02/12/2022
Beranda » MELAWAN PASRAH

MELAWAN PASRAH

Seniman tradisional Minangkabau, Joni Andra.

Joni Andra, Masuk 40 Seniman Terpilih

Ia selalu risau. Sering protes kepada kesewenang-wenangan. Dicobanya melawan, tapi pedangnya tidak setajam belati penguasa. Panahnya tak seruncing tombak-tombak orang berpunya. Tapi ia tak pernah mau menyerah.

Akhirnya, ia melawan dengan caranya. Dilawannya kesewenangan, ketidakpedulian, penzaliman melalui karya-karya tarinya. Dibentangnya persoalan sosial, kegaduhan politik dan politisi melalui gerakan-gerakan luwes di atas panggung. Ia melawan pasrah dengan cara yang elegan.

Dua pekan terakhir, ia menjadi buah bibir. Ketika orang-orang pasrah tak berdaya, ia tetap berusaha berdiri tegar. Idenya disambut antusias banyak orang. Ketika semua terpuruk dihadang wabah Covid-19, ia menghadirkan harapan baru.

Ketika itu Joni Andra bersama Hasanawi (seniman tradisional Minangkabau, pernah mengajarkan Saluang di Hawaii, Amerika) dan Asro, berada di Taman Budaya Sumbar. Ia mendengarkan “pasaraian” seniman tradisional yang kehilangan job tampil karena serangan Covid-19.

“Baralek ditagah, keramaian dilarang,” kata Joni Andra, menirukan Hasanawi yang akrab disapa Mak Hasan.

Seniman tradisional Minangkabau, Joni Andra.

Spontan saja Joni Andra mengajak Mak Hasan menghibur diri. Maka, dimainkanlah saluang dan rabab, malam itu juga. Iseng, ia kemudian menayangkan permainan Mak Hasan dalam bentuk siaran langsung di akun facebook. Disela-sela permainan Mak Hasan, Joni Andra dan Asro saling berbincang dan juga berdialog dengan penontonnya, termasuk membacakan salam dan pesan yang ditulis oleh yang menonton.

Malam itu, selesai begitu saja. Besoknya, mereka kembali menghibur diri. Tiba-tiba muncul ide, menghadirkan seniman tradisional lainnya, minimal mereka yang berkecimpung di saluang dan rabab. Rencana tersebut akhirnya direalisasikan. Respon penonton sangat luar biasa. Tak hanya penonton di Sumbar, tetapi juga dari berbagai wilayah di Tanah Air. Ada juga penonton tetap dari Australia, Belanda, Amerika dan berbagai negara lainnya.

Persoalan lain muncul. Joni Andra tersentak oleh antusias seniman tradisional tersebut. Kendati kehidupan mereka terjepit, namun masih mau menghibur orang secara sukarela. Akhirnya, ia mencetuskan ide baru; badoncek!

“Uang yang terkumpul diberikan untuk seniman tersebut,” kata Joni Andra.

Joni Andra mengenal  dunia tari, setelah menempuh pendidikan di SMKI Padang, Jurusan Tari, lalu melanjutkan pendidikan ke IKIP Yogyakarta Jurusan Tari.   Selama  kuliah, ia sudah mengenal penciptaan tari. Setamat  IKIP Yogyakarta, tahun 1998, langsung mengabdi sebagai tenaga honorer di Taman Budaya Bengkulu.  kerinduan untuk berkarya di tanah kelahirannya di Padang, Sumatera Barat, semakin menggebu. Ia kemudian kembali ke Padang dan  mulai aktif sebagai penari dan koreografer di Taman Budaya Sumatera Barat.

Ia mendirikan grup tari, Impessa Dance Company, 28 November 1999, untuk menampung generasi muda yang mencintai seni budaya Minangkabau. Impessa Dance Company, melibatkan anggota dari komunitas-komunitas breakdance atau yang lebih dikenal sebagai b-boy (penari jalanan).

Impessa Dance Company mengajak mereka (b-boy) bergabung agar kembali mencintai budaya Minangkabau, sampai sekarang regenerasi penari dari komunitas breakdance tersebut masih berlanjut.

Terbaru, Joni Andra masuk dalam 40 Seniman Terpilih Indonesia. Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dari 40 karya terpilih, salah satu karyanya, padahal ada lebih dari 250 karya yang diterima panita.

Panitia memberikan garisan tentang Ruang. Setiap peserta seleksi wajib menulis esai tentang pemahaman terkait dengan ruang, dan bagaimana aplikasinya dengan tari. Terhadap hal tersebut, Joni Andra membeberkan, dalam pandangannya tentang ruang di dunia tari adalah memberikan kesempatan pada tubuh sebagai penari dan koreografer untuk  turut berperan menyampaikan pesan  secara tersirat melalui video tari, terutama terhadap kondisi kekinian  menghadapi persoalan Covid-19. Persoalan ini bukan hanya persoalan yang dihadapi  pemerintah saja, namun menjadi tanggung jawab semua rakyat Indonesia

Ruang dalam kondisi saat ini menjadi sangat kompleks.  Ruang tak lagi sebatas jangkauan tubuh/gerak, batas tubuh, dan arah hadap tubuh, tapi ruang telah menjadi pola-pola yang berkembang dalam pikiran dan jiwa seseorang. Kondisi saat ini menuntut kita untuk membuka ruang berpikir lebih luas agar tercipta nya sebuah tindakan-tindakan kreatif, yang mendukung kehidupan masyarakat secara luas. Selama ini ruang dalam dunia tari hanya dikenal sebagai bentuk, level, jangkauan gerak, namun ini telah menjadi sebuah keharusan untuk mengembangkan nya dalam bentuk ruang pikiran yang lebih luas, dengan luasnya cakupan ruang, hal itu akan membuat setiap manusia memandang sebuah persoalan dengan segala aspek dan solusi yang dinamis.

Diri, ruang dan tubuh menjadi gagasan penting dalam kondisi saat ini karena pada hakekatnya ketiga hal tersebut adalah sebuah kesatuan yang tak bisa dipisahkan, diri telah menyatukan ruang dan tubuh sehingga lahirlah sebuah ide-ide kreatif untuk menghadapi kondisi kekinian, dan semua menjadi sebuah keterkaitan antara satu dengan yg lainnya. Gagasan, ide-ide kreatif dan solusi yang mudah dicerna harus lahir dari sebuah ruang dalam tubuh yang menyatu pada diri sendiri utk kemaslahatan masyarakat lainnya.

Ada hal menarik dari Joni Andra. Ia bersama penarinya terus berproses berlatih setiap malam, di Taman Budaya Sumbar, kecuali Minggu. Mereka berlatih meski tidak ada jadwal pementasan.

Hal lain yang menjadi catatan penting bagi Joni Andra, ia mewanti-wanti penarinya agar tidak melambai. Ia tak mau penarinya gemulai. Selama ini, selalu ada kesan bahwa penari cowok adalah orang-orang yang gemulai. Ia tak mau, baginya menari adalah kelenturan dan penghayatan. (fir)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.