02/12/2022
Beranda » Mulekul Hikmah Covid-19

Mulekul Hikmah Covid-19

Ustad Zulfamiadi, S.HI

Oleh : Zulfamiadi, S.HI
(Ustadz Rakyat Sumbar Mengaji Bukittnggi)

Allahlah yang maha besar. Virus itu pada wujudnya lebih halus dari mulekul air. Meski dalam fikiran manusia telah menjadi hantu raksasa di dunia.

Namun tahukah kita, bahwa setiap bencana yang ditumpahkan selalu sejalan dengan hikmah bagi orang-orang yang mau berfikir dan melihat dengan mata keimanan.

Ada beberapa serpihan hikmah di balik musibah Covid-19. Pertama, bencana ini telah mengingatkan manusia pada kematian.Kematian itu dapat menimpa siapa saja, kapan saja, dimana saja. Kematian tak mengenal keahlian,usia maupun status sosial seseorang.

Dokter pun meninggal. Itu artinya nyawa di tangan Tuhan. Jika selama ini gelamor dunia telah menyelimuti akal dan jiwa manusia sehingga keangkuhan, kezaliman dan kepongahan telah menjadi virus dalam kehidupan manusia, maka Covid-19 mengingatkan manusia bahwa apa yang mereka lakukan tidaklah ada apa-apany. Hakikatnya, manusia tidak punya daya bila berhadapan dengan kebesaran Tuhan.

Kedua, Covid-19 telah mengingatkan akan arti dunia ini saling keterikatan satu dengan yang lainnya.

Di kala sikap individualistis menyapa dunia, orang lupa dengan kondisi para tetangganya. Bahkan, orang yang duduk disampingnya mereka asyik dengan teknologi yang ada di tangannya. Maka, Covid-19 berpesan agar peduli dengan setiap orang yang ada di sekitar kita.

Bahkan canggihnya tekhnologi seakan google bisa menjawab segala persoalan. Sehingga, jasa para medis seakan terabaikan maka Covid-19 menyadarkan manusia akan arti keterikatan satu dengan yang lainnya.

Ketiga, Hamba tuhan terlalu asyik dengan ibadah ritual tapi lupa dengan ibadah sosial. Masjid-masjid mewah pencakar langit berserakan dimana-mana. Kesadaran umat dalam membangun fisik rumah ibadah begitu tinggi dari kota hingga ke desa. Tapi sayangnya, shaf dan jamaah di masjid nan megah itu tidak diiringi dengan ibadah sosial kemasyarakatan. Kaum dhuafa merintih kelaparan di tengah-tengah masyarakat. Janda-janda miskin terlilit hutang dan rentenir.

Anak yatim terlunta-lunta dan putus sekolah. Maka Covid 19 mengingatkan kita agar saling peduli dan berbagi. Ibadah spritual di rumah saja, ibadah sosial janganlah lupa.saatnya mengamalkan makna berjamaah dalam kehidupan bermasyarakat, karena sunghuh keselamatan saudara kita juga keselamatan buat kita.

Keempat , Mengingatkan kita akan kesucian. Terlalu kotor tangan kita, tapi mungkin juh lebih kotor jiwa kita. Maka cucilah tangan agar virus tak menyerang. Sucikanlah jiwa agar tetap sehat. Tunaikan zakat, perbanyak sedekah. Di dalam harta kita ada hak orang lain. Kebersihan menjadi problem dalam kehidupan bermasyarakat berbnagsa dan bernegara. Maka Covid- 19 mengingatkan kita, agar mencuci dendam kesumat lama. Biarkanlah ia hanyut bersama air mengalir.

Kelima, Ujian Cinta dan kesetiaan.Rupanya cinta dunia itu palsu, ada cinta selagi ada untung dan mamfaat. Cinta akan hilang dikala kita tidak lagi sehat. Orang-orang akan menjauh. Bahkan, badan akan disisihkan kapan perlu dicampakkan jauh-jauh.

Tak ketinggalan orang-orang dekat, anak, istri, suami. Bahkan, ungkapan cinta akan berakhir di pintu kepergian jarak jauh. Peti mati yang terkunci rapat, berbungkus kafan dan plastik steril. Hanya cinta Allah yang murni tanpa batas. Meski kita durhaka dan bergelimang dosa, Allah tetap cinta dengan hamb-Nya. Bahkan, syurga masih disediakan bagi hambanya yang tak enggan bertobat.  Jadi, cintailah dunia sepenuh hati, tapi jangan lupakan cinta kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.