Sastra, Jurnalisme, dan Politik yang Kehilangan Cermin

Oleh: Revdi Iwan Syahputra, Jurnalis

Sungguh terperangah saya mendengar sebuah kalimat yang meluncur begitu saja dari seorang kawan. Kalimat itu sederhana, ringan, bahkan terdengar seperti selingan dalam percakapan biasa. Ia berbicara tentang satu gejala yang belakangan semakin ramai di media sosial: latah bersyair, latah berpuisi, dan latah berpantun.

Ketika sebuah kalimat puitis menarik perhatian, ia segera dibagikan ribuan kali. Ketika sebuah pantun terdengar jenaka, ia berkelana dari satu layar ke layar lain. Ketika beberapa bait mampu menyentuh emosi sesaat, lahirlah tepuk tangan, pujian, dan popularitas. Orang-orang pun berlomba menjadi penyair, menjadi pemikir, menjadi pengarang, sering kali sebelum sempat memahami makna dari kata-kata yang mereka tuliskan sendiri.

Fenomena itu sekilas tampak menggembirakan. Bahasa menjadi akrab di tengah masyarakat. Kata-kata kembali dicintai. Orang mulai menikmati metafora, simbol, dan perumpamaan. Namun di balik kegembiraan itu tersimpan kegelisahan yang tidak kecil. Sebab tidak semua yang berbentuk puisi adalah sastra. Tidak semua yang berima adalah pantun. Dan tidak semua yang viral adalah karya.

Di era ketika informasi dapat diperoleh hanya dengan satu sentuhan jari, sastra sesungguhnya sedang menghadapi ujian berat. Kedalaman sering dikalahkan oleh sensasi. Perenungan dikalahkan oleh kecepatan. Kata-kata dipilih bukan karena bobot maknanya, melainkan karena kemampuannya memancing perhatian.

Sastra yang lahir dari pergulatan batin perlahan tergeser oleh sastra yang lahir dari kebutuhan akan pengakuan. Padahal sastra sejati tidak pernah tumbuh dari keramaian. Ia lahir dari kesunyian. Ia tumbuh dari kegelisahan. Ia menemukan bentuknya setelah melewati perenungan yang panjang.

Kegelisahan yang sama juga menghampiri dunia jurnalisme.

Hari ini berita datang tanpa jeda. Fakta, opini, fitnah, propaganda, semuanya berdesakan dalam ruang yang sama. Kecepatan menjadi ukuran utama. Yang pertama dianggap paling hebat. Yang paling ramai dianggap paling penting. Akibatnya, verifikasi sering tertinggal di belakang, sementara sensasi melaju jauh di depan.

Padahal sejak awal, jurnalisme tidak dibangun untuk memenangkan perlombaan kecepatan. Jurnalisme dibangun untuk menjaga kebenaran. Ia hadir untuk memisahkan fakta dari kebisingan. Ia berdiri untuk memastikan publik memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Namun tantangan terbesar sastra dan jurnalisme hari ini ternyata bukan sekadar teknologi. Bukan pula media sosial. Tantangan terbesarnya adalah ketika keduanya mulai kehilangan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.

Sastra yang kehilangan kejujuran akan berubah menjadi rangkaian kata-kata indah tanpa jiwa.

Jurnalisme yang kehilangan integritas akan berubah menjadi gema yang memperkeras kebisingan.

Dan pada titik tertentu, kegelisahan itu membawa kita pada satu wilayah lain yang tak kalah penting: politik.

Jika sastra adalah usaha manusia mencari makna, dan jurnalisme adalah usaha manusia mencari kebenaran, maka politik seharusnya menjadi usaha manusia menghadirkan kemaslahatan. Ketiganya lahir dari rahim peradaban yang sama. Ketiganya semestinya berjalan beriringan untuk memuliakan manusia.

Tetapi zaman sering memiliki cara yang licin untuk mengubah tujuan menjadi kepentingan.

Dalam dunia politik hari ini, kata-kata juga diperlakukan seperti komoditas. Janji diproduksi dalam jumlah besar. Slogan diciptakan setiap hari. Narasi dibangun dengan biaya mahal. Citra dirancang dengan sangat teliti. Politik akhirnya berubah menjadi panggung besar tempat banyak orang sibuk memainkan peran.

Ada yang tampil sebagai pembela rakyat.

Ada yang tampil sebagai penjaga moral.

Ada yang tampil sebagai pejuang keadilan.

Ada yang tampil sebagai penyelamat bangsa.

Namun panggung memiliki keterbatasan yang tidak dapat disembunyikan. Lampu sorot hanya mampu menerangi wajah. Ia tidak pernah mampu menerangi hati.

Di situlah kemunafikan menemukan ruang hidupnya.

Kemunafikan tidak selalu hadir dalam bentuk kebohongan yang kasar. Ia justru lebih sering datang dengan wajah yang santun. Dengan kalimat yang indah. Dengan senyum yang meyakinkan. Ia berbicara tentang pengorbanan sambil menghitung keuntungan. Ia mengutip nilai-nilai moral sambil memperdagangkan prinsip. Ia berseru tentang kejujuran sambil membangun kompromi dengan kebohongan.

Kita hidup di zaman ketika pencitraan sering kali lebih dihargai daripada karakter. Ketika persepsi dianggap lebih penting daripada kenyataan. Ketika kemampuan mengelola opini publik dianggap lebih bernilai daripada kemampuan mengelola amanah.

Sastra sesungguhnya telah lama mengingatkan kita tentang bahaya itu. Para sastrawan besar selalu curiga pada kata-kata yang terlalu manis. Mereka memahami bahwa manusia sering kali berbeda antara apa yang diucapkan, apa yang dipikirkan, dan apa yang dikerjakannya.

Jurnalisme yang sehat juga memiliki tugas yang sama. Ia tidak cukup hanya mencatat pidato dan pernyataan. Ia harus mengukur jarak antara ucapan dan tindakan. Sebab kualitas kepemimpinan tidak pernah ditentukan oleh seberapa indah kata-kata yang diucapkan, melainkan oleh seberapa jauh kata-kata itu diwujudkan.

Karena sesungguhnya peradaban tidak runtuh akibat kurangnya kata-kata.

Peradaban runtuh ketika kata-kata kehilangan maknanya.

Ketika janji tidak lagi dimaksudkan untuk ditepati.

Ketika berita tidak lagi dimaksudkan untuk mencerahkan.

Ketika puisi tidak lagi dimaksudkan untuk menggugah nurani.

Ketika politik tidak lagi dimaksudkan untuk melayani.

Pada saat itulah masyarakat memasuki ruang yang berbahaya. Sebuah ruang di mana kebenaran menjadi relatif, integritas menjadi barang langka, dan kepalsuan diterima sebagai sesuatu yang wajar.

Padahal bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang sering kurang justru keberanian untuk jujur.

Jujur melihat kenyataan.

Jujur mengakui kesalahan.

Jujur menerima kritik.

Jujur mengatakan bahwa tidak semua yang populer itu benar, dan tidak semua yang ramai itu penting.

Pada akhirnya, sastra, jurnalisme, dan politik memiliki musuh yang sama: kepalsuan.

Sastra melawannya dengan kejujuran rasa.

Jurnalisme melawannya dengan kejujuran fakta.

Politik semestinya melawannya dengan kejujuran tindakan.

Dan mungkin di situlah ukuran kemajuan sebuah bangsa yang sesungguhnya. Bukan pada tingginya gedung-gedung yang dibangun. Bukan pada megahnya proyek-proyek yang dipamerkan. Bukan pula pada angka-angka statistik yang dibacakan dari podium ke podium.

Melainkan pada sejauh mana masyarakatnya masih menghormati kebenaran.

Sebab kebohongan mungkin memenangkan tepuk tangan. Kemunafikan mungkin mengumpulkan massa. Pencitraan mungkin menghadirkan popularitas. Namun semuanya memiliki usia yang pendek.

Hanya kejujuran yang mampu bertahan melampaui zaman.

Dan ketika kelak seluruh sorak-sorai mereda, baliho-baliho diturunkan, jabatan-jabatan berganti, dan kekuasaan berpindah tangan, yang akan tetap dikenang bukanlah mereka yang paling sering berbicara. Yang akan dikenang adalah mereka yang tetap setia pada kebenaran ketika kebanyakan orang memilih berkompromi dengannya.

Karena pada akhirnya manusia tidak diukur dari seberapa tinggi ia berdiri di atas panggung, melainkan dari seberapa teguh ia menjaga nuraninya ketika tidak ada lagi yang menonton.(*)