18/04/2024

rakyatsumbar.id

Berita Sumbar Terkini

Beranda » Mengunjungi Kota Tua Padang, Bangunan Zaman Kolonial Masih Bertahan di Era Milinial

Mengunjungi Kota Tua Padang, Bangunan Zaman Kolonial Masih Bertahan di Era Milinial

Pengunjung melihat Gedung Spaar Bank di jalan Batang Arau, Nomor 33 Kelurahan Batang Arau, Kecamatan Patang Selatan menjadi salah satu bangunan cagar budaya Kota Tua di Kota Padang. (ist)


Kawasan Kota Tua di Kota Padang menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah pusat ibukota provinsi Sumatera Barat. Keberadaan bangunan arsitektur Eropa peninggalan Belanda jejak peninggalan jalur rempah tersebut menjadi pendukung keberadaan pariwisata berdampak pada sektor akomodasi dan geliat perekonomian masyarakat.

Muharman—Padang

Masa keemasan Pelabuhan Muaro sebagai sebuah bandar perdagangan besar juga sudah jadi sejarah. Sekarang Pelabuhan Muaro masih aktif, meski tak sesibuk dulu. Kapal-kapal terlihat di sepanjang aliran Sungai Batang Arau, selain untuk tempat kapal nelayan juga banyak bersandar, begitu juga kapal untuk menyeberangkan orang dan barang menuju Kepulauan Mentawai.

Namun peninggalan VOC di pinggiran Batang Arau itu masih tersisa. Jejeran bangunan yang pernah menjadi perkantoran dan gudang beragam komoditas seperti emas, batu bara, teh, kopi, kapur barus, garam dan kemenyan masih berdiri melewati berabad-abad waktu.

Sebagian bangunan berarsitektur Eropa peninggalan Belanda itu saat ini telah berubah fungsi menjadi kafe dengan lampu warna-warni. Menyajikan sajian kekinian dan hiburan musik “live”. Sebagian loji tua juga direhabilitasi tanpa merusak bentuk aslinya. Ada yang berubah fungsi menjadi kafe dan restoran kekinian. Kawasan ini menjadi tempat alternatif wisata kuliner dan nongkrong sembari menghabiskan malam di Kota Tua Padang.

Kawasan Kota Tua Padang merupakan sebuah kawasan perdagangan yang sangat ramai melalui Pelabuhan Muaro pada abad ke 17 .

Bangunan peninggalan Belanda di pinggiran Sungai Batang Arau merupakan bagian dari kawasan Kota Tua Padang luasnya mencapai 32.690 meter persegi melingkupi dua kecamatan, yaitu Padang Selatan dan Padang Barat.

Belanda pada pertengahan abad 17 kemudian membuat kebijakan membuat batas pemisah antara permukiman mereka dengan pribumi. Belanda menempati pinggiran Sungai Batang Arau yang sangat strategis pada masa itu, bertetangga dengan masyarakat Tionghoa, etnis Tamil India, dan terakhir baru pribumi. Kawasan permukiman itulah yang saat ini disebut Kota Tua.

Hingga saat ini, etnis Tionghoa, Tamil India dan Minangkabau masih saling membaur di Kawasan Kota Tua sehingga menjadi simbol dari akulturasi budaya dan keharmonisan antaretnis di Padang.

“Ada beberapa bangunan yang masuk dalam cagar budaya Kota Tua. Kebanyakan bangunan milik pribadi, ada juga gedung yang saat ini menjadi aset dari PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) yang dijadikan gudang, selain itu juga terdapat sejumlah klenteng di kawasan Kota Tua,” sebut Tria Pria Anugerah, Adyatama Pariwisata Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kota Padang, Senin (4/3).

Pada tanggal 8 November 2023, Gubernur Sumbar , Mahyeldi Ansharullah telah memberikan Masterplan Kota Tua Padang kepada Wali Kota Padang, Hendri Septa. Rencana induk ini dibuat menjadi pedoman dalam pengelolaan dan perlindungan kawasan Kota Tua dalam mengembangkan kawasan tersebut menjadi destinasi wisata kelas internasional di Sumbar.

Gubernur mengajak semua pihak untuk bekerja sama dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan kawasan ini. Peran proaktif dari masyarakat, pelaku usaha, pemerintah, dan lembaga terkait sangatlah penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan sektor pariwisata di kawasan ini. Diharapkan melalui kerja sama bersama, Kota Tua Padang dapat menjadi contoh keberhasilan dalam melestarikan warisan budaya dan sejarah, serta membuka peluang baru untuk ekonomi lokal.

“ Tak hanya masterplan, Badan Pengelola Kota Tua Padang telah dibentuk diketuai langsung Sekdako Padang Andree Algamar, melibatkan akademisi, tokoh masyarakat, beranggotakan OPD terkait, termasuk dinas pariwisata dalam pengembangan dan percepatan pengembangan Kota Tua,” tambah Tria menjelaskan.

Keberadaan Badan Pengelola Kota Tua ini, tentunya bentuk fokus dalam pengembangan tersebut dan kolaborasi dengan banyak pihak terutama investor, dengan tetap menjaga kelestarian cagar budaya serta bangunan-bangunan yang ada di Kota Padang tersebut.

“Tahun ini juga telah disiapkan DED pengembangan Kota Tua. Dalam mempromosikannya Cagar Budaya Kota Tua kita selama ini dibantu oleh Komunitas Padang Heritage dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Kota Tua. Selain mendampingi pengunjung studi tour atau paket tour untuk menjelaskan berbagai sejarah bangunan di Kota Tua,” jelasnya.

Ia menyebutkan, pada momen momen tertentu kawasan Kota Tua ramai dikunjungi. Diantaranya pada saat Imlek, penampilan atraksi Barongsai dan tradisi etnis Tiong Hoa disuguhkan untuk umum. Jelang Jumadil Akhir dalam penanggalan Islam, mereka menggelar serak gulo dari atas Masjid Muhammadan. Masyarakat tumpah ruah untuk berdesakan mengikuti dan menyaksikan tradisi yang dilaksanakan.

“Kita melihat sejarah Kota Tua, sejauh ini banyak mendukung kunjungan wisata di Kota Padang. Bahkan Kota Tua menjadi destinasi favorit kedua setelah Pantai Padang yang banyak dikunjungi wisatawan,” terangnya.

Klenteng Tertua di Kota Padang
Klenteng See Hin Kiong di Kota Tua. Klenteng ini merupakan pertama dan tertua di Kota Padang didirikan bangsa Tiongkok ini berdiri 1841. Klenteng ini awalnya berdinding kayu dan beratap rumbia, namun pada tahun 1861 terjadi kebakaran besar sehingga menghancurkan bangunan klenteng.

“Klenteng See Hin Kiong yang menjadi pusat ibadah warga keturunan Ting Hoa di Padang, sekaligus menjadi daya tarik wisata ke Kota Tua. Klenteng tertua di Kota Padang ini dibangun tahun 1841 silam ini dulunya bernama klenteng Kwan Im Teng. Keluarga-keluarga Tiong Hoa lantas sepakat untuk mengubah nama menjadi See Hin Kiong,” ungkapnya Danil Suhendra dari Komunitas Padang Heritage.

“Tahun 1861 klenteng tersebut sempat hangus terbakar. Kemudian dibangun kembali di tahun 1893. Kerusakan kembali terjadi akibat bencana gempa di Padang tahun 2009. Klenteng itu rusak berat,” jelasnya.

Ia menceritakan, setelah gempa dibangun kembali tahun 2010 di lokasi berbeda, berjarak 100 meter dari lokasi semula. Klenteng See Hin Kiong yang lama dijadikan sebagai lokasi kunjungan wisata, sementara klenteng yang baru sebagai kegiatan ibadah etnis Tiong Ha.

Tidak jauh dari Jembatan Siti Nurbaya yang terbentang diatas Batang Arau berdiri megah Gedung GEO Wehry & CO. Gedung kantor sekaligus gudang dari firma atau perusahaan ekspor-impor terbesar di Hindia-Belanda (Indonesia) pada masa kolonial itu didirikan pada 1911 dan diresmikan pada 1920.

Bilu Pricilia Pengurus Pokdarwis Gunung Padang mengungkapkan, kondisi gudang atau loji penyimpan barang yang akan dikirim ataupun yang datang lewat Pelabuhan Muaro.

Jumlahnya puluhan, statusnya cagar budaya. Loji itu ada yang masih berdiri kokoh dengan fungsi sebagai gudang. Loji yang masih terawat yakni Geo Wehry and Co dengan luas 118 meter persegi. Gedung ini berdiri sejak tahun 1911. Dulunya merupakan kantor perusahaan dagang.

“Tak semua loji terawat, ada pula yang nyaris hancur. Tak hanya soal usia, namun juga faktor guncangan gempa 2009. Sebagian loji tua juga telah direhabilitasi tanpa merusak bentuk aslinya. Ada yang berubah fungsi menjadi kafe dan restoran kekinian,” jelasnya.

Selain itu juga terdapat Gedung Spaar Bank di jalan Batang Arau, Nomor 33 Kelurahan Batang Arau, Kecamatan Patang Selatan juga menjadi salah satu cagar budaya Kota Tua. Bangunan ini dibangun di tahun 1908 ini dulunya merupakan kantor bank di zaman kolonial Belanda.

Bangunan dua lantai yang kini memiliki tinggi 35 meter menampilkan gaya neoklasik yang dipengaruhi arsitektur Art Deco tersebut merupakan salah satu bangunan terbaik pada masanya. Saat ini juga menjadi salah satu destinasi yang banyak dikunjungi saat berada di Kota Tua.

“Tentunya kita berharap, tidak hanya sebagai wisata sejarah, Kota Tua dan Gunung Padang menjadi Kawasan Wisata Terpadu (KWT) Gunung Padang yang terus berkembang,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.