05/12/2022
Beranda » Merapatkan Barisan Melawan Covid-19

Merapatkan Barisan Melawan Covid-19

H. Mahyeldi Ansharullah, S.P Walikota Padang

Oleh: Mahyeldi Ansharullah (Walikota Padang)

Sungguh tiada kita bayangkan bahwa makhluk kecil bernama Korona yang tadinya ada di Wuhan Provinsi Hopei, Tiongkok,  datang  ke  Indonesia, lalu sampai di Padang hingga membuat kita semua kelabakan. Seluruh umat manusia di semua negara (lebih 200 negara) di dunia kini sedang melakukan perang semesta melawan virus tersebut. Termasuk kita di Padang.

Melalui persentuhan, interaksi antarmanusia yang tidak kita ketahui siapa yang pertama kali membawanya ke Padang, virus itu telah membuat hampir seluruh sendi kehidupan kita menjadi berantakan,  bahkan untuk beribadah bersama di rumah-rumah ibadah juga dihindarkan dulu, agar mata rantai penyebaran virus itu bisa diputus.

Walhasil, dari hanya epidemi yang menjangkiti negeri Tirai Bambu, akhirnya beranak-pinak ke lebih dari 200 negera di dunia menjadi Pandemi. Sesuatu  yang membuat umat manusia tak hanya berkonsentrasi pada wilayah medis, melainkan berdampak sampai ke sektor ekonomi.

Ekonomi dunia seperti kembali ke zaman malaise atau zaman depresi besar tahun 1929. Depresi besar ketika itu membuat penurunan tingkat ekonomi ke titik yang amat menyedihkan. Depresi pada masa malaise sebagaimana kita baca dalam buku sejarah, telah membuat ekonomi hancur, pabrik tutup, pengangguran meningkat, kelaparan terjadi di mana-mana.

Kita, pernah juga mengalami peristiwa sepayah itu pada  1997-1998,  tetapi  tidak diikuti atau dipicu oleh penyakit seperti yang terjadi sekarang ini.

Kita tidak lagi perlu mempertentangkan apakah ini karena kecerobohan atau tidak diantisipasi dari awal dan sebagainya, tetapi marilah kita melihat ini sebagai sebuah ujian, cobaan dari Allah SWT. Sebagaimana Allah berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian/cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’ 35).

Jadi sangatlah terang bahwa dengan segala kemahakuasaannya Allah, menggariskan kepada kita bahwa Dia (kapanpun) akan menguji kita ummat manusia. Ujian datang dalam bentuk kesenangan dan ketidaksenangan. Covid-19, adalah ujian dalam bentuk ketidaksenangan, ia adalah sebuah kesengsaraan yang ditimpakan kepada makhlukNya.

Lalu, kalau ini adalah ujian, apakah yang mesti kita lakukan?

Dari perspektif Islam maka kita diwajibkan berikhtiar untuk menyelamatkan diri. Bahwa kita sedang diuji, memang betul. Hanya bagaimana kita menjawab ujian ini? Hanya orang-orang yang dengan kesadaran penuh dan penuh sabar saja yang bisa selamat dari ujian seperti ini.

Kesabaran itu mesti diimplementasikan dalam bentuk memahami wabah ini  dengan akal dan pikiran. Dari apa yang dirumuskan para ahli, bahwa virus Korona  hanya  bisa  berpindah dari satu tubuh manusia ke tubuh manusia lain melalui cairan yang keluar dari hidung dan mulut saat batuk atau bersin. Virus akan hinggap pada benda lain yang kemudian secara tak sengaja terusap oleh tangan kita, lalu tangan itu mendekati mulut dan hidung, maka selesailah transmisi virus itu. Ia segera mendapat tempat hinggap baru dalam tubuh yang baru itu dan menginfeksinya bila tubuh itu tidak memiliki daya perlawanan atau antibody.

Maka begitulah ia berpindah dari satu manusia ke manusia  lainnya.  Hingga  seperti kita ketahui, di Kota Padang saja lebih 200 orang positif Covid-19. Angka itu terbanyak di Sumatera Barat dari total per hari Kamis 14 Mei 2020 sebanyak 371 yang positif terkena  Covid-19.

Kembali kepada apa yang mesti kita lakukan tadi. Bahwa yang pertama-tama adalah bagaimana kita memahami kebijakan pemerintah  memberlakukan  Pembatasan  Sosial  Berskala Besar (PSBB) sebagai kebijakan yang to be or not to  be.  Kata ‘pembatasan’  itu  harus kita sikapi sebagai sebuah ajakan untuk keselamatan diri  dan  keluarga.  Sehingga  dengan demikian, PSBB tidak diterjemahkan sebagai tindakan pemerintah membatasi kebebasan rakyat, termasuk kebebasan beribadah sebagaimana diterjemahkan sebagian kalangan. Tidak ada pemerintah yang hendak menganiaya rakyatnya sendiri.

Kenapa langkah PSBB diambil dan diminta untuk kita patuhi bersama semua protokol yang adala di dalamnya? Karena memang itu satu-satunya jalan sementara ini, lantaran belum satupun laboratorium di dunia yang sudah berhasil menemukan  vaksin  maupun  obat  yang bisa mengatasi Covid-19.

Dalam Islam, dikenal juga istilah tha’un untuk menyebut wabah. Tha’un menimpa orang kafir maupun orang beriman. Maka Islam pun menganjurkan kepada ummatnya apabila ada thau’un maka carilah perlindungan atau menyelamatkan diri. Salah satu bentuk perlindungan itu adalah berdiam di rumah. Oleh protokol Covid-19 kini disebut stay at home. Coba simak hadis berikut ini: Dari Aisyah RA, bahwasanya  dia  berkata:  Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang wabah (tha’un), maka Rasulullah SAW mengabarkan kepadaku: “Bahwasannya wabah (tha’un) itu adalah adzab yang  Allah  kirim  kepada  siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang ketika terjadi wabah (tha’un) dia tinggal di rumahnya, bersabar dan berharap pahala (di sisi Allah) dia yakin bahwasanya tidak akan menimpanya kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya, maka dia akan mendapatkan seperti pahala syahid” (HR Bukhari).

Itu berarti bahwa berada di rumah saja –termasuk  beribadah  pun—adalah  sebuah  upaya untuk menyelamatkan diri tha’un atau wabah.  Kemudian kita jadi tidak bisa shalat fardhu berjamaah di  masjid,  berjumat untuk kaum pria atau berjamaah salat tarawih, itu benar. Namun sebagaimana sudah difatwakan oleh majelis ulama, salat berjamaah bisa dilakukan di rumah saja. Salat Jumat dapat diganti dengan Salat Zuhur saja. Sementara tarawih di rumah saja.

Tidak ke masjid, bukan berarti PSBB melarang ke masjid. Ini hanya  sebuah jalan  untuk menghentikan meluasnya penyebaran virus akibat aktifitas manusia yang saling bersentuhan. Dan ini sifatnya tidak permanen, hanya sementara sampai kondisi menjadi aman dimana virus itu benar-benar sudah hilang.

Berada dengan sabar di rumah, apabila kita patuhi sedari awal tentu akan bertemu apa yang dirumuskan para pakar. Bahwa virus Korona akan mati sendirinya setelah  melewati masa 14 hari di tubuh orang yang antibodynya kuat. Itu sebabnya pemberlakukan PSBB dipatok 14 hari.

Nah, bagi warga Kota Padang dan Sumatera Barat pada umumnya, pemahaman ini penting agar kita seayun selangkah melawan Covid-19 ini. Seayun sejalan dalam menjaga terselenggaranya protokol Covid-19 dalam semua aspek kehidupan kita. Dengan demikian, kalau ada yang tidak seayun sejalan, maka itulah titik dimana virus tersebut akan berlanjut menyebar ke mana-mana.

Sabda Rasulullah, Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu  peringatan  dari Allah SWT untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka, apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu keluar darinya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Saya ingin mengajak kita semua, agar setelah memahami tentang  virus  Corona  ini, lalu memahami protokol penyelamatan yang ditetapkan WHO, lalu mematuhi apa yang digariskan dalam ketentuan PSBB, selanjutnya tentu kita berserah diri kepada Allah SWT.

Allah SWT adalah pencipta virus Korona itu. Maka kepadaNYA lah kita minta pertolongan, agar kita dilindungi dari ancaman marabahaya yang ditimbulkan virus ini.

Kita haus meyakini seyakin-yakinnya, bahwa karena virus ini –sebagaimana juga  semua apa yang ada di alam ini—adalah ciptaanNYA, maka Dia pulalah yang akan memusnahkannya. Dia lah yang akan menjaga kita, apabila kita berserah diri kepadaNYA. Sebagaimana difirmankanNYA:

“Maka Allah adalah sebaik-baiknya penjaga dan Dialah Maha Penyayang di antara para penyayang”. (QS Yusuf, Ayat 64).

Mari kita bersama satukan barisan melawan Covid-19 ini. Barisan yang tidak rapat hanya akan membuat musuh dengan mudah menyerang pertahanan kita. Cuci tangan, pakai masker, di rumah saja, jaga kesehatan dan teruslah berdoa.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.