Model Pelatihan CODE Menggunakan Mesin Injection Molding Berbasis ATMega128 untuk Meningkatkan Kompetensi Sistem Kontrol pada Mahasiswa D3 Teknik Mesin FT UNIMED

2017
Dr. Izwar Lubis, ST., MT

Artikel ini memaparkan model pelatihan CODE sebagai solusi peningkatan kompetensi lulusan di D3 Teknik Mesin FT UNIMED yang terbukti valid, praktis dan efektif untuk diterapkan dalam pelatihan. Kompetensi yang menjadi dasar dan tolok ukur seorang pekerja di dunia industri sangat perlu untuk dipahami dan dianalisis serta dipelajari. Dalam proses pelatihan, peserta dibentuk menjadi lulusan yang kompeten sesuai dengan kebutuhan yang berorientasi pada dunia kerja. Untuk itu perlu dilakukan link and match antara pengetahuan yang diberikan lulusan dengan kebutuhan dunia kerja tersebut. Hal itu dapat diwujudkan dengan pelatihan yang berfokus pada kompetensi keahlian melalui penerapan program pelatihan.
Model Pelatihan Compass, Observation, Demonstration, Evaluation (CODE) adalah model pelatihan yang dikembangkan oleh Dr. Izwar Lubis, ST,MT untuk meraih gelar Doktor di S3 Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Negeri Padang. Disertasi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk menyelesaikan studi penelitian pada Program Doktor Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang.
Diawali dengan perkembangan sektor industri khususnya di Indonesia sangat erat hubungannya dengan sumber daya manusia yang dihasilkan oleh dunia pendidikan. Bagi para pelaku industri manufaktur di Indonesia yang terus berkembang saat ini, kemampuan untuk beroperasi lebih cepat, lebih hemat biaya, dan lebih inovatif telah menjadi hal utama. Meskipun perkembangan teknologi dibidang industri di Indonesia akhir-akhir ini lumayan pesat. Agar Indonesia mampu bersaing di dunia industri dibutuhkan dukungan pemerintah yang lebih intens tentunya dengan dukungan biaya yang tidak sedikit dan fasilitas penunjang yang memadai. Untuk mendukung perkembangan teknologi diharapkan dunia pendidikan harus siap untuk menghasilkan mahasiswa yang mampu bersaing di bidang teknologi, seperti mengembangkan alat-alat di bidang industri, kesehatan, militer dan lain-lain, maka dibutuhkan persiapan untuk menghasilkan kompetensi yang sesuai dengan bidang keahlian yang diinginkan oleh perkembangan teknologi sekarang ini.
Mesin–mesin yang terus berkembang seperti mesin injection molding membutuhkan salah satu kompetensi yang dapat mengontrol dan mengoprasikan mesin secara baik dan benar. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesi No. 90 Tahun 2014 Tentang “Penempatan standar kompetensi kerja nasional Indonesia ketegori industri pengolahan golongan pokok industri karet, barang dari karet dan plastik kelompok usaha industri barang dari plastik untuk pengemasan”, Kode Unit: C.222200.007.01 membahas tentang “Mengoprasikan mesin injection molding”. Dengan adanya kompetensi ini, peneliti berusaha melengkapi dengan manambahan pelatihan keahlian sistem kontrol yang mengarah kepada menganalisa mesin injection molding agar mesin dapat di kontrol dengan baik, dengan memahami sistem kontrol maka dapat menjawab kebutuhan ahli dibidang sistem kontrol.
Dari permasalahan yang terjadi pada pengoprasian mesin injection molding sangat berhubungan dengan Mata kuliah mekatronik dan robot industri di Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik UNIMED, mata kuliah mekatronik dan robot industri salah satu materinya membahas sistem kontrol, tetapi dengan banyaknya materi pelajaran pada mata kuliah tersebut, maka dibutuhkannya pengetahuan tambahan yang dapat mengembangkan kompetensi yang mendukung mata kuliah mekatronik dan robot industri, untuk melengkapi kebutuhan tersebut dilakukan pelatihan. Pelatihan ini dilakukan setelah mahasiswa lulus matakuliah mekatronik dan robot industri, maka peserta dalam pelatihan hanya mahasiswa yang telah lulus matakuliah mekatronik dan robot industri.
Pada mata kuliah mekatronik dan robot industri saat ini masih digunakan model pembelajaran konvensional yaitu sebuah model pembelajaran yang memiliki kecenderungan mengacu pada model pembelajaran langsung, yakni pembelajaran yang menempatkan dosen sebagai sumber belajar atau teaching center (pembelajaran berpusat pada dosen). Pembelajaran berpusat pada dosen menjadikan dosen berperan untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada mahasiswa dengan cara yang terinci. Kondisi ini adalah merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan lulusan yang belum dapat memenuhi tuntutan pasar global saat ini.
Peserta dalam mengikuti pelatihan diharapkan untuk menjadi tenaga kerja ahli yang profesional, bertanggungjawab, mengetahui dan memahami serta merespon dengan cepat apa yang terjadi di dunia industri. Dalam proses pelatihan peserta diperkenalkan dengan berbagai masalah baru dan dilatih untuk mencari jalan keluarnya, selain itu juga mampu mengembangkan kemampuannya, mencari alternatif-alternatif serta pemecahannya untuk berani mengambil keputusan dengan cepat. Jika terjadi sesuatu persoalan dalam mengerjakan sebuah pekerjaan maka peserta harus mampu mencari berbagai alternatif penanggulangannya.
Pengembangan proses pembelajaran untuk mengikuti perkembangan zaman terutama di bidang teknologi dan industri, salah satunya bertujuan untuk mengembangkan potensi keahlian sistem kontrol dan menguasai pembuatan produk untuk menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas unggul, sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi terkini. Untuk itu proses kegiatan pelatihan harus sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan agar tingkat penguasaan materi tercapai. Proses pembelajaran di kampus bertujuan mengembangkan potensi akademis dan kepribadian pelajar, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan dunia kerja. Proses pelatihan di dunia kerja dimaksud agar pelajar menguasai kompetensi standar, mengembangkan dan menginternalisasi sikap dan nilai professional sebagai tenaga kerja yang berkualitas unggul, baik bekerja pada pihak lain ataupun membuka usaha sendiri.
Inovasi teknologi yang dikembangkan, mengembangkan model pelatihan untuk meningkatkan kompetensi peserta yang selama ini masih teori dalam sistem kontrol. Perkembangan dunia industri sudah menggunakan teknologi mesin injection molding sehingga peserta dituntut untuk bisa mengikuti perkembangan dunia industri yang menggunakan teknologi yang canggih. Komersial teknologi yang dikembangkan, kedepannya model dalam pelatihan sistem kontrol mesin injection molding bisa dipraktekkan di universitas lain dan nantinya peserta dapat mengembangkan sistem kontrol yang bisa digunakan di dunia industri, kesehatan, militer dan lain-lain.
Model pengembangan yang dilakukan peneliti adalah model pelatihan CODE pada sistem kontrol mesin injection molding, mikrokontroler ATMega128 sebagai pengendali mesin injection molding untuk mengatur parameter-parameter yang berpengaruh terhadap proses produksi plastik diantaranya adalah temperatur lelah, batas tekanan, waktu tahan, waktu penekanan, temperature cetak, kecepatan injeksi, ketebalan dinding cetakan. Pegaruh beberapa parameter proses injection molding terhadap cacat shrinkage pada bahan plastik ini merupakan permasalahan yang harus diteliti dengan pengontrolan menggunakan sistem mikrokontroller ATMega128 yang berbeda dengan mesin yang sudah ada. Untuk itu dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada sekarang ini, maka dikembangkan suatu sistem pengendali mesin–mesin industri menggunakan mikrokontroler, dengan berkembangnya teknologi sekarang ini sistem mikrokontroler dapat dikembangkan dan diaplikasikan ke semua mesin yang masih manual, seperti pintu otomatis, mesin pengiris ubi, mesin pengupas kulit kacang tanah, mesin pemindah bahan (lengan robot) dan lain-lain. Dimana mikrokontroler ini merupakan salah satu jenis alat yang sering digunakan untuk pengembangan sebuah mesin industri selain PLC.
Penelitian ini telah menghasilkan model pelatihan CODE yang memuat syntax yang telah memiliki validitas dari penilaian unsur sebuah model pelatihan yang baik.

Gambar 1. Posisi model pelatihan Compass, Observation, Demonstration, Evaluation (CODE) yang dikembangkan

Pada model pelatihan CODE, pelatihan dilakukan dengan melihat masalah yang terjadi, poin yang penting dalam pelatihan CODE adalah peserta harus “mencari contoh masalah pada aplikasi dilapangan dan membandingkan dengan mesin injection molding berbasis ATMega128 yang menjadi perangkat pelatihan”, sehingga peserta mampu memecahkan masalah melalui studi kasus-studi kasus di lapangan, mampu belajar secara relevan dengan kebutuhan keahlian sistem kontrol di lapangan.
Mampu berpikir kritis melalui menganalisis permasalahan, melalui diskusi yang membangun ide-ide pemikiran yang kritis, mampu membuat kesimpulan. Disisi lain peserta juga dapat saling berinteraksi melalui tatap muka di kelas. Dengan ini peserta mengimplementasikan pelatihan di era revolusi industri 4.0. Selain itu juga sebagai bekal untuk mampu bersaing di era masa mendatang termaksud di revolusi industri 4.0. Menghasilkan capaian kompetensi pada sistem kontrol mesin injection molding, mampu membuat kesimpulan dengan mengambil keputusan seperti memeriksa dan pemikiran kritis.
Untuk menggambarkan lebih jelas bentuk syntax model pelatihan CODE dapat dilihat pada gambar 2 berikut ini:
Gambar 2. Model Pelatihan CODE yang dikembangkan

Adapun penjelasan tiap sintak pada model pelatihan CODE yang dikembangkan diangap memiliki sebuah novelty (keterbaharuan) yang membedakan dari model penelitian lainnya adalah pada sintak 3 yaitu mencari contoh masalah pada aplikasi di lapangan.
Temuan dari penelitian ini menghasilkan model pelatihan Compass, Observation, Demonstration, Evaluation (CODE) yang memiliki 8 sintak, untuk mendukung mata kuliah mekatronik dan robot industri di D3 Teknik Mesin FT UNIMED, Kemudian mengungkapkan validitas, praktikalitas dan efektifitas model pelatihan CODE yang dikembangkan. Menghasilkan produk yang mendukung keterlaksanakan penerapan model pelatihan CODE, dengan komponen produk yang dikembangkan adalah a) Buku model pelatihan CODE; b) Buku modul c) Buku panduan instruktur dan peserta.
Implikasi penelitian pada Model Pelatihan Compass, Observation, Demonstration, Evaluation yang dikembangkan dirumuskan melalui tahapan-tahapan (sintaks) yang lebih menitik beratkan proses pelatihan di desain melalui pendekatan-pendekatan masalah nyata kemudian proses penyelesaiannya dilakukan secara investigasi (study case) dengan mencari solusi secara mandiri. Buku panduan instruktur, peserta, modul, model pelatihan sistem kontrol yang sudah valid, praktis, dan efektif hanya dapat digunakan pada pelatihan. Namun alat yang dikembangkan bisa diterapkan oleh semua instruktur pada pelatihan manapun, karena alat di desain sesuai dengan seluruh karakteristik kebutuhan perkembangan teknologi.
Artikel ini ditulis oleh Dr. Izwar Lubis, ST., MT berdasarkan disertasi untuk penyelesaian Program Doktor (S-3) pada Prodi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Pascasarjana Universitas Negeri Padang. Saat ini telah berhasil meraih doktor di usia 41 tahun di Universitas Negeri Padang. Tim Promotor Prof. Selamat Triono, M.Sc., Ph.D. dan Co-Promotor Prof. Dr. Ambiyar, M.Pd dengan Tim Penguji yaitu Prof. Ganefri, Ph.D.; Dr. Fahmi Rizal, M.Pd., M.T.; Prof. Dr. Nizwardi Jalinus, M.Ed.; Prof. Jalius Jama, M.Ed., Ph.D.; dan Prof. Dr. Soesanto M.Pd. (Penguji Eksternal dari Universitas Negeri Semarang).
Dari hasil temuan penelitian disertasi ini, berkenaan dengan model pelatihan CODE ini, Dr. Izwar Lubis, ST., MT. telah berhasil mempublikasi artikel di jurnal international dengan judul Validity of Product on The Development of Compass, Observation, Demonstration, Evaluation (CODE) Training Model. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here