Oleh: Firman Wanipin
Di sebuah sekolah di negeri antah berantah, di mana matahari bersinar terang namun rakyatnya sering hidup dalam kesusahan, seorang guru berdiri di depan kelas. Ia memandang murid-muridnya dengan senyum lembut, lalu bertanya:
“Anak-anakku, siapa yang tahu apa bedanya zakat dengan pajak?”
Suasana hening sejenak. Kemudian, seorang siswa yang duduk di barisan depan mengangkat tangan. Itu adalah Mansur, anak yang dikenal cerdas dan berhati tulus. Guru mengangguk, memberi izin untuk berbicara.
“Baiklah, Mansur, ceritakanlah apa yang kau pahami,” kata guru.
Mansur berdiri tegak, lalu menjawab dengan suara yang tenang namun tegas:
“Zakat itu, Bapak/Ibu Guru — diambil dari harta orang yang kaya raya, lalu diberikan kepada orang yang membutuhkan, kepada yang miskin dan terlantar. Itu adalah jalan kebaikan, jalan untuk berbagi dan meratakan rezeki yang Allah titipkan kepada kita.”
Guru tersenyum bangga. “Benar sekali. Lalu bagaimana dengan pajak?”
Wajah Mansur berubah sedikit serius. Ia melanjutkan:
“Kalau pajak di negeri ini, yang terjadi justru sebaliknya. Uang diambil dari rakyat kecil, dari yang penghasilannya pas-pasan, dari petani yang memeras keringat di ladang, dari buruh yang pulang saat hari sudah gelap. Uang itu dikumpulkan, dikirim ke kantor-kantor pemerintahan yang megah… dan akhirnya, sebagian besar justru jatuh ke tangan orang-orang kaya raya, pejabat-pejabat yang memakai baju bagus dan naik mobil mewah. Uang rakyat itu dikorupsi, disembunyikan di rekening-rekening yang tak pernah rakyat lihat, sementara yang memberi pajak tetap hidup susah.”
Guru terdiam. Ia tidak menyangka jawaban Mansur begitu dalam dan tajam. Di dalam hatinya, ia tahu apa yang dikatakan anak itu bukan sekadar cerita — itu adalah kenyataan yang dirasakan rakyat setiap hari di negeri antah berantah ini.
“Mansur, kau berbicara dengan bijak,” kata guru perlahan. “Zakat adalah kewajiban yang menyejukkan hati dan menolong sesama. Namun pajak yang dikorupsi adalah perbuatan yang menindas dan menghancurkan kepercayaan rakyat. Semoga kelak, ketika kalian dewasa, kau dan teman-temanmu bisa mengubah negeri ini agar pajak benar-benar kembali kepada rakyat, bukan diambil oleh mereka yang berkuasa.”
Mansur tersenyum, lalu duduk kembali. Di dalam hatinya dan di hati teman-temannya, mulai tertanam satu tekad: kelak mereka akan menjadi orang yang jujur, yang menjaga amanah, dan tidak akan membiarkan uang rakyat dirampas lagi. (*)





