Menjaga Api yang Tak Pernah Padam

16 Tahun Rakyat Sumbar: Kreatif, Inovatif, dan Kolaboratif

Catatan:  Revdi Iwan Syahputra (Pemred Harian Umum Rakyat Sumbar)

Enam belas tahun lalu, tepat pada 1 Juni 2010, sebuah koran lahir dengan mimpi yang sederhana: menjadi media yang dekat dengan rakyat, berbicara dengan bahasa rakyat, dan tumbuh bersama rakyat.

Koran itu bernama Rakyat Sumbar.

Hari ini, ketika usia itu genap 16 tahun, saya memandang perjalanan ini bukan sekadar angka. Di dalamnya ada kerja keras, pengorbanan, keyakinan, kegelisahan, persahabatan, dan semangat yang terus menyala dari generasi ke generasi.

Ada begitu banyak cerita yang tersimpan di balik setiap lembar koran yang terbit setiap pagi. Ada ribuan peristiwa yang kami catat, jutaan kata yang kami tulis, dan tak terhitung langkah yang kami tempuh untuk memastikan informasi sampai kepada masyarakat.

Enam belas tahun adalah usia yang cukup untuk membuat kita menoleh ke belakang sejenak. Bukan untuk larut dalam nostalgia, melainkan untuk memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan melangkah.

Ketika berbicara tentang sejarah Rakyat Sumbar, saya selalu meyakini bahwa setiap media besar lahir dari gagasan besar. Dan di balik gagasan besar itu selalu ada orang-orang yang berani bermimpi.

Di masa awal kelahirannya, salah satu sosok yang memiliki peran penting adalah almarhum Sutan Zaili Asril.

Bagi banyak wartawan di Sumatera Barat, beliau bukan sekadar insan pers. Beliau adalah seorang pemikir media. Seorang arsitek gagasan yang mampu melihat peluang ketika orang lain melihat keterbatasan.

Di tangan dan pikirannya, benih-benih lahirnya Rakyat Sumbar mulai ditanam. Bersama tim awal yang dipimpin Firdaus Abie dan sejumlah awak media lainnya, beliau ikut merancang fondasi yang kemudian menjadi pijakan perjalanan panjang koran ini.

Saat itu, membangun media bukan pekerjaan mudah. Apalagi media baru.

Harus membangun kepercayaan pembaca dari nol. Membentuk jaringan distribusi. Merekrut wartawan. Menyiapkan sistem kerja. Menyusun strategi bisnis. Dan yang lebih penting, membangun identitas agar memiliki tempat di hati masyarakat.

Namun mereka percaya bahwa Sumatera Barat membutuhkan media yang lahir dari tanahnya sendiri. Media yang memahami denyut nagari, mengenal karakter masyarakatnya, dan mampu menjadi jembatan antara rakyat dengan berbagai kekuatan yang memengaruhi kehidupan mereka.

Keyakinan itulah yang menjadi fondasi awal Rakyat Sumbar.

Perjalanan waktu kemudian membawa Rakyat Sumbar memasuki fase berikutnya.

Dalam perjalanan itu, hadir sosok Ahmad Dardiri, yang bagi saya merupakan salah satu figur paling penting dalam sejarah perkembangan Rakyat Sumbar.

Sebagai CEO Riau Pos Group, Ahmad Dardiri datang bukan sekadar membawa pengalaman panjang mengelola media. Ia membawa visi, perspektif, dan keberanian untuk memastikan bahwa Rakyat Sumbar tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.

Jika Sutan Zaili Asril adalah salah satu arsitek lahirnya Rakyat Sumbar, maka Ahmad Dardiri adalah figur yang memperkuat bangunan besar itu agar tetap tegak menghadapi berbagai badai.

Beliau memahami bahwa media bukan hanya soal berita, melainkan soal keberlanjutan. Bagaimana sebuah perusahaan pers mampu hidup, tumbuh, dan tetap menjalankan fungsi jurnalistiknya di tengah perubahan yang terus berlangsung.

Bersama Ahmad Dardiri, nama-nama seperti Firdaus Abie dan kemudian Sukri Umar menjadi bagian dari mata rantai kepemimpinan yang menjaga arah perjalanan perusahaan.

Mereka hadir pada zamannya masing-masing. Menghadapi tantangannya masing-masing. Namun memiliki tujuan yang sama: menjaga agar Rakyat Sumbar tetap hidup dan relevan.

Lalu datanglah era yang mungkin menjadi ujian terbesar bagi industri media.

Era disrupsi digital.

Internet mengubah semuanya.

Media sosial mengubah cara masyarakat memperoleh informasi.

Berita tidak lagi menunggu pagi. Informasi hadir setiap detik dalam genggaman.

Kecerdasan buatan mulai mengubah cara kerja manusia.

Algoritma menentukan apa yang dibaca dan apa yang diabaikan.

Di tengah perubahan itu, banyak media tumbang.

Banyak yang kehilangan pembaca.

Banyak yang menyerah.

Sebagian bahkan hanya tinggal nama.

Namun Rakyat Sumbar memilih jalan yang berbeda.

Kami memilih bertahan.

Kami memilih beradaptasi.

Kami memilih berubah tanpa kehilangan jati diri.

Karena kami percaya, teknologi memang berubah, tetapi kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang akurat, terpercaya, dan bertanggung jawab tidak pernah berubah.

Karena itulah hingga hari ini, koran cetak tetap kami pertahankan.

Bukan karena kami anti-perubahan.

Justru karena kami menghormati perubahan.

Kami percaya bahwa masa depan media bukan memilih antara cetak atau digital. Masa depan media adalah bagaimana keduanya saling menguatkan.

Karena itu, di saat koran tetap hadir setiap pagi, transformasi digital juga terus kami percepat melalui Rakyatsumbar.id dan berbagai platform digital lainnya.

Perjalanan ini tentu tidak mungkin dilakukan sendirian.

Di ruang redaksi hari ini, saya beruntung didampingi banyak orang hebat yang memiliki semangat yang sama untuk menjaga marwah jurnalisme.

Salah satunya adalah Jon Kenedi, atau yang akrab dipanggil Jonkey.

Bagi saya, Jonkey bukan sekadar Wakil Pemimpin Redaksi Harian Rakyat Sumbar atau Pemimpin Redaksi Rakyatsumbar.id.

Ia adalah salah satu pengawal utama dapur redaksi.

Sosok yang memahami ritme kerja newsroom dari pagi hingga larut malam.

Sosok yang mampu menjaga keseimbangan antara tuntutan kecepatan media digital dengan kedalaman dan ketelitian jurnalisme cetak.

Dalam banyak hal, kami adalah pasangan kerja yang saling melengkapi.

Ketika ruang redaksi bergerak dalam dua dunia sekaligus—cetak dan digital—kolaborasi menjadi kunci utama.

Dan saya percaya, kekuatan sebuah media tidak pernah hanya ditentukan oleh satu orang. Ia lahir dari kerja kolektif banyak orang yang memiliki visi yang sama.

Karena itulah, pada Hari Ulang Tahun ke-16 ini, Rakyat Sumbar kembali mengusung tema yang pernah menjadi semangat bersama pada 2023:

Kreatif, Inovatif, dan Kolaboratif

Tema ini bukan sekadar rangkaian kata.

Ini adalah arah perjalanan.

Kreatif dalam menghasilkan karya jurnalistik yang bermutu.

Inovatif dalam menghadapi perubahan teknologi yang terus berkembang.

Kolaboratif dalam membangun sinergi dengan masyarakat, pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, diaspora Minangkabau, dan seluruh elemen yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan daerah.

Karena masa depan tidak dibangun oleh mereka yang berjalan sendiri.

Masa depan dibangun oleh mereka yang mampu bekerja bersama.

Enam belas tahun lalu, Rakyat Sumbar lahir dari sebuah mimpi.

Hari ini, mimpi itu masih hidup.

Masih menyala.

Masih diperjuangkan.

Dari almarhum Sutan Zaili Asril yang membidani kelahirannya, Ahmad Dardiri yang memperkuat fondasinya, Sukri Umar yang mengawal pertumbuhannya, hingga seluruh wartawan, redaktur, karyawan, agen, mitra usaha, dan pembaca yang setia membersamainya.

Mereka semua adalah bagian dari sejarah yang membuat Rakyat Sumbar tetap berdiri hari ini.

Dan selama masih ada masyarakat yang membutuhkan informasi yang jujur, independen, dan mencerahkan, selama itu pula Rakyat Sumbar akan terus hadir.

Boleh jadi teknologi akan terus berubah.

Platform akan terus berganti.

Cara orang membaca berita akan terus berkembang.

Namun satu hal yang tidak boleh berubah adalah komitmen untuk menjaga kepercayaan publik.

Karena pada akhirnya, itulah modal terbesar sebuah media.

Dan itulah api yang selama 16 tahun ini terus kami jaga agar tidak pernah padam.

Selamat Ulang Tahun ke-16 Harian Umum Rakyat Sumbar.

Kreatif. Inovatif. Kolaboratif.

Tetap tumbuh. Tetap dipercaya. Tetap menjadi suara rakyat Sumatera Barat.(*)