanyak 526 lulusan mengikuti prosesi wisuda, terdiri dari 246 lulusan Jurusan Teknik Sipil dan 280 lulusan Jurusan Administrasi Niaga.
Dengan demikian, sebanyak 1.695 lulusan program DIII, DIV dan Magister mengikuti rangkaian Wisuda ke-72 PNP. (mul)





