UNP Kenalkan Seedball, Pulihkan Lahan Pascagalodo di Koto Malintang

Tim PPUB Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNP bersama warga Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.
Tim PPUB Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNP bersama warga Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

Agam, rakyatsumbar.id— Upaya memulihkan lahan terbuka yang terdampak bencana galodo di Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, terus dilakukan.

Kali ini, Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Padang (UNP) memperkenalkan teknologi sederhana berupa seedball kepada masyarakat sebagai salah satu metode untuk mempercepat pemulihan dan rehabilitasi kawasan yang mengalami kerusakan akibat bencana.

Kegiatan yang dimulai pada 10 Agustus 2026 tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) dengan judul Optimasi Pemulihan Lahan Terbuka Pasca-Galodo melalui Implementasi Teknologi Rehabilitasi Cerdas Berbasis Spesies Endemik di Koto Malintang.

Program yang diketuai Irma Leilani Eka Putri, M.Si tersebut, melibatkan Karang Taruna Nagari Koto Malintang dan mendapat dukungan dari Wali Nagari Koto Malintang, Hendra Yanto.

Dalam kegiatan itu, Karang Taruna setempat mendapatkan pelatihan pembuatan seedball dengan memanfaatkan biji sejumlah jenis tanaman, di antaranya petai cina, kaliandra, dan lamtoro.

Para peserta mengikuti setiap tahapan pembuatan seedball dengan antusias, mulai dari persiapan bahan hingga memahami cara pemanfaatannya untuk membantu rehabilitasi kawasan yang mengalami kerusakan.

“Kita memberikan pelatihan terhadap Karang Taruna setempat dengan memberikan pelatihan membuat seedball menggunakan biji tanaman, di antaranya petai cina, kaliandra, dan lamtoro. Peserta terlihat antusias mengikuti setiap tahapan pembuatan hingga memahami cara pemanfaatannya untuk membantu rehabilitasi kawasan yang mengalami kerusakan,” ujar Irma saat ditemui awak media di sela-sela kesibukannya di Kampus UNP, Sabtu (19/09/2026).

Irma menjelaskan, seedball merupakan salah satu metode sederhana yang dapat digunakan untuk membantu penyebaran benih pada lahan yang sulit ditanami secara konvensional. Benih yang telah disiapkan dalam bentuk seedball dapat ditempatkan pada kawasan terbuka yang membutuhkan pemulihan vegetasi.

“Benih yang telah disiapkan dalam bentuk seedball dapat ditempatkan pada kawasan terbuka sehingga diharapkan dapat membantu proses tumbuhnya vegetasi baru,” ujarnya.

Menurut Irma, kegiatan pengabdian tersebut tidak hanya diarahkan pada pemulihan lahan yang terdampak bencana, tetapi juga menjadi sarana untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai pentingnya vegetasi dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Nagari Koto Malintang memiliki bentang alam berupa perbukitan dan lereng dengan kemiringan yang bervariasi. Wilayah tersebut juga memiliki sejumlah aliran sungai yang berfungsi sebagai drainase alami.

Kondisi geografis tersebut membuat Koto Malintang memiliki potensi kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor.

Risiko bencana tersebut dapat meningkat ketika tutupan vegetasi berkurang dan terjadi degradasi lingkungan. Berkurangnya vegetasi menyebabkan kemampuan tanah dalam menyerap air menurun. Akibatnya, limpasan air permukaan meningkat dan kondisi tersebut dapat memperbesar risiko terjadinya erosi maupun longsor.

“Rehabilitasi vegetasi menjadi salah satu bagian penting dalam upaya pemulihan kawasan pascabencana. Pemulihan tutupan vegetasi di kawasan yang terbuka diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi lingkungan sekaligus meningkatkan kemampuan lahan dalam menyerap air,” jelasnya.

Irma Leilani Eka Putri memaparkan, melalui pengenalan teknologi seedball, masyarakat diajak untuk terlibat langsung dalam proses rehabilitasi kawasan. Metode tersebut menjadi salah satu alternatif sederhana yang dapat diterapkan pada lahan yang mengalami kerusakan dan sulit ditanami menggunakan metode penanaman biasa.

“Kegiatan pengabdian tersebut juga menjadi bagian dari hilirisasi hasil riset Program Studi Biologi FMIPA UNP yang telah melakukan penelitian di Koto Malintang, khususnya dalam bidang konservasi lingkungan,” jabarnya.

Yang menarik, saat kegiatan tersebut berlangsung, tim Departemen Biologi FMIPA UNP menemukan tumbuhan endemik Sumatera Barat, koenih rimbo (Curcuma sumatrana).

“Tumbuhan tersebut memiliki potensi untuk dikaji lebih lanjut, termasuk terkait kandungan senyawa yang berpotensi dalam penelitian antikanker,” paparnya.

Menurut Irma Leilani Eka Putri, keberadaan tumbuhan endemik tersebut menjadi bagian penting dari upaya mengenalkan kekayaan biodiversitas Koto Malintang kepada masyarakat.

“Konservasi tidak hanya dilakukan melalui penelitian, tetapi juga perlu diteruskan melalui edukasi dan keterlibatan masyarakat,” tambahnya.

Pelibatan Karang Taruna dipandang strategis karena generasi muda diharapkan dapat menjadi penggerak kegiatan konservasi di tingkat nagari. Dengan keterlibatan generasi muda, pengetahuan mengenai pentingnya menjaga lingkungan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pengabdian, tetapi dapat terus dikembangkan melalui berbagai kegiatan konservasi di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang tumbuhan dan lingkungan, tetapi juga dilibatkan langsung dalam aksi rehabilitasi. Keterlibatan masyarakat diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kawasan yang terdampak bencana.

Tim pengabdian berharap seedball yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk membantu memulihkan kawasan bekas longsor di Nagari Koto Malintang. Dalam jangka panjang, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kepedulian masyarakat terhadap konservasi sekaligus menjadi bagian dari mitigasi bencana berbasis masyarakat.

Program tersebut juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-13 tentang penanganan perubahan iklim dan tujuan ke-15 tentang menjaga ekosistem darat.

“Dari kegiatan sederhana seperti membuat seedball, diharapkan tumbuh kesadaran generasi muda untuk menjaga lingkungan. Pemulihan lahan bukan hanya persoalan menanam kembali, tetapi juga bagaimana masyarakat terlibat dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.

Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah nagari, dan masyarakat, upaya pemulihan kawasan pascagalodo di Koto Malintang diharapkan dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat ekologis bagi masyarakat di masa mendatang.

Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemulihan kawasan pascabencana tidak hanya membutuhkan tindakan teknis, tetapi juga keterlibatan masyarakat sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Melalui langkah sederhana seperti pembuatan dan pemanfaatan seedball, masyarakat Koto Malintang diharapkan dapat ikut mengambil peran dalam mengembalikan tutupan vegetasi, menjaga biodiversitas, serta membangun ketahanan lingkungan terhadap potensi bencana di kemudian hari,” tutupnya. (edg)