Dalang Dibalik Hijaunya Laut Padang

512

– Pernah Terjadi di Teluk Lampung dan Jakarta

– Ekologi Lingkungan Menurun

Laporan: Kariadil Harefa

Padang, Rakyat Sumbar– Penyebab air laut menghijau pada pekan lalu, (23/12) di Bungus Teluk Kabung, Padang terbongkar. Bahkan, ketika fenomena alam yang berlangsung sepekan itu menarik perhatian para peneliti, pegiat lingkungan hingga jurnalis.

Membongkar dalang dibalik berpendarnya air laut di Teluk Bungus karena mikroalga (organisasi fotosintesis mikroskopis yang berada pada dasar rantai makanan-red) atau disebut Marak Alga dan atau Harmful algal bloom(HABs) hingga merembes ke perairan dan pantai Sungai Pinang, Koto XI Tarusan, Pesisir Selatan.

Wartawan Harian Rakyat Sumbar menggali informasi dari sejumlah peneliti berasal dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir-Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (LRSDKP-BRSDMKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan, akademisi dari tim Laboratorium Ekologi Hewan, Jurusan Biologi, FMIPA-Unand. Selain mengutip informasi dari masyarakat. Sebab, isu terhadap satu dari spesies fitoplankton (mikroalga) yang berkembang pesat itu jadi perbincangan hangat. Hingga dikaitkan dengan isu terkait Gunung Api di bawah laut di Bengkulu, itu diperkuat dengan temuan di lapangan dengan warga ditemukan beberapa ekor ikan mati saat naik pasang, Kamis (26/12).

Pegiat lingkungan dari Universitas Bung Hatta, Indrawadi Mantari bersama Kariadil Haerfa, jurnalis Harian Rakyat Sumbar mengambil sampel air untuk dianalisa di laboratorium. Setelah melakukan analisis serta identifikasi terhadap sampel air, ternyata air laut berubah warna hijau itu disebabkan Alga jenis Noctiluca scintillans (Pyrrophyta, Dinoflagellata). Itu berdasarkan hasil tim Laboratorium Ekologi Hewan, Jurusan Biologi, FMIPA-Unand, beranggotakan Nofrita, Izmiarti,  Riska Safrinawaty, Surya Fajri A Abdul Hakam, Bayu Afnovandra.

Noctiluca merupakan jenis Dinoflagellate laut yang tergabung dalam famili Nocticulaceae yang hanya terdiri dari satu spesies yaitu Noctilucascintillans,” kata Nofrita, Minggu (29/12).

Terangnya, kalau jenis itu bersifat kosmopolit dan umumnya bersifat heterotroph memakan plankton laut lainnya dengan cara fagositosis, yaitu dengan cara menggulung sel asing atau sel yang dianggap makanannya.

“Jika warna laut menjadi merah biasanya disebut redtide atau pasang merah, sedangkan pada kasus ledakan populasi alga yang terjadi di perairan Bungus Teluk Kabung dan Sungai Pinang disebut Green tides atau pasang hijau, dimana warna air laut berubah menjadi berwarna hijau,” kata dosen pengampu mata kuliah Planktonologi.

Peristiwa di teluk itu dapat dikaitkan dengan beberapa hal, yakni adanya perubahan musim dan pergerakan arus laut di kawasan pantai, perubahan iklim global yang menyebabkan suhu air laut menjadi lebih hangat dan peningkatan keasaman air laut. Serta tingginya nutrient berupa nitrat dan fosfat. Ini sekaitan dengan noctilucascintillans memakan plankton laut, karena organisme itu memiliki vakuola makanan yang berfungsi menyimpan mangsa yang telah di fagositosis(proses dimana sel-sel hidup tertentu yang disebut fagosit menelan atau memakan sel lain atau partikel-red).Kemudian, reproduksi noctiluca scintillans melalui pembelahan biner (pembelahan sel menjadi dua sel anakan-red) atau pembelahan ganda yang menghasilkan lebih dari dua.

Cara perkembangbiakan seperti itu memberikan kontribusi pertumbuhan populasi secara drastis jika nutrien melimpah di perairan dan parameter lingkungan lainnya mendukung. Peristiwa itu pula diperkuat dengan faktor musim hujan. Menyebabkan tingginya debit air beberapa sungai membawa serta nutrien berupa nitrat dan fosfat serta jenisnya (amonia,urea,atau dalam bentuk ion) yang bermuara dekat pantai.

“Faktor lain yang terbawa nutrien seperti hasil limpahan dari lahan pertanian dan limbah rumah tangga. Terjadi blooming pun diperkuat lagi dengan arus teluk yang lemah, sehingga semua nutrien terakumulasi di kawasan itu,” terangnya.

Air laut berwarna hijau dan sempat viral serta mencemaskan itu, dikarenakan meningkatnya noctiluca scintillansberelaborasi dengan banyaknya pigmen hijau yang berasal dari alga hijau (Chlorophyta: Prasinophytina) yang terdapat di dalam vakuola makanan noctiluca scintillans.  Nofrita tidak menampik terkait tewasnya ikan, “Ikan mati itu jenis Myripristis tiki dan Leiognatus Equula,” katanya.

Diketahuinya penyebab kematian ikan tersebut, setelah Indrawadi mengambil beberapa sampel ikan mati paska terjadinya marak alga untuk dilakukan analisa ingsang dan lambung. Nofrita membeberkan, kalau itu memangsalah satu dampaknya. Karena telah memproduksi toksin atau akibat dekomposisi alga yang mati.Artinya, toksin yang dihasilkan alga beracun akan masuk ke rantai makanan berikutnya dan akan terakumulasi pada kerang-kerangan, ikan dan lainnya.

“Ketika biota laut tersebut termakan oleh kita akan menyebabkan keracunan yang menyerang saraf,” jelasnya.

Hanya saja, HABs dari populasi noctiluca scintillans tidak akan menyebabkan keracunan pada biota laut. Sebabtidak mengandung racun. “Masyarakat tidak perlu khawatir untuk mengonsumsi ikan dari lautan yang berubah warna di kawasan Bungus,” terangnya.

Masyarakat harus tahu, ketika blooming dan mati, akan mudah terdekomposisi. Sehingga menguras oksigen yang ada di bawah permukaan air serta dapat menghasilkan amoniak. Kemudian, menyebabkan ikan kesulitan dalam mengambil oksigen. Artinya, kematian ikan juga dipicu alga yang mulai mengalami fase kematian. Ditandai dengan bau amis di perairan tersebut.

Jelasnya, alga yang mati akan mengendap di dasar perairan dan akan terjadi proses dekomposisi yang akan menyebabkan deplesi oksigen. Keadaan ini juga menjadi faktor penyebab kematian ikan di perairan Bungus Teluk Kabung.

“Dari hasil pemeriksaan ditemukan banyak sekali individu noctiluca scintillans di dalam insang ikan yang mati tersebut,” ucap dosen pengampu ekologi hewan.

Langkah antisipasi yang harus dilakukan, Nofrita menjelaskan, jika penyebabnya akibat perubahan cuaca. Maka fenomena tersebut tidak bisa terelakkan. Tapi, bisa dampaknya dikurangi dengan mencegah terjadinya perubahan suhu bumi, misalnya dengan meminimalkan pembukaan lahan. Penggunaan pupuk juga harus dikurangi terutama pada area lahan yang dekat dengan hulu-hulu sungai yang nantinya bermuara ke laut.

“Bagi industri, pabrik, atau pun usaha rumah tangga yang berada di sekitar laut, haruslah memperhatikan limbah atau buangan mereka agar kondisi serupa tidak sering terjadi,” katanya menyarankan.

Konfirmasi terpisah dengan peneliti Bidang Oseanografi LRSDKP-BRSDMKP-KKP, Ulung Jantama Wisha saat diskusi melalui Whatsapp mengatakan, tim peneliti Loka Riset Kerentanan dan Sumber Daya Pesisir (LRSDKP) Bungus telah melakukan survei. Pengecekan kondisi kualitas perairan. Dugaan awal terjadinya blooming fitoplankton mungkin dipicu oleh peningkatan zat hara secara signifikan, akibat dari kondisi cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini.

Terangnya, survei dilakukan dengan pengukuran secara langsung di lapangan dengan menggunakan instrumen TOA DKK water quality checker pada lokasi-lokasi yang diperkirakan memiliki kelimpahan fitoplankton yang tinggi. Ditandai dengan warna hijau yang lebih pekat.

“Mulai dari kondisi pH, konduktivitas, suhu, salinitas, TDS, dan densitas tidak mengalami degradasi yang signifikan,” katanya.

Katanya, nilai pH dapat dikatakan normal berkisar antara 7,24-8,56 dan sesuai dengan baku mutu air laut untuk mendukung biota laut yakni berkisar antara 7-8,5. Untuk parameter suhu, nilai yang didapatkan cukup tinggi yakni berkisar antara 30,6-33,2oC,

“Nilai tersebut melampaui baku mutu, namun dirasa wajar karena pengukuran dilakukan pada lapisan permukaan perairan dimana terekspos panas matahari secara langsung terjadi maksimal pada siang hari,” katanya.

Kemudian nilai salinitas juga cukup stabil berkisar antara 24,8-32,4 o/oo, pada beberapa lokasi teridentifikasi bahwa salinitas cukup rendah, hal tersebut wajar karena adanya pengaruh air tawar dari darat yang melalui sungai dan muara sehingga menurunkan kadar garam pada beberapa lokasi tersebut.

“Dari hasil analisis ternyata ada hubungan relatif berbanding terbalik antara oksigen terlarut (DO) dan Klorofil-a,” sebut Ulung.

Itu diperkuat nilai DO cenderung rendah, maka nilai klorofil-a sangat tinggi dan sebaliknya. Kondisi tersebut merupakan salah satu indikasi terjadinya blooming alga (marak alga), perairan mengalami ledakan populasi fitoplankton yang membuat penampakan perairan menjadi hijau.

“Marak alga terjadi karena proses eutrofikasi atau penyuburan pada perairan akibat dari penumpukan bahan anorganik di dasar perairan, maupun yang berasal dari darat sehingga memberikan suplai makanan bagi plankton untuk tumbuh subur dan memperbanyak diri,”jelas Ulung.

Melihat kondisi cuaca ekstrem yang terjadi beberapa hari belakangan ini, suplai zat anorganik ke perairan laut dengan konsentrasi yang cukup tinggi. Mungkin jelasnya, terjadi melalui sungai dan muara dan sistem run off.Zat anorganik tersebut dapat berupa senyawa fosfat (P) maupun nitrat (N) dan turunannya. Zat anorganik tersebut diperkirakan dapat berasal dari limbah rumah tangga dan industri, maupun proses dekomposisi dari bahan organik.

“Nah, bila terjadi akumulasi zat hara hingga mencapai konsentrasi yang tinggi (eutrofikasi) maka dapat memicu blooming alga. Saat terjadi eutrofikasi dan blooming alga,” paparnya.

“Maka terdapat beberapa degradasi lingkungan yaitu terhalangnya penetrasi cahaya matahari yang dapat mengganggu proses fotosintesis dan respirasi,” menambahkan.

Selain itu terjadi kondisi anoxia (menurunnya kadar oksigen di perairan secara drastis-red) karena terhalangnya transfer oksigen dari atmosfer oleh ledakan fitoplankton yang mana oksigen dari atmosfer digunakan secara langsung oleh fitoplankton untuk melakukan fotosintesis. Sehingga asupan oksigen ke perairan yang lebih dalam akan terhambat. Selain itu, terjadinya persaingan antara biota laut dan bakteri aerob untuk respirasi dan proses dekomposisi juga memicu rendahnya konsentrasi oksigen di perairan.

“Kita dapat lihat dari dengan nilai DO hasil pengukuran yang sangat rendah terutama di daerah Cindakir dan Sungai Pisang yakni berkisar antara 0,52-3,83 mg/L, konsentrasi tersebut sangat rendah jika dibandingkan dengan baku mutu air laut yang dikatakan normal pada kisaran >5 mg/L,” terang Ulung.

Hanya saja sambungnya, masalahnya adalah ketika malam hari maka proses fotosintesis akan berhenti karena tidak adanya cahaya matahari sehingga suplai oksigen di perairan pun berkurang. Dalam kondisi seperti ini maka bakteri pengurai akan bekerja secara anaerob (tanpa oksigen) sehingga zat yang dihasilkannya adalah zat-zat yang bersifat toksin yang buruk bagi organisme akuatik. Sebab, di lokasi yang terjadi, anoxia (Cindakir dan Sungai Pisang) nilai konsentrasi klorofil-a terlampau tinggi yakni berkisar antara 83,6-393 mg/L.

“Sehingga dapat disimpulkan bahwa fenomena laut menjadi hijau di Teluk Bungus merupakan peristiwa ledakan alga yang memang dapat terjadi di perairan,” katanya.

Hasil laboratorium terkait blooming alga

Peneliti Bidang Oseanografi LRSDKP-BRSDMKP-KKP menyimpulkan, fenomena air laut menjadi hijau di teluk Bungus karena kondisi anoxia (kadar oksigen yang rendah) dan nilai klorofil-a yang sangat tinggi terutama pada kawasan Cindakir dan Sungai Pisang.

Jurnalis Harian Rakyat Sumbar yang turut menggali informasi, bahkan mendapatkan data di lapangan, melakukan diskusi dengan peneliti Plankton Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Arief Rachman via Whatsapp.

Katanya, umumnya blooming seperti ini durasinya pendek di Indonesia, berkisar 2-5 hari. Walau demikian, ia menyarankan agar pemerintah setempat (Sumbar) melakukan pemantauan. Apa yang ia khawatirkan terkait diiringi kematian ikan sejak awal, pun terjadi. Walau di lapangan tidak secara massal, ia sempat  menyarankan agar tidak mengonsumsi ikan hasil tangkapan di wilayah terdampak.

Noctiluca scintillans ini termasuk kelompok Dinoflagellata yang berdasarkan catatan kami, cukup sering mengalami blooming (marak alga) di beberapa perairan pesisir di Indonesia,” katanya.

Peristiwa semacam  itu pernah terjadi di Teluk Lampung dan Teluk Jakarta. Katanya, jika blooming dengan densitas sel sangat padat, memang akan mengakibatkan laut berubah warna menjadi kehijauan dan dapat diikuti oleh ikan mati (fish kill/mass fish mortality) karena perairan kehabisan oksigen (anoxia).

Noctiluca scintillans pada dasarnya tidak memproduksi senyawa toksin, namun seringkali membawa bakteri patogen untuk beberapa jenis ikan, sehingga juga dapat merugikan pengusaha KJA (keramba jaring apung). Yang seperti ini pernah, dan beberapa kali, terjadi di perairan Teluk Lampung,” tuturnya.

Setahu peneliti di bawah peneliti di lembaga pemerintah non kementerian RI yang dikoordinasikan oleh Kementerian Negara Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (KMNRT), jenis Noctilluca yang blooming di Indonesia. Karakternya sama.

“Untuk Ambon, sepertinya sih dlm beberapa tahun ini (5 thn ini) belum ada laporan blooming Noctiluca. Kalau yang baru tahun ini adalah blooming Goniaulax yang membuat perairan Teluk Ambon memerah (red tide),” kata Arief.

Sambungnya, ketika blooming begitu (Teluk Bungus dan Sungai Pinang) berdampak pada kematian ikan, bisa yang terjadi adalah sel-sel Noctiluca yang memang ukurannya besar.

“Tersangkut di insang dan membuat ikan ‘tercekik’ kalau insangnya penuh dengan Noctiluca atau fitoplankton lain pas blooming. Jadi ikan bisa mati karena memang oksigen di air habis atau karena tercekik (atau kalau kayak di manusia, tersedak) sel-sel Noctiluca,” katanya lagi.

Sumber: Loka Riset Sumber Daya Dan Kerentanan Pesisir

Hal senada dari peneliti sebelumnya, pemicunya juga karena unsur hara tinggi di perairan, seperti nitrat (NO3), amonia (NH3), fosfat (PO4), silika (Si), besi (Fe).

“Tapi sekadar tinggi konsentrasinya saja belum tentu blooming, ada kombinasi tertentu yang memicu blooming, dan itu beda-beda tiap jenis fitoplankton,” tukuknya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here