rakyatsumbar.id

Berita Sumbar Terkini

Beranda » Musik Gamad Perlu Diwariskan pada Generasi Penerus

Musik Gamad Perlu Diwariskan pada Generasi Penerus

Sejumlah group gamad di Sumbar hadir pada Festival Gamad yang dilaksanakan selama dua hari di lapangan Kantor Camat Pauh.


Padang, rakytsumbar.id – Kerinduan masyarakat akan kesenian yang terkenal di tahun 70-an hingga awal 90-an sedikit terobati.

Anggota DPRD Sumbar Hidayat menilai kesenian gamad juga melahirkan adanya perpaduan yang menyatukan nilai-nilai beberapa etnik dan negara. Sehingga kesenian gamad ini menjadi perekat keberagaman.

“Dengan nilai-nilai kesenian gamad ini, kita berharap agar ada upaya pelestarian kesenian ini agar menjadi warisan budaya tak benda. Bahkan kalau perlu bisa perjuangan sampai menjadi warisan budaya UNESCO, sebut Hidayat saat membuka Festival Gamad, Sabtu malam, (25/11).

Hidayat juga berharap, Festival Gamad ini dapat digelar setiap tahun dan periodik, sehingga ada kesempatan untuk proses mewariskan kepada generasi penerus atau muda.
Kalau hanya sekedar pokir, bisa hilang lagi tahun besok. Jadi harus berkelanjutan. Kita apreiasi Dinas Kebudayaan dan kurator yang terlibat dalam penyelenggaraan Festival Gamad ini, ucapnya.

Hidayat juga mengungkapkan, musik berkembang menurut selera pasar. Yang menjadi pertanyaan, apakah gamad ini harus bertahan dengan pakem yang ada atau perlu beradaptasi dimodifikasi sesuai selera zaman? Saya pikir sebuah seni dan kebudayaaan beratraksi berubah sesuai perkembangan zaman sangat dimungkinkan, terangnya.
Hidayat mengatakan, selama ini sebagai Anggota DPRD Sumbar dirinya sering berdiskusi dengan penggiat dan pecinta lagu dan musik gamad.

Dari diskusi tersebut dirinya mencoba mengangkat Festival Gamad ini, agar kesenian gamad yang sempat hilang kembali semarak lagi.

“Kita ingin mengangkat festival ini untuk semarakkan kesenian gamad lagi. Kita ingin menggairahkan lagi musisi gamad yang pernah jaya di masanya, terangnya.
Ia mengatakan, tidak semua orang bisa memainkan kesenian gamad. Kalau hanya sekadar menyanyikan lagu menggunakan gitar atau orgen itu gampang. Tetapi kesenian gamad ada persyaratan skill tertentu dan ada nilai-nilai filsafat yang terkandung di dalamnya,” terangnya.

Festival Gamad yang digelar Dinas Kebudayaan Sumbar tersebut merupakan sumbangsih dari pokok pikiran (pokir) Anggota DPRD Sumbar, Hidayat, yang dikenal cukup peduli dan konsen terhadap pelestarian nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau.

Kasi Produksi dan Kreasi Seni Budaya UPTD Taman Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar, Ade Efdira, SS mengatakan, sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Dinas Kebudayaan yakni salah satunya pelestarian kebudayaan.

Hadirnya Festival Gamad ini sebagai salah satu upaya pelestarian kebudayaaan dan regenerasi. Festival Gamad ini hadir untuk menjawab tantangan generasi muda yang tidak menyukai gamad. Kini sudah ada anak-anak muda ikut tampil pada Festival Gamad ini, ada yang dari Alumni UNP, terangnya.

Setelah hadirnya Festival Gamad ini, langkah selanjutnya UPTD Taman Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar akan menggelar pertunjukan seni budaya pada tahun 2024 nanti. Di mana melalui pertunjukan nanti kita coba tampilkan kesenian gamad, harapnya.

Festival Gamad yang diadakan 25-26 November ini memiliki keunikan. Selain, mungkin menjadi satu-satunya festival selama beberapa dekade, juga ingin melintasi waktu.

Ferry YJ mengatakan, gamad mengalami perubahan sejak 1940, 1980-90-an dan dekade pertama alaf baru. Di 40-an, gamaik tidak dimainkan dengan band, ujar anak Yan Juned ini.
Di akhir 70-an hingga awal 90-an, Limestone membawa perubahan besar.

Dengan Yan Juned sebagai frontman, gamad berubah ragi. Lebih impresif. Lagu-lagu mulai memiliki beat yang beragam. Gamad mendapatkan puncak keduanya. Siapa pun yang mengadakan kenduri di Padang waktu itu, pasti menanggap gamad sebagai kesenian di malam hari.

Berlanjut ke milenium baru, sekali lagi, Gamaik mengalami perubahan. Kali ini lebih progresif. Dan lebih megah. Gamad muncul sebagai kesenian yang lebih modern. Merasuki jenis musik lain seperti orkestra atau big band.

Perubahan juga berada di perilaku. Jika di tahun 70-an, itu gamaik jadi dunia abu-abu, sekarang itu sudah lenyap, ujar Wensi Indra, pimpinan Gamad Pauh Sejati.

Festival Gamad kemudian ingin menangkap lanskap yang telah menjadi sejarah. Pauh Sejati akan meracik gamaik klasik dengan pengembangan hari ini. Selain itu, grup ini akan memainkan gamad beradat.

Gamaik yang dimainkan dengan memakai empat penari dan penyanyi. Mereka akan membuka pagelaran.
Begitu juga dengan Orkes Gamad Bintang Laut. Mereka juga akan memainkan gamad 90-an. Ravel Family akan memain band performance.

Sedangkan GPS Band merupakan pertunjukan gamaik yang dimainkan anak muda. Sebagai bukti, bahwa gamad memiliki generasi.

Yang menarik nantinya adalah Pahse Band. Pertunjukannya akan menggabungkan, tidak hanya dekade, tapi juga tradisi lain. Gamaik membawa qawwali dan gambang sebagai ornamen kuat dalam musik gamaik, ujar Ferry.

Kita ingin memperlihatkannya pada penonton. Puluhan group gamad akan hadiri pada Festival Gamad ini, tidak hanya berasal dari Padang saja. Tetapi juga berasal dari Bukittinggi, Payakumbuh dan Padangpanjang, jelasnya. (mul)

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *