UNP Sulap Limbah Banjir Jadi Kerajinan dan Biochar

Foto bersama Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) 2026 kawasan pesisir Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
Foto bersama Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) 2026 kawasan pesisir Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.

Padang, rakyatsumbar.id— Tumpukan kayu hanyut yang sebelumnya memenuhi kawasan pesisir Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, pascabanjir bandang akhir 2025, kini mulai berubah menjadi sumber nilai ekonomi bagi masyarakat.

Melalui Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) 2026, dosen dan mahasiswa Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Padang (UNP) mendampingi warga mengolah kayu tersebut menjadi produk kerajinan dan biochar.

Program bertajuk Solusi Hijau Pascabanjir: Pemanfaatan Kayu Hanyut sebagai Strategi Pemberdayaan dan Edukasi Lingkungan Masyarakat Kelurahan Pasie Nan Tigo Kota Padang tersebut diketuai Dr. Zulyusri, M.P., bersama anggota Dr. Helendra, M.S. dan Dr. Heffi Alberida, M.Si. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Regina Faradika, Syahrul Ihsan dan Viola sebagai pendamping lapangan.

Ketua tim pengabdian, Dr. Zulyusri, MP, mengatakan program itu berangkat dari persoalan lingkungan akibat menumpuknya kayu hanyut di kawasan pesisir.

Kayu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah bencana dinilai masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bernilai tambah sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.

“Kayu hanyut yang sebelumnya dianggap sebagai masalah lingkungan ternyata dapat menjadi sumber nilai tambah ekonomi. Melalui pelatihan dan pendampingan yang tepat, masyarakat mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai jual sekaligus menjaga lingkungan pesisir,” ujar Dr. Zulyusri saat dihubungi Harian Rakyat Sumbar, Selasa (22/09/2026)

Menurutnya, pendekatan yang digunakan dalam program tersebut tidak sekadar menghilangkan tumpukan kayu dari pesisir, tetapi juga mendorong penerapan ekonomi sirkular berbasis potensi lokal.

Biomassa kayu dimanfaatkan menjadi berbagai kerajinan seperti kursi, meja, gantungan baju dan jam dinding, sementara sebagian lainnya diolah menjadi biochar dan biochar kompos.

Untuk memperkuat keberlanjutan program, masyarakat membentuk kelompok usaha SERBAUSAHA yang menjadi wadah produksi sekaligus pengembangan kegiatan ekonomi warga.

Kelompok tersebut sebelumnya beranggotakan masyarakat tani dan nelayan setempat dan mendapat pendampingan dalam aspek produksi, pembukuan sederhana, branding hingga pemasaran digital.

Dr. Zulyusri menjelaskan, tim UNP juga memperkenalkan teknologi sederhana untuk mengolah kayu hanyut menjadi biochar melalui metode pirolisis. Teknologi tersebut dirancang agar dapat dioperasikan masyarakat dengan biaya relatif rendah dan tetap memperhatikan aspek lingkungan.

“Teknologi yang kami terapkan sengaja dirancang sederhana, hemat biaya, rendah emisi, dan mudah dioperasikan oleh masyarakat. Harapannya, warga mampu menghasilkan produk kerajinan seperti lampu hias, bingkai foto, rak mini, hingga dekorasi rumah, dengan nilai jual yang meningkat dibandingkan jika kayu hanya dijual sebagai kayu bakar,” jelasnya.

Dari rangkaian kegiatan yang dilakukan selama enam bulan, evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan kayu hanyut dan biochar.

“Kesiapan kewirausahaan juga meningkat, terutama dalam pemahaman mengenai pengelolaan usaha, pemasaran digital dan pengembangan produk. Evaluasi dilakukan terhadap peserta yang mengikuti rangkaian program melalui pengukuran sebelum dan sesudah kegiatan,” jelasnya.

Hasil nyata program tersebut terlihat dari produk yang telah dihasilkan kelompok SERBAUSAHA. Selain berbagai kerajinan berbahan kayu hanyut, kelompok juga menghasilkan biochar dan biochar kompos yang telah dikemas menggunakan label produk. Hingga penyusunan laporan, nilai penjualan produk yang terdokumentasi mencapai Rp3,15 juta.

Program pengabdian tersebut tidak hanya menyasar masyarakat, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa UNP melalui skema experiential learning. Mahasiswa terlibat langsung dalam proses edukasi, pelatihan produksi, pendampingan kelompok usaha hingga evaluasi.

Tim UNP juga melanjutkan pendampingan untuk memastikan keterampilan dan usaha yang telah dibangun dapat berkembang secara berkelanjutan.

Dr. Zulyusri berharap pemanfaatan kayu hanyut di Pasie Nan Tigo dapat menjadi contoh pemberdayaan masyarakat pascabencana yang menggabungkan kepedulian lingkungan dan peningkatan ekonomi warga.

“Kami berharap program ini menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jika berhasil, model ini sangat memungkinkan direplikasi di wilayah pesisir lain yang terdampak bencana sehingga mampu memperkuat ketahanan sosial dan ekologis masyarakat,” pungkasnya. (edg)