OPINI  

Padang jangan Cuma jadi Tempat Lewat: Kaya Sejarah, tapi Kapan Wisata Terintegrasi ?

Opini Firman Wanipin
Founder Channel YouTube Ciloteh Wanipin & Wartawan Harian Umum Rakyat Sumbar

Menurut saya, Kota Padang memiliki modal yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai kota tujuan wisata. Bukan hanya wisata bahari, tetapi juga wisata sejarah, budaya dan religi.

Persoalannya, berbagai potensi tersebut belum sepenuhnya dikemas menjadi sebuah rangkaian destinasi yang membuat wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama di Kota Padang.

Padang jangan hanya menjadi kota persinggahan sebelum wisatawan melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi, Payakumbuh, Pesisir Selatan atau daerah lainnya.

Pandangan ini kembali muncul dalam sebuah pertemuan yang tidak direncanakan di lingkungan Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Senin (28/9/2026).

Dalam pertemuan tersebut saya bersama Ketua Perkumpulan Bundo Kanduang Minangkabau (PBKM) Provinsi Sumatera Barat, Hj. Netty Miharni atau Bundo Taci, Direktur Tiang Putih Institut Ramlan Tuanku Guru, serta tokoh masyarakat dan Santri Tuo Gunung Nago, Metek Zirma Hadi, berbincang mengenai sejarah lokal dan potensi wisata Kota Padang.

Pembicaraan antara lain menyinggung keberadaan makam tua Angku Gunung Nago di kawasan Pauh.

BUNDO KANDUANG: SEJARAH ADALAH TANGGUNG JAWAB BERSAMA

Dalam pertemuan itu, Hj. Netty Miharni atau Bundo Taci mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga warisan leluhur.

Menurut pandangan yang disampaikannya, Bundo Kanduang sebagai bagian penting dalam keluarga dan adat memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga dan meneruskan warisan sejarah kepada generasi berikutnya.

Ia menilai penggalian sejarah tidak semestinya menjadi tugas perseorangan.

“Penggalian sejarah bukan hanya tugas perseorangan. Ini menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat agar warisan leluhur tetap dikenal oleh generasi berikutnya,” ujar Bundo Taci.

Bagi saya, pandangan tersebut penting karena sejarah lokal tidak akan bertahan apabila hanya mengandalkan ingatan beberapa orang.

Sejarah harus didokumentasikan, diteliti dan diwariskan.

Direktur Tiang Putih Institut Ramlan Tuanku Guru dalam pertemuan itu menyampaikan kegelisahannya mengenai posisi Kota Padang dalam peta perjalanan wisata Sumatera Barat.

Menurut Ramlan, wisatawan yang datang melalui Bandara Internasional Minangkabau masih banyak yang hanya singgah di Padang sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah lain.

“Seharusnya wisatawan yang datang ke Kota Padang dapat menghabiskan waktu satu hingga dua hari mengunjungi berbagai situs bersejarah yang tersebar di seluruh penjuru kota. Pemerintah Kota Padang tidak seharusnya hanya berfokus pada satu kawasan, tetapi menggali potensi yang ada di setiap wilayah,” ujar Ramlan.

Saya sependapat dengan gagasan tersebut dalam konteks perlunya memperpanjang lama tinggal wisatawan.

Menurut saya, ukuran keberhasilan pariwisata tidak semata-mata jumlah wisatawan yang datang. Lama tinggal atau length of stay juga penting karena berkaitan dengan aktivitas wisatawan selama berada di sebuah daerah.

Semakin lama wisatawan tinggal, semakin terbuka peluang bagi hotel, rumah makan, transportasi, UMKM, pedagang oleh-oleh, pemandu wisata dan sektor ekonomi lainnya untuk mendapatkan manfaat.

Tokoh masyarakat dan Santri Tuo Gunung Nago, Metek Zirma Hadi, dalam pertemuan tersebut memberikan perhatian terhadap keberadaan makam tua Angku Gunung Nago.

Dari pembicaraan itu, saya melihat ada satu hal penting: cerita yang hidup di tengah masyarakat perlu dicatat dan diteliti sebelum hilang bersama pergantian generasi.

Bagi saya, cerita turun-temurun memiliki nilai sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Namun, ketika cerita tersebut akan dibawa menjadi narasi sejarah dan bahkan dikembangkan sebagai bagian dari wisata, tentu diperlukan penelitian serta verifikasi.

Dengan demikian, antara cerita masyarakat dan fakta sejarah dapat ditempatkan secara proporsional.

Sebagai penulis dan orang yang selama ini berupaya mendokumentasikan cerita serta sejarah lokal melalui media, saya melihat persoalan utama Kota Padang bukan kekurangan objek atau kekurangan cerita.

Justru cerita kita sangat banyak.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah cerita-cerita tersebut sudah kita dokumentasikan, teliti, kemas dan hubungkan menjadi sebuah perjalanan wisata?

Menurut saya, belum maksimal.

Karena itu, saya berkomitmen untuk terus mendokumentasikan berbagai cerita sejarah dan budaya lokal melalui media yang saya kelola, termasuk Channel YouTube Ciloteh Wanipin dan Harian Umum Rakyat Sumbar.

Saya berpandangan bahwa jangan sampai kita baru sibuk mencari sejarah ketika orang-orang yang mengetahui cerita tersebut sudah tidak ada.

Kota Padang sebenarnya memiliki banyak bahan untuk dikembangkan.

Ada Museum Adityawarman, kawasan Kota Tua, Masjid Raya Ganting, kawasan Muaro dan Batang Arau, Pantai Padang, Pantai Air Manis, Lubang Jepang di kawasan Gunung Pangilun, serta berbagai situs sejarah, budaya dan religi lainnya.

Di kawasan Pauh terdapat pula sejarah Si Ampek Baleh dan berbagai cerita lokal yang menurut saya layak diteliti lebih jauh.

Menurut saya, jangan melihat objek-objek tersebut secara terpisah.

Kita perlu melihatnya sebagai satu jaringan destinasi.

Wisatawan dapat diberikan pilihan perjalanan yang menggabungkan sejarah, budaya, religi, kuliner dan wisata bahari.

Dengan demikian, wisatawan tidak datang ke satu tempat, mengambil foto, lalu pergi.

Mereka memiliki alasan untuk tinggal lebih lama.

Menurut saya, kita juga dapat belajar dari daerah lain tanpa harus meniru mentah-mentah.

Melaka, misalnya, mampu mengemas cerita sejarah dan legenda lokal menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Cerita mengenai Hang Tuah dan berbagai tempat yang dikaitkan dengan sejarah maupun legenda menjadi bagian dari narasi yang diperkenalkan kepada pengunjung.

Yang menarik bagi saya bukan soal apakah seluruh cerita tersebut harus diterima sebagai fakta sejarah, melainkan bagaimana sebuah cerita lokal dikemas menjadi pengalaman bagi wisatawan, dengan tetap menjelaskan mana fakta sejarah, mana tradisi dan mana legenda.

Padang sebenarnya memiliki kekayaan cerita yang tidak kalah menarik.

Dalam pandangan saya, konsep wisata terintegrasi penting dipertimbangkan Pemerintah Kota Padang.

Bayangkan jika wisatawan memiliki rute perjalanan yang jelas.

Mereka dapat mengunjungi museum, kawasan sejarah, masjid tua, situs pertahanan, kawasan sungai dan pelabuhan lama, menikmati kuliner khas, kemudian melanjutkan perjalanan ke kawasan Pauh untuk mengenal sejarah dan budaya masyarakat setempat.

Tentu rute tersebut harus disusun berdasarkan penelitian, kondisi akses, kesiapan objek, kapasitas pengunjung dan aspek pelestarian.

Tetapi konsep besarnya menurut saya sederhana:

Buat wisatawan memiliki alasan untuk tinggal dua atau tiga hari di Padang.

Sebab kalau wisatawan tinggal lebih lama, uang yang mereka belanjakan juga berpotensi lebih banyak berputar di Kota Padang.

Mereka membutuhkan penginapan, makanan, transportasi, oleh-oleh, pemandu dan berbagai jasa lainnya.

Pada akhirnya, aktivitas ekonomi tersebut juga berpotensi memberikan kontribusi terhadap PAD.

Saya juga ingin menyampaikan pandangan pribadi mengenai studi banding.

Kita memiliki banyak anggota DPRD yang melakukan kunjungan kerja atau studi banding ke berbagai daerah.

Menurut saya, tidak ada masalah belajar dari daerah lain. Bahkan, itu dapat menjadi sesuatu yang positif jika pengalaman tersebut kemudian menghasilkan gagasan yang bisa diterapkan.

Tetapi pertanyaan masyarakat juga wajar:

Apa yang dibawa pulang selain laporan perjalanan?

Menurut saya, studi banding harus memiliki ujung berupa gagasan, kebijakan atau program yang dapat dipertimbangkan untuk diterapkan sesuai kebutuhan Kota Padang.

Jangan hanya pergi melihat keberhasilan daerah lain.

Pelajari bagaimana mereka melakukannya, kemudian pikirkan apa yang bisa diterapkan di Padang.

Saya berpandangan bahwa pengembangan wisata sejarah tidak boleh hanya mengejar jumlah pengunjung.

Ada aspek akademis yang sangat penting.

Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang dan UIN Sjech M. Djamil Djambek dapat dilibatkan dalam penelitian sejarah, arkeologi, antropologi, budaya dan pariwisata.

Tokoh adat, Bundo Kanduang, masyarakat serta komunitas sejarah juga harus dilibatkan.

Makam Angku Gunung Nago, misalnya, menurut saya harus diteliti terlebih dahulu.

Siapa tokohnya?

Bagaimana sejarahnya?

Apa bukti yang tersedia?

Bagaimana cerita masyarakat berkembang?

Dan bagaimana kedudukannya dalam sejarah lokal?

Jangan menjual cerita yang belum diteliti. Tetapi jangan pula membiarkan cerita yang memiliki nilai sejarah hilang karena tidak pernah diteliti.

Pada akhirnya, tulisan ini adalah pandangan dan opini pribadi saya setelah berbincang dengan sejumlah tokoh mengenai potensi sejarah dan wisata Kota Padang.

Saya tidak mengatakan bahwa semua persoalan pariwisata Padang dapat diselesaikan hanya dengan mengembangkan wisata sejarah dan religi.

Namun, saya melihat potensi tersebut layak menjadi bagian dari strategi yang lebih besar.

Padang tidak kekurangan objek.

Padang tidak kekurangan sejarah.

Padang tidak kekurangan cerita.

Yang menurut saya masih kurang adalah bagaimana semuanya diintegrasikan menjadi sebuah pengalaman wisata yang membuat orang ingin tinggal lebih lama.

Karena itu, mungkin sudah waktunya Pemerintah Kota Padang mempertimbangkan sebuah peta besar wisata sejarah, budaya dan religi yang saling terhubung.

Bukan hanya membangun objek.

Tetapi membangun cerita.

Bukan hanya mendatangkan wisatawan.

Tetapi membuat mereka tinggal lebih lama.

Dan bukan hanya mengejar angka kunjungan.

Tetapi memastikan masyarakat sekitar ikut merasakan perputaran ekonomi.

Padang jangan hanya menjadi pintu masuk Sumatera Barat.

Padang harus mampu menjadi tujuan perjalanan itu sendiri.

Ini adalah opini pribadi penulis berdasarkan pandangan dan hasil perbincangan dalam pertemuan tersebut, bukan pernyataan resmi atau sikap kelembagaan dari pihak-pihak yang hadir.(fwi)