Padang, Rakyat Sumbar — Konsistensi, komitmen, dan loyalitas S. Budi Syukur Datuak Bandaro Jambak terhadap dunia olahraga Sumatera Barat tak lagi memerlukan pembuktian. Dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) 2026, ia menjadi satu-satunya tokoh dari Sumatera Barat yang menerima Anugerah SIWO PWI Pusat, sebuah penghargaan prestisius bagi figur yang dinilai memberi kontribusi nyata dan berkelanjutan bagi olahraga Indonesia.
“Dari rekam jejaknya, beliau dikenal sebagai sosok bertangan dingin dan bertuah. Cabang olahraga yang dipimpinnya hampir selalu berbuah emas, baik di PON maupun kejuaraan nasional. Terbaru di PASI, sebelumnya di PRSI, selalu mampu mengibarkan bendera tuah sakato Sumbar,” ujar Ketua JPS, Adrian Toaik Tuswandi, Sabtu (7/2/2026) di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang Pariaman.
Penghargaan ini menegaskan posisi Budi Syukur bukan sekadar sebagai pengurus, melainkan pelanjut mata rantai sejarah pembinaan olahraga Sumatera Barat, sosok yang dinilai bukan dari banyaknya jabatan, tetapi dari jejak pengabdian yang ia tinggalkan.
Namanya hidup dalam ingatan atlet, pelatih, pengurus, hingga masyarakat olahraga. Ia adalah S. Budi Syukur Datuak Bandaro Jambak, SH, pemimpin yang membangun dengan ketulusan, bekerja dalam kesenyapan, dan memberi tanpa batas.
Dari Padang, Menanam Nilai Kepemimpinan
Lahir di Padang, 8 Februari 1962, Budi tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai disiplin, kebersamaan, dan komitmen. Nilai-nilai itulah yang membentuk karakter kepemimpinannya, baik dalam dunia usaha sebagai Direktur Utama PT Bersama Sejahtera Mandiri, maupun dalam pengabdiannya di berbagai organisasi sosial, ekonomi, dan olahraga.
Pendidikan formalnya ditempa sejak SD 41 Padang, SMP Negeri 3 Padang, SMA Negeri 1 Padang, hingga meraih gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Andalas pada 1989. Semangat belajar yang tak pernah padam membawanya meraih Magister Business Administration dari Unimay University Malaysia (2025), serta melanjutkan pendidikan Magister Manajemen di Universitas Sumatera Barat.
Dedikasi di Banyak Ruang Pengabdian
Di dunia organisasi, Budi Syukur dikenal sebagai representasi dedikasi dan ketenangan. Ia dipercaya memimpin dan berperan di berbagai lembaga strategis, di antaranya Ketua Umum PKPS Sumbar, Ketua Umum ISMI Sumbar, Ketua DPD Organda Sumbar, Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Sumbar, hingga Ketua Dewan Penyantun KONI Sumbar.
Ia juga mengemban amanah sebagai Dewan Kehormatan PMI Sumbar, Dewan Kehormatan Peradi Sumbar, serta menjalankan peran adat sebagai Panghulu Suku Jambak Nagari Air Haji, Pesisir Selatan, dengan gelar Datuak Bandaro Jambak.
Namun denyut pengabdian terkuatnya berirama di dunia olahraga.
Atletik Sumbar dan Tangan Dingin Pembinaan
Budi Syukur dipercaya memimpin Pengprov PASI Sumatera Barat selama tiga periode, sebuah masa kepemimpinan langka yang mencerminkan kepercayaan kolektif pengurus kabupaten/kota. Sejak masuk PASI pada 2010, ia bahkan kerap dipilih secara aklamasi, meski tidak pernah secara aktif mengejar jabatan.
Dalam kepemimpinannya, ia membangun kultur pembinaan yang disiplin, konsisten, dan sabar. Atletik Sumbar yang sebelumnya berjalan biasa, menjelma menjadi kekuatan nasional. Talenta muda bermunculan, pelatih bekerja lebih tenang, dan organisasi bergerak lebih tertata.
Puncaknya, menjelang Asian Games 2018, sebanyak 11 atlet Sumatera Barat dipanggil ke Pelatnas—sebuah capaian historis. Regenerasi pun terus berjalan, dibuktikan dengan prestasi atlet-atlet muda Sumbar di SEA Youth Athletics Championship.
Kepercayaan nasional mengiringi langkahnya. Ia dipercaya menjadi Anggota Komisi Pemberdayaan Daerah PB PASI, dengan tugas membina dan mengoordinasikan wilayah Sumatera—jabatan yang telah diembannya selama dua periode.
Dari Pinggir Kolam ke Lintasan Lari
Sebelum dikenal luas di atletik, Budi Syukur lebih dulu mengabdikan diri di PRSI Sumatera Barat. Ia hadir bukan sebagai figur seremonial, melainkan pembina yang berdiri di pinggir kolam, mendengar keluhan atlet, dan memahami dinamika pelatih.
Pada 2008, SIWO PWI Sumbar menganugerahinya sebagai Pembina Olahraga Terbaik. Wartawan senior Firdaus Abie kala itu menyebut:
“Beliau bukan hanya pengurus. Ia adalah pelepas dahaga di tengah kehausan. Tempat pulang para atlet saat kehilangan arah.”
Dedikasi itu membangkitkan prestasi renang Sumbar hingga level PON, melahirkan atlet-atlet nasional seperti Harizal dan Yosita Hapsari.
Ketua Kontingen Sumbar PON XIX/2016
Kepercayaan besar kembali diberikan kepadanya saat ditunjuk sebagai Ketua Kontingen Sumbar pada PON XIX/2016 di Jawa Barat. Dengan kepemimpinan tenang dan sistem kerja rapi, Sumbar mencatatkan 14 emas, 10 perak, dan 20 perunggu, menempati peringkat 11 nasional—melampaui capaian PON XVIII/2012.
Banyak pelatih dan ofisial menilai ketenangan dan kehadiran moral Budi Syukur menjadi salah satu kunci keberhasilan kontingen.
Mengalir Tanpa Resah
“Saya jalani dengan menikmati proses, tanpa resah. Semangat mereka itu seperti darah segar yang terus mengaliri tubuh saya,” ujarnya suatu ketika.
Baginya, olahraga bukan sekadar perebutan medali, tetapi perjalanan membentuk karakter. Ia hadir bukan hanya sebagai ketua, melainkan penenang, pengarah, dan penjaga kultur organisasi.
Warisan yang ia tinggalkan bukan jabatan, melainkan sistem yang tetap hidup, hubungan emosional yang kuat, pembinaan berkelanjutan, serta generasi atlet dan pelatih yang tumbuh dalam disiplin dan keyakinan.
Sedikit tokoh yang namanya tetap disebut setelah masa jabatan berakhir. Namun nama S. Budi Syukur terus bergema—di lintasan, di kolam, di ruang rapat, dan di hati mereka yang pernah dibimbingnya.
Ia bukan hanya tokoh olahraga. Ia adalah pembina, pemimpin, dan pelayan masyarakat. Dalam setiap langkah atlet Sumatera Barat—di lintasan, di kolam, di podium—selalu ada jejak tangan yang pernah membimbing mereka.
Dan sehari setelah hari kelahirannya, tepat di puncak Hari Pers Nasional 2026, SIWO PWI Pusat menganugerahkan penghargaan tertinggi kepadanya.
Sebab sebagian tokoh tercatat dalam arsip, namun hanya sedikit yang tercatat dalam hati. Dan Budi Syukur berada dalam kelompok kecil itu.
Selamat, Bang Budi Syukur. Pengabdian itu terus mengalir.(*)





