21 Januari 2022

Beranda » Model Flipped Blended Learning Solusi Pembelajaran pada Pendidikan Teknologi dan Kejuruan

Model Flipped Blended Learning Solusi Pembelajaran pada Pendidikan Teknologi dan Kejuruan

Dr. (c) Unung Verawardina, M. Pd

Oleh : Dr.(c) Unung Verawardina, M.Pd – Padang

Artikel ini memaparkan model flipped blended learning sebagai solusi pembelajaran pada pendidikan teknologi dan kejuruan yang terbukti valid, praktis dan efektif untuk di terapkan dalam pembelajaran.

Pendidikan vokasi secara umum bertujuan mempersiapkan dan mencetak lulusan yang memiliki keterampilan untuk mampu memasuki dunia kerja maupun untuk melanjutkan jenjang Pendidikan yang lebih tinggi, namun lebih memprioritaskan untuk siap bekerja, dengan dibekali berbagai pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan vokasi harus mampu menghadapi transisi transformasi revolusi industri 4.0, oleh karena itu pembelajarannya juga memuat kompetensi pembelajaran Abad XXI yang sesuai peranan pendidikan vokasi untuk menghasilkan tenaga kerja sesuai kebutuhan dunia kerja.

Disamping itu, pendidikan vokasi harus mempersiapkan dan mengimplementasi pembelajaran dengan pembentukan keterampilan 4C memuat Critical thinking (berpikir kritis), Communication (komunikasi), Colaboration (kolaborasi), dan Creativity (kreativitas) merupakan keterampilan yang harus dikuasai kompetensi SDM untuk menjadi kompetitif dalam kecakapan hidup abad XXI. Pencapaian dapat dilakukan dengan mempelajari inovasi yang disesuaikan dengan masalah atau pembelajaran berbasis projek, mendorong kerja sama, pelatihan komunikasi, memberdayakan metakognisi, merancang relevan belajar dengan dunia nyata, dan berpusat pada peserta didik (Zubaidah,2016; Susilawati, Ristanto, dan Khoiri, 2015). Selain itu menurut sudira (2018) salah satu skill yang dibutuhkan Abad XXI di Pendidikan Vokasi dengan mampu berpikir tingkat tinggi (high orde skill thinking).

Permenristekdikti No.62 Tahun 2017 mengenai tata kelola teknologi informasi (TI), melalui peraturan tersebut memungkinkan untuk terjadinya perguruan tinggi beradaptasi memasuki revolusi industri 4.0, dimana lebih dominan dalam menggunakan teknologi. Hibridisasi proses pembelajaran saat ini lebih menekankan pembelajaran berpusat pada mahasiswa untuk menciptakan belajar mandiri yang tidak bergantung dengan pengajar, ketersediaan sumber belajar yang luas melalui big data, penggunaan teknologi untuk memudahkan pembelajaran, tempat belajar tidak hanya terjadi secara konvensional di kelas saja yang terbatas dengan waktu belajar yang telah telah terjadwal, namun belajar saat ini dapat belajar diberbagai tempat yang mampu melewati jarak, ruang dan waktu yang dilakukan secara online. Lahirnya berbagai profesi pada bidang teknologi yang muncul maka mahasiswa harus mampu bersaing secara global, tentu dalam, maka perlunya perubahan transformasi Pendidikan vokai digital sehingga membutuhkan kemampuan dalam teknologi.

Pada era revolusi Industri 4.0 ini perlu bersinergi dengan pembelajaran abad XXI  menghadapi tantangan pembelajaran masa depan, perkembangan teknlogi yang dinamis dan komplek dimasa depan, oleh karena itu diperlukanya kompetensi-kompetensi yang memuat pada era tersebut yang mampu menciptakan lulusan menghadapi masa depan yang profesional, mampu menghadapi tantangan.

Pada pendidikan vokasi memiliki sasaran agar peserta didik memiliki keterampilan hardskill dan softskill. Sedangkan permasalahan yang ada pada pembelajaran terjadinya transformasi pembelajaran di era revolusi industri 4.0, diperlukanya tenaga IT dibidang program di era ini, sehingga diperlukan lulusan yang berkompeten. Berbagai masalah lainya seperti kurang optimalnya pembelajaran khususnya pada bidang pemrograman yang memerlukan alokasi waktu yang banyak, keterbatasan waktu pembelajaran di kelas, sehingga memerlukan pembelajaran yang terjadi di luar kelas, sehingga lebih fleksibel terjadi dimana dan kapan saja.

Terjadinya wabah Covid-19 yang mengharuskan belajar dilakukan secara online. Disisi lain kemampuan mahasiswa berkaitan dengan High order thinking skill (HOTS), kemampuan 4C, literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia, masih tergolong kurang. Belum adanya model blended learning pada pendidikan teknologi dan kejuruan yang relevan dengan kebutuhan pembelajaran Abad XXI dan era revolusi industri 4.0. Masih terdapat berbagai gap dari hasil temuan penelitian sebelumnya mengenai pembelajaran secara online khususnya pada model blended learning sehingga perlu dilakukanya perbaikan dan menambahkan novelty.

Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan adanya perbaikan dalam pelaksanaan pembelajaran, salah satunya dengan pengembangan model pembelajaran yang dikemes secara selaras dan berisnergi, sehingga mampu tercapainya kompetensi yang diharapkan dunia kerja sehingga mampu bersaing secara global, oleh karenanya dosen harus mampu membuat inovasi pembelajaran yang dapat mengatasi pembelajaran menjadi mudah khususnya pada pendidikan teknik dan kejuruan.

Tentu dalam pengembangan model pembelajaran harus dirancang dengan baik, dan sistematis sesuai tahapan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation and Evaluation) agar mencapai hasil terbaik (Branch, 2009). Beberapa teknik analisis data dilakukan seperti penilaian kualitatif, analisis validitas oleh exspert, analisis praktikalitas, analisis efektivitas, analisis data secara deskriptif, dan uji persyaratan analisis.

Pada model yang dikembangkan terdiri dari rasional model, yang memuat teori pendukung, penelitian yang relevan untuk dijadikan landasan dalam penyusunan dan pengembangan model flipped blended learning memiliki rasionalitas pemikiran yang merujuk kepada kebutuhan kompetensi pembelajaran di era revolusi industri 4.0 dan pembelajaran Abad XXI, memiliki alasan dan argumen mengatasi masalah terhadap model pembelajaran sebelumnya. Selain itu adanya rasionalisasi pengembangan model pembelajaran berdasarkan karakteristik dan kondisi mahasiswa, disamping itu juga pengembangan merujuk kepada learning outcome mata kuliah pemrograman visual, teori belajar, dampak dan sistem sosial pembelajaran.

Penelitian ini telah menghasilkan model flipped blended learning yang memuat syntax yang telah memiliki validitas dari penilaian unsur sebuah model pembelajaran yang baik.

Gambar 1. Posisi model flipped blended learning yang dikembangkan.

Pada model flipped blended learning, pembelajaran dilakukan secara face to face   dan online, belajar dapat secara fleksibel yang dapat belajar dimana dan kapan saja, dengan fasilitas komunikasi secara tatap muka, maupun interaksi online menggunakan chat dan forum, evaluasi berupa soal-soal sesuai HOTS, aktivitas penugasan untuk mengumpulkan tugas mahasiswa menciptakan sesuatu program dan link-link situs pembelajaran sebagai sumber informasi, serta bahan ajar daring. Dengan model tersebut adanya projek, melalui projek mahasiswa dapat menghasilkan suatu produk yang kreatif, mampu memecahkan masalah melalui studi kasus-studi kasus di lapangan di luar kelas, mampu belajar secara relevan dengan kebutuhan produk di lapangan.

Pada projek 1 dengan diterapkan keseluruhan sintak pada model, projek 2 dengan pengulangan diterapkan kesuluruhan sintak pada model, projek 3 dengan pengulangan diterapkan keseluruhan sintak pada model, dan tiap topik projek saling keterkaitan dengan materi projek sebelumnya. Pada projek tersebut juga adanya peningkatan materi yang harus dipahami mahasiswa, kemudian adanya pengayaan tiap projek. Alasan adanya projek karena sesuai dengan karakteristik mata kuliah, dan mengkombinasikan blended ke dalam projek, yang tidak sekedar belajar online dan face to face nya saja. Selain itu mahasiswa juga dapat belajar untuk saling berkolaborasi untuk saling diskusi. Mampu mengasah untuk berkomunikasi misalnya melalui kerja tim dan ketika melakukan persentasi.

Mampu berpikir kritis melalui menganalisis permasalahan, melalui diskusi yang membangun ide-ide pemikiran yang kritis, mampu membuat kesimpulan. Disisi lain mahasiswa juga dapat saling berinteraksi melalui tatap muka di dikelas dan online. Dengan ini mahasiswa mengimplementasikan pembelajaran di era revolusi industri 4.0. dengan pembelajaran digital, adanya literasi data melalui sumber-sumber belajar, literasi teknologi menggunakan teknologi misalnya menggunakan website e-learning, mempublikasi produk yang dibuat ke youtube untuk di share ke khalayak luar.

Selain itu juga sebagai bekal untuk mampu bersaing di era masa mendatang termaksud di revolusi industri 4.0. Menghasilkan capaian yang mampu berpikir HOTS yang meliputi mampu menganalisis, mampu mengevaluasi menyelesaikan soal dan evaluasi pada mata kuliah pemrograman visual, mampu membuat kesimpulan dengan mengambil keputusan seperti memeriksa dan pemikiran kritis. mampu menciptakan suatu program yang di dalamya ada unsur kreativitas dan berpikir kreatif, seperti merumuskan, merencanakan, dan memproduksi.

Untuk menggambarkan lebih jelas bentuk syntax model flipped blended learning dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini:

Sintak  model yang dikembangkan dapat dilihat pada gambar 2 :

Gambar 2 Model Flipped Blended Learning yang Dikembangkan.

Adapun penjelasan tiap sintak pada model flipped blended learning yang dikembangkan diangap memiliki sebuah novelty (keterbaharuan) yang membedakan dari model penelitian lainnya, yakni sebagai berikut:

  1. Learning orientation yakni dijelaskan persiapan pembelajaran untuk melihat kesiapan mahasiswa dalam belajar untuk memperoleh pengetahuan dan peningkatan pemahaman, adanya instruksi jadwal belajar secara face to face dan online yang memiliki proporsi belajar face to face 50% dan online 50%. Setting pembelajaran dilakukan secara singkro dan asingkron.
  2. Acess content material and activities dimana mahasiswa dapat mengakses konten material daring secara bebas di kelas dalam bentuk buku ajar, powerpoint, adanya tutorial video, e-book, dan sebagai pelengkap di luar kelas seperti mempelajari materi yang mahasiswa belum terselesaikan ketika di kelas, pelengkap topik materi melalui sumber-sumber belajar digital dan berupa contoh-contoh praktik, ditunjang juga aktivitas belajar yang ada seperti komunikasi interaktif melalui penggunaan chat, forum dan video conferance  untuk berinteraksi dimana dan kapan saja secara online.
  3. Group assignment project adanya group penugasan untuk membuat penugasan projek yang dimana akan di bentuk group secara face to face di kelas kemudian dilakukanya pemberian topik diksusi dan tugas projek, mahasiswa mendiskusi projek tersebut kemudian membuat projek tersebut di luar kelas secara online.
  4. Discuss to monitoring project dimana hasil projek dapat dimonitoring  saat tatap muka dikelas dan dapat juga ketika pembelajaran secara online melalui histori rekaman pada sistem e-learning, portofolio, video conferance untuk melaporkan hasil perkembangan projek, serta melakukan diskusi. Kemudian untuk melakukan diksusi dapat menambahkan unsur diskusi secara virtual melalui video conference, dan Pada diskusi ini memuat unsur berpikir kritis untuk mempelajari topik materi projek seseuai dengan kompetensi 4C.
  5. Test the results of the project untuk mempresentasikan hasil projek yang telah dibuat, ketika dikelas mempresentasikan hasil projeknya dan menyampaikan kendala-kendalanya, membuat kesimpulan akhir tentang projek yang dibuat.
  6. Evaluasi yang dilaksanakan tes kognitif secara online dan tes psikomotor, serta penilaian sikap yang memuat 4C selama proses pembelajaran berlangsung.

Hasil temuan menunjukkan bahwa model flipped blended learning yang dikembangkan terbukti tingkat validitasnya tinggi. Produk model yang dihasilkan meliputi : (1) buku model, (2) buku ajar, (3) panduan dosen, dan (4) panduan mahasiswa dinyatakan valid. Penilaian praktikalitas dosen dan mahasiswa dinyatakan bahwa keseluruhan produk yang dihasilkan memiliki nilai praktis. Begitupula pada hasil efektivitas yang memuat kognitif, afektif dan psikomotor. Hasil dari pengujian efektivitas model flipped blended leaning tersebut adalah model pembelajaran ini dapat diimplementasikan kepada peserta didik di pendidikan tenik kejuruan, yag dapat diterapkan pada mata kuliah maupun pada mata kuliah yang karakterisik nya pemrograman seperti pemrogramn visual, karena sudah teruji efektivitasnya, namun dapat juga diterapkan pada mata kuliah lainnya.

Dampak yang terdapat dari model flipped blended learning ini pada pencapaian sistem sosial berupa kedisiplinan, memiliki sikap positif, aktif berdiskusi dan bekerjasama dalam menyelesaikan tugas projek baik secara online dan face to face, memiliki sopan-santun dalam kelas maupun di luar kelas. Pada dampak reaksi mengkonstruksi informasi, adanya proses pembelajaran melalui interkasi, adanya evaluasi secara online dengan menyampaikan hasilnya berupa umpan balik. Peran pengajar disini untuk memfasilitasi mahasiswa untuk membimbing, mengarahkan dan memotivasi mahasiswa serta memberikan penilaian. Sistem pendukung menerapkan model flipped blended learning ini agar berjalan maksimal membutuhkan dukungan buku ajar, buku panduan, bahan ajar daring dalam bentuk presentasi powerpoint dan video, website e-learning, soal, dan lembar penilaian. Kemudian juga membutuhkan perangkat komputer, laptop maupun handphone, LCD Infocus, Wireless Luocal Area Network (WLAN).

Dampak instruksional sebagai hasil yang akan dicapai setelah diterapkan model flipped blended learning mampu menganalisis konsep, memecahkan masalah, mengidentifikasi, sehingga dapat membedakan, mengorganisasikan, mengatribuasikan, b).mampu mengevaluasi menyelesaikan mampu berargumen, membuat asumsi, mampu membuat kesimpulan dengan mengambil keputusan seperti memeriksa dan pemikiran kritis, c). mampu menciptakan suatu projek yang di dalamnya ada unsur kreativitas dan berpikir kreatif, seperti merencanakan, membangun dan memproduksi produk. Untuk dampak pengiring dimana mahasiswa dapat belajar secara online dan face to face, terjadi fleksibelitas dalam belajar dimana dan kapan saja secara bebas. Terjalinnya interkasi melalui diskusi secara online dan face to face, diskusi kelompok, kolaborasi, tangung jawab, kemampuan menyelesaikan masalah, berfikir kritis, disiplin, dan kreatif. Mahasiswa juga menghasilkan produk yang dibuatnya dari studikasus dilapangan, produk dibuat dengan kreasi-kreasi mahasiswa yang inovatif, sehingga produk yang dihasilkan dibuat hak ciptanyaa dalambentuk Hak atas kekayaan intelektual dari kemenkumham.

Dapat disimpulkan bahwa model flipped blended learning yang dikembangkan dinyatakan valid, praktis, efektif dan memiliki kebaruan sehingga layak untuk diterapkan pada pendidikan teknik dan kejuruan.

Kebaharuan dari temuan ini memuat novelty dengan  mengambil irisan model blended learning yang ada yakni flipeed classroom dan sefl blend dengan adanya orientasi pembelajaran yang mempersiapakan penjadwalan pembelajaran face to face dan online melalui instruksi pembelajaran yang jelas, seperti materi yang dipelajari di  tiap minggunya, terdapat arahan instruksi kegiatan pembelajaran saat online dan face to face. Memuat pembuatan projek dimana tiap topik projek saling keterkaitan dengan materi projek sebelumnya. Pada projek tersebut juga adanya peningkatan materi yang harus dipahami mahasiswa sehingga memacu mahasiswa berpikir tingkat tinggi, kemudian adanya pengayaan tiap projek yang memadukan belajar online dan face to face. Adanya diskusi kelompok secara online dan face to face dengan adanya unsur berpikir kritis (membuat asumsi, pengambilan keputusan,dll), kemudian menambahkan unsur diskusi secara virtual melalui video conference, forum diskusi. Berkolaborasi melalui kelompok pada projek yang memuat unsur-unsur kolaborasi Abad XXI pada komptensi 4.C. Menumbuhkan komunikasi di dalam kelas maupun di luar kelas. Mengerjakan tugas projek, sehingga mahasiswa dapat berinovasi dan berkreativitas dalam membuat projek. Adanya unsur literasi teknologi dalam menghasilkan produk melalui projek dan literasi data terkait mengakases materi sebagai pelengkap untuk diakses secara online, maka dari itu dapat ditunjang dengan adaya sumber ajar maupun  materi ajar secara daring dan terhubung ke link-link pembelajaran (youtube, situs, dll).

Implikasi temuan ini menghasilkan model pembelajaran yang mengkombinasikan online dan face to face dan sistem pendukung berupa buku model, buku panduan dosen, buku panduan mahasiswa, dan buku ajar yang valid, praktis dan efektif. Secara umum model flipped blended learning ini memungkan mahasiswa dapat belajar secara fleksibel, dimana saja, dan kapan saja, adanya interakasi, umpan balik, projek yang menghasilkan produk yang kreatif. Konstribusi pada pendidikan teknologi dan kejuruan, dimana model tersebut relevan untuk menjalankan pembelajaran abad XXI yang memuat softskill seperti keterampilan berfikir kritis, kreatif, komunikasi dan kolaborasi dan era revolusi industri 4.0 seperti literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Memuat pembuatan projek berdasarkan kebutuhan industri/dunia kerja. Perlu dilakukan kerjasama antara dosen yang menampuh mata kuliah pemrograman visual dangan mata kuliah lainnya, agar semua mata kuliah yang ada di pendidikan vokasi dapat menggunakan model blended learning dalam kegiatan pembelajaran. Perlu adanya sosialisasi di program studi, jurusan, fakultas maupuun di pendidikan vokasi secara menyeluruh dan bereklanjutan.

Artikel ini ditulis oleh Dr.(c) Unung Verawardina, M.Pd berdasarkan disertasi untuk penyelesaian Program Doktor (S-3) pada Prodi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Pascasarjana Universitas Negeri Padang. Lahir 1 Juli 1991 di Pontianak. Saat ini telah berhasil meraih doktor di usia 29 tahun di Universitas Negeri Padang.

Tim Promotor Prof. Dr. Nizwardi Jalinus, M.Ed. dan Co-Promotor Krismadinata, P.hD yang telah lulus diseminarkan pada ujian tertutup tanggal 18 September 2020 pukul 09:00 dengan Tim Penguji yaitu Prof. Ganefri, Ph.D.; Dr. Fahmi Rizal, M.Pd., M.T.; Prof. Dr. Ambiyar, M.Pd.; Dr. Sukardi; Prof. Jalius Jama, Ph.D; dan Prof. Dr. Putu Sudira,M.P. (Penguji Eksternal dari Universitas Negeri Yogyakarta).

Dari hasil temuan penelitian disertasi ini, berkenaan dengan model flipped blended learning ini, Dr.(c) Unung Verawardina, M.Pd telah berhasil mempublikasi artikel di jurnal international bereputasi (Q3) dengan judul Needs Assessment of E-Learning Vocational Education di  jurnal International Journal of Innovation, Creativity and Change. Kemudian juga telah diterima di  jurnal international bereputasi (Q3), dengan judul Developing Blended Learning Model in Vocational Education Based On 21 st Century Integrated Learning and Industrial Revolution 4.0 di jurnal Cypriot Journal of Educational Sciences. Selanjutnya diterima juga pada  jurnal international bereputasi (Q4) dengan judul Blended learning as Instructional Model in vocational education: Literature Review di jurnal Horizon Research Publishing (HRPUB). Diterima Jurnal nasional terakreditasi sinta 2 di Jurna Pendidikan Indonesia. Kemudian buku model yang telah dalam proses penerbitan di penerbit Depublish Yogyakarta.Menghasilkan buku terbit dengan judul pendidikan vokasi di era revolusi industri 4.0, dan buku ajar elearning secara teori dan praktik yang diterbitkan oleh PGRI Provinsi KALBAR. Serta publikasi lainnya, dengan h-indeks scopus 3. (*)

*Dr.(c) Unung Verawardina, M.Pd, meraih gelar Doktor di usia 29 Tahun, lulusan tercepat, dengan predikat cumlaude, IPK 3,98. di S3 Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Negeri Padang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *