Model Employability Skills Learning Berbasis Trainer Simulator Air Conditional Sebagai Solusi Pembelajaran Pada Sekolah Menengah Kejuruan

579
Dr.(c) Yunesman, M.Pd, T. meraih gelar Doktor di Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Negeri Padang.

Oleh : Dr.(c) Yunesman, M.Pd. T.

Artikel ini memaparkan sebuah model terbaru dengan nama model Employability Skills Learning Berbasis Trainer Simulator Air Conditional untuk pembelajaran Sekolah Menegah Kejuruan, yang terbukti valid, praktis dan efektif untuk di terapkan dalam pembelajaran.

Kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa, salah satu tolak ukur yang dipengaruhi oleh tingkat perkembangan angkatan kerja yang ada di negara tersebut. Bangsa-Bangsa di dunia sekarang ini berpacu dalam meningkatkan kualitas angkatan kerjanya dengan bermacam-macam cara. Dengan demikian sangat pentingnya angkatan kerja suatu negara untuk kemajuan bangsa itu sendiri. Negara Indonesia salah satu negara besar didunia juga yang mengalami permasalahan dalam hal angkatan kerja. Data World meters, tahun 2019, penduduk Indonesia berjumlah 269 juta jiwa, setara dengan  3,49%  penduduk dunia. Dengan data ini ketersediaan tenaga kerja di negara kita ini sangat banyak. Akan tetapi angkatan kerja terampil yang berkuantitas untuk mengisi peluang kerja yang ada, banyak tidak berkualitas. Ini merupakan permasalahan yang harus segera diatasi, di era persaingan bebas, negara kita sangat membutuhkan SDM yang terampil dan professional di bidangnya.

Menciptakan tenaga kerja terampil yang berkualitas dan profesional sangat ditentukan oleh mutu sekolah atau mutu perguruan tinggi yang di topang pola atau metode pembelajaran yang cocok dengan bidang keahlian. Sebagai saluran yang lebih spesifik untuk menciptakan angkatan kerja siap pakai dan berkeahlian salah satunya dengan memperbanyak sekolah kejuruan atau Vocational. Dalam hal ini perlu mengembangkan model pembelajaran dan metode yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Sekolah teknologi dan kejuruan (technical vocational educational) sebagai salah satu pendidikan yang menjurus langsung ke dunia kerja, sangat berperan penting untuk mempersiapkan tenaga kerja untuk menghadapi arus globalisasi dan perubahan teknologi yang berdampak terhadap perilaku kehidupan sosial, politik, dan ekonomi masyarakat (Nizwardi, 2014:1). Teknologi informasi dan inovasi teknologi yang berkembang di dunia kerja dan industri selalu mengalami perubahan setiap saat. Jenis pekerjaan yang berbeda memerlukan pengembangan keterampilan yang beragam untuk produksi industri dengan teknologi baru agar memiliki nilai ekonomi bagi bangsa dan negara. Hayton (1993) menjelaskan bahwa persaingan komponen dunia industri pada abad ke-21 akan bergantung pada kemampuan dunia industri untuk melakukan inovasi produknya agar dapat bersaing di pasar bebas. Setiap inovasi di bidang teknik membutuhkan karyawan dengan tingkat intelektual dan kecerdasan yang mampu bersaing dengan negara lain (Nizwardi, 2015).

Undang-Undang No 20 tahun 2003  SisDikNas  No 20 tahun 2003   pasal 2 menyatakan: “Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.  Dari data Badan Pusat Statistik 2017 memperlihatkan data angkatan kerja yang ada di Indonesia  berdasarkan  tingkat pendidikan yang didapat .Data tersebut dapat digambarkan pada tabel dibawah ini:

Gambar 1 Data Biro Pusat Statistik 2017

Dari data-data empiris di atas, perlu dicari akar permasalahannya, kenapa tamatan SMK banyak tidak dapat pekerjaan. Permasalahan yang terjadi rendahnya  etitut kerja, kurangnya teknik pemecahan masalah, kemampuan berfikir kritis, kemampuan bekerjasama dan kualitas penerapan hasil kerja, hanya skills yang anggap cukup baik.  Khusus serapan tenaga kerja lulusan teknik pendingin dan tata udara berdasarkan laporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca di Sektor Refrigeration dan Air Conditioning (RAC), Permintaan peralatan RAC di Indonesia tumbuh secara berkesinambungan. Industri sebagai sarana saluran angkatan kerja masih menilai bahwasanya lulusan SMK belum memiliki  persyaratan standar minimal menjadi seorang karyawan. Hambatan yang paling banyak dikeluhkan perusahaan tenaga kerja  baru  lulusan SMK terkait  ketenagakerjaan (employability), etika dan belum ada keselarasan antara program pengajaran di sekolah dengan kebutuhan Industri. Persaingan para lulusan SMK untuk mendapatkan pekerjaan juga semakin ketat karena perusahaan juga semakin selektif dalam memilih calon karyawan.

Tuntutan industri untuk mendapatkan calon karyawan harus memiliki kualifikasi dan pengalaman kerja yang dibentuk oleh keterampilan teknis, Employability Skills, dan atribut pribadi. Istilah Employability Skills yang mengintegrasikan keterampilan seseorang untuk dapat bekerja di lingkungan kerja. Employability Skills adalah kemampuan untuk memperoleh pekerjaan dan mempertahankan pekerjaan (Hillage & Pollard, 1998; Rothwell & Arnold, 2007). Employability Skills mempersiapkan seseorang untuk sukses dalam mendapatkan pekerjaan (Rasul, Rauf, Mansor, & Puvanasvaran, 2012). Di industri, dari tingkat pekerjaan mulai pemula hingga posisi tertinggi Employability sudah menjadi hal yang universal (Robinson, 2000).

Meskipun dilakukan pembelajaran di sekolah, praktek kerja perlu dilakukan dalam rangka mengembangkan Employability Skills. Dari segi pengembangan potensi banyak persoalan yang dibenahi dalam pelaksanaan praktek kerja industri, contohnya peningkatan kompetensi dan keterampilan. Pengalaman kerja sebagai modal dalam sistem   kerja, berkomunikasi, bekerjasama  dan bersikap dengan orang lain, serta  bagaimana langkah  penerapan teori yang dipelajari di sekolah ke dalam dunia  nyata. Sehingga diperlukanya sebuah model pembelajaran yang mampu mengatasi permasalahan tersebut.

Tentu dalam pengembangan model pembelajaran harus dirancang dengan baik, dan sistematis sesuai tahapan metode penelitian dan pengembangan Research and Development(R&D) dengan model digunakan Borg dan Gall. Beberapa teknik analisis data dilakukan seperti penilaian kualitatif, analisis validitas oleh exspert, analisis praktikalitas, analisis efektivitas, analisis data secara deskriptif, dan uji persyaratan analisis.  Pada model yang dikembangkan terdiri dari rasional model, yang memuat teori pendukung, penelitian yang relevan untuk dijadikan landasan dalam penyusunan dan pengembangan model.

Penelitian ini telah menghasilkan model engembangan Employability Skills menggunakan trainer pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa SMK berbasis Air Conditional yang telah disampaikan di atas, maka perlu kerangka konseptual:

Gambar 2 Model Pembelajaran Employability Skills Learning.

Dari Gambar 2, kerangka konseptual model Employability Skills learning dirancang dengan menggabungkan antara model pembelajaran Work-Based Learning dengan Model Pembelajaran Inquiry dan disandingkan dengan Employability Skills Leaning  dengan bantuan media  trainer simulator sebagai jawaban rumusan masalah untuk mendapatkan suatu model pembelajaran yang menyelaraskan antara budaya dengan budaya sekolah. Model Pembelajaran Employability Skills Learning ini akan diuji sesuai dengan hipotesa penelitian.

Pada model tersebut didukung adanya teori belajar seperti konstruktivik, behavioristik, cognitifik, dan Dengan belajar secara Model Employability Skills Learning (ESL) siswa dapat mengembangkan kemampuan akademik, kualitas pribadi dan kemampuan berfikir yang mengandung budaya kerja  di industri.

Untuk sintak model Employability Skills Learning  memiliki 7 sintak model pembelajaran, yakni 1) Orientasi I; 2)Orientasi II; 3) Rumusan Masalah; 4) Hipotesa ; 5) Investigasi dan eksplorasi; 6) Refleksi;7) Evaluasi. Pendekatan pembelajaran untuk menerapkan model Employability Skills Learning  adalah Personal Adapting, Career Identity, dan Human Social capacity melalui budaya kerja di industri yang ada pada Employability Skills.

Berdasarkan hasil penelitian pengembangan Model Employability skills Learning berbasis trainer simulator air conditional dapat menunjukkan model yang dikembangkan valid, praktis dan efektive. Produk yang dihasilkan berupa buku ajar, panduan guru, panduan siswa, panduan trener. Selain itu juga, terdapat peningkatan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa, Model pembelajaran Employability Skills Learning disimpulkan lebih efektive dari pada model work-based learning. Dampak dari model pembelajaran Employability Skills Learning dapat menunjukkan tingkat perkembangan skills, tingkat kemampuan akademik, tingkat kemampuan berfikir dan kualitas pribadi. Model employabilty skills learning menghasilakan  model pembelajaran yang memperluhatkan  keaktifan  guru dan siswa dalam belajar dan mengajar serta  mengembangkan kompetensi dirinya dan juga meningkatkan pemahaman guru terhadap tingkah laku siswa dan kepribadian siswa dibidang teknik khususnya. Model  employability skills learning adalah model pembelajaran yang mengembangkan kualitas dari  prinsip-prinsip kerja di industri. Dimana  Prinsip- prinsip kerja yamg dimaksud adalah meningkatkan skills, kemampuan akademik, kemampuan berfikir dan meningkatkan kualitas pribadi. Novelty model yang dikembangkan dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. Novelty model.

Implikasi temuan ini dimana Siswa dapat mengidentifikasi masalah nyata (real) di lapangan, mencoba memunculkan beberapa pertanyaan penting (essential question) kepada dirinya sendiri seberapa tingi tingkat kemampuan yang untuk menghadapi menuju dunia industri, selain itu dengan Model Pembelajaran employabilty skills learning ini beserta dengan sistem pendukungnya menjadikan siswa lebih giat meningkatkan  budaya kerja, keterampilan dan sikap kerja  sesuai dengan kemampuannya masing-masing, sehingga dapat mengembangkan potensi yang  ada pada siswa itu sendiri.

Artikel ini ditulis oleh Dr.(c) Yunesman, M.Pd. T. berdasarkan disertasi untuk penyelesaian Program Doktor (S-3) pada Prodi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Pascasarjana Universitas Negeri Padang.

Tim Promotor Prof. Jalius Jama, P.hD. dan Co-Promotor Prof.Dr.Ambiyar, M,Pd  yang telah lulus diseminarkan pada ujian tertutup tanggal 8 Januari 2021 pukul 09:00 dengan Tim Penguji yaitu Prof. Ganefri, Ph.D.; Dr. Fahmi Rizal, M.Pd., M.T.; Dr. Sukardi, M.T; Dr. Ridwan, M.Sc.Ed; dan Prof. Mochamad Bruri Triyono, M. Pd. (Penguji Eksternal dari Universitas Negeri Yogyakarta). Dari hasil temuan penelitian disertasi ini, berkenaan dengan model yang dikembagkan, Dr.(c) Yunesman, M.Pd.T telah berhasil mempublikasi artikel di jurnal international bereputasi (Q3) dengan judul The Effectiveness of the Model Employability Skills Learning Based on Trainer Simulator Air Conditioner in Vocational High Schools di jurnal Walailak. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here