Padang, Rakyat Sumbar — Lebih dari dua bulan menempati lokasi penampungan sementara di depan Kolam Renang Teratai, kawasan GOR Agus Salim Kota Padang, sejumlah pedagang masih mengeluhkan belum tersedianya fasilitas dasar berupa air bersih dan listrik.
Para pedagang yang sebelumnya beraktivitas di kawasan GOR Agus Salim berharap pemerintah dapat segera memberikan solusi agar mereka tetap bisa menjalankan usaha dengan kondisi yang lebih layak.
Salah seorang pedagang, Aril yang akrab disapa Pak Ariang (70), mengungkapkan kondisi tanpa fasilitas air bersih membuat biaya hidupnya meningkat secara signifikan. Ia mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk memenuhi kebutuhan mandi sehari-hari.
“Untuk mandi saja, rata-rata sehari habis sekitar Rp40 ribu. Kalau dihitung satu bulan bisa mencapai sekitar Rp1,2 juta,” ujar Pak Ariang.
Menurutnya, biaya tersebut cukup berat karena penghasilan mereka dari berjualan makanan ringan dan kue tidak terlalu besar. Pengeluaran tambahan itu dinilai semakin membebani pedagang kecil yang tengah berusaha bertahan setelah dipindahkan ke lokasi sementara.
“Kami hanya jualan kue dan makanan ringan. Keuntungan tidak seberapa, tapi harus keluar biaya besar hanya untuk kebutuhan mandi,” katanya.
Selain persoalan air untuk kebutuhan sehari-hari, pedagang juga mengeluhkan belum tersedianya aliran listrik di lokasi tersebut. Mereka menilai fasilitas dasar seharusnya menjadi perhatian setelah pemerintah melakukan pemindahan aktivitas perdagangan.
Pedagang juga menyebut air yang tersedia di mushala Kantor KNPI Sumatera Barat tidak dapat digunakan untuk kebutuhan minum karena hanya diperuntukkan untuk berwudhu. Bahkan, menurut mereka, mushala tersebut terkadang dalam kondisi tertutup sehingga menyulitkan pedagang.
“Air di musala hanya untuk wudu, tidak bisa untuk minum. Kami berharap ada solusi agar kebutuhan dasar kami terpenuhi,” ungkapnya.
Keluhan tersebut juga mendapat perhatian dari sejumlah pengunjung kawasan GOR Agus Salim. Mereka menilai keberadaan fasilitas air minum merupakan kebutuhan mendasar yang semestinya dipenuhi bagi pedagang yang setiap hari melayani masyarakat.
Salah seorang pengunjung, Pak Man (65), mengatakan kondisi tersebut cukup memprihatinkan karena pedagang merupakan bagian dari aktivitas ekonomi di kawasan GOR Agus Salim.
“Pedagang di sini mencari nafkah. Kalau fasilitas dasar seperti air minum saja belum tersedia, tentu akan menyulitkan mereka. Pemerintah harus melihat kondisi ini dan memberikan solusi,” ujar Pak Man.
Senada dengan itu, Egi (45), pengunjung lainnya, berharap persoalan fasilitas pedagang tidak dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, penyediaan air bersih merupakan kebutuhan sederhana namun sangat penting.
“Kalau pedagang tidak nyaman, pembeli juga bisa ikut terdampak. Apalagi air minum adalah kebutuhan utama. Semoga segera ada perhatian dari pihak terkait,” kata Egi.
Pak Ariang menilai pihak terkait perlu memberikan perhatian lebih terhadap kondisi para pedagang yang saat ini berada di lokasi penampungan sementara.
“Kami merasa setelah dipindahkan ke sini, fasilitas seperti air minum dan listrik belum menjadi perhatian. Kami berharap Dispora Sumbar bisa melihat kondisi kami,” katanya.
Selain air dan listrik, pedagang juga meminta agar akses masuk dari arah tepi sungai dapat dibuka. Menurut mereka, keberadaan portal tersebut membuat akses pembeli menuju lokasi dagangan menjadi lebih sulit.
“Kami tidak meminta yang berlebihan. Kami hanya berharap diberikan air minum, listrik, dan akses agar pembeli lebih mudah datang,” ujar Pak Ariang.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Sumatera Barat belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan para pedagang tersebut.(fwi)





