05/12/2022
Beranda » Indonesia dan Buku: Jempol Lebih Gesit dari Telapak

Indonesia dan Buku: Jempol Lebih Gesit dari Telapak

Imro Atur Rodhiyah

Oleh: Imro Atur Rodhiyah – Mahasiswa IAIN Batusangkar

Buku merupakan gabungan lembar yang dibundel dengan sampul menarik hati. Buku berisi informasi, imajinasi, fakta maupun fiksi untuk memadatkan waktu luang. Dari buku, kita bias menjadi ilmuwan, sastrawan, informan bahkan pahlawan. Siapa yang menolak pesona buku?

Bukan 23 April, Indonesia memperingati Hari Buku Nasional pada 17 Mei. Peringatan ini muncul sebagai ide dari Menteri Pendidikan, Abdul MalikFajar (2002), bertepatan dengan peringatan berdirinya gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia atau Perpusnas. Tujuannya, agar minat membaca Indonesia meningkat.

Central Connecticut State University dalam risetnya Maret 2016 lalu berjudulWorld’s Most Literate Nations Ranked, Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara soal membaca. Padahal jika menilik dari segi infrastruktur, Indonesia mendukung untuk membaca, bahkan melebihi beberapa Negara Eropa.

Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Sementara itu, wearesocial mengungkap pada Januari 2017 orang Indonesia mampu menatap layar gadget hingga sekitar 9 jam sehari. Ironis sekali, dengan kemudahan seperti itu Indonesia masih rendah sekali minat bacanya.

Melirik aktivitas warga Indonesia di jejaring sosial, sebut twitter atau instagram, Indonesia ini sangat cerewet. Tiap detik ada saja yang dikomentari. Masih segar diingatan saat netizen Indonesia ramai-ramai menghujat Han So Hee, pemeran drama Korea The World of The Married hingga diliput oleh media asli Korea sendiri. Bayangkan, betapa malunya. Mals baca buku hingga minim ilmu, rajin menatap ponsel hanya untuk seru-seru. Wajar jika Indonesia dipandang buruk, gudangnya info provokasi, hoax dan fitnah. Membedakan drama dengan real life saja susah, bagaimana mau diajak bicara serius dengan permainan logika. Kecepatan jempol mengetik jauh melebihi kecepatan otaknya bekerja, padahal belum tentu info yang disebar benar adanya.

Terakhir kali saya berkunjung ke toko buku tiga bulan lalu, tambah banyak saja ragam yang ditawarkan. Mulai dari buku cerita ternama hingga buku tebal ensiklopedia. Sayangnya, pengunjung jarang sekali melirik buku-buku tebal itu. Pembelinya bias ditebak jika bukan anak seolah haus ilmu, biasanya orang dewasa yang belajar hal itu. Pembeli lain lebih tertarik pada buku yang booming karena diangkat menjadi film, padahal sebelumitu, boro-boro beli buku. Masuk took buku saja enggan. Contohnya, saat novel Dilan diangkat menjadi film, remaja-remaja jadi memburu, tergoda rayuan romantis yang dilempar si tokoh. Novel yang sebelumnya memang best seller itu (dikalangan pecinta buku asli) jadi lebih besar penjualannya. Menguntungkan sekaligus miris. Cobatanya pembeli musiman itu, mereka tidak tahu karya kerena apalagi yang dibuat Pidi Baiq selain seri Dilan. Padahal kalau menilai gaya penulisan, tidak ada salahnya melirik karya lain yang sudah diterbitkan penulis.

Lepas dari pembeli buku musiman, masuk lagi masalah baru dalam dunia penerbitan Indonesia. Saat Indonesia menerapkan stay at home sebagai penanganan corona, banyak file pdf beredar diaplikasi whatsapp. Isinya? Buku-buku yang biasanya terpajang rapi di rak toko. Padahal penyebaran file pdf gratis ini merugikan sekali, bukan hanya pada penerbit, namun juga pada penulisnya. Penerbit memang membagikan pdf gratis lewat web resmi sebagai bentuk dukungan stay at home, tapi warga Indonesia yang kencang gratisan ini malah menyebar ulang lewat whatsapp. Berbangga malah, sampai-sampai pamer ke orang lain (yang kadang lebih tau dari orang yang pamer). Penyebaran tidak resmi itu membunuh penerbit dan penulisnya. Penulis  11:11, Fiersa Besari bahkan sampai bercuit di twitter. Jika saja individu ini membaca, padahal aman disclaimer buku biasanya ada pasal pelanggaran hak cipta. Kalau sadar, pasti taulah tindakan penyebaran tidak resmi itu bias berujung hukum. Kalau membaca, pastilah sadar.

Saya pernah bertanya pada seorang teman, kenapa enggan sekali membaca buku. Katakanlah, novel menarik karangan Tere Liye saja ia tidak melirik. Aneh memang, karena novel adalah bacaan paling dasar sebelum tertarik ke bidang lain buku. Jawabannya? Malas. Halamannya banyak. Isinya hanya tulisan. Seketika otak saya konslet. Membaca buku tentu banyak tulisannya. Kalau tidak, apa yang mau dibaca? Ya sudah, saya saranka nmembaca komik. Ada gambarnya, ada tulisannya. Jawabannya? Tidak ah, enak annonton filmnya saja. Astaga.

Membaca merupakan jalan kita menuju pemikiran yang lebih terbuka. Terserah apa medianya. Jika memang individu lebih senang bermain gadget, apa salahnya membaca lewat ponsel? Ada banyak berita, riset, penelitian, biografi dan sebagainya yang beredar di internet. Menunggu pembaca dengan kevalidan terjamin. Sayang sekali jika waktu bermain ponsel itu habis hanya untuk mengetik komentar sok tahu, julid, unfaedah. Jempol yang sudah goyang dumang itu jika tidak diajak padahal yang bermanfaat akan sama tidak bergunanya dengan telapak tangan yang menolak menyentuh buku. Bukankah akan lebih baik jika seluruh anggota tubuh ini aktif menimba ilmu, daripada memenuhi hasrat menggebu untuk tahu hidup orang baru?

Membacalah, agar ilmu ini bertambah. Membacalah, agar jempol-jempol itu tidak hanya gesit berkomentar, namun juga menuangkan pemikiran berkualitas. Membacalah, agar dirimu selamat tidak hanya dalam kehidupan sosial, namun juga akhirat.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.