27/11/2022
Beranda » Kabupaten Pasaman Bertekad Jadi Sentra Perikanan Air Tawar di Sumbar

Kabupaten Pasaman Bertekad Jadi Sentra Perikanan Air Tawar di Sumbar

Kepala Dinas Perikanan Pasaman, M Dwi Richie, S.Pi, M.Si.

Pasaman,  Rakyat Sumbar — Kabupaten Pasaman merupakan daerah penghasil ikan air tawar terbesar di Sumatera Barat. Hingga 2019 lalu, luas areal perikanan di daerah itu mencapai 4.332 Ha, dengan jumlah produksi sebanyak 53.540,26 ton.

Bidang perikanan merupakan sektor andalan di daerah itu dan juga menjadi salah satu program prioritas Pemerintah Kabupaten Pasaman, hal itu sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Pasaman tahun 2016 – 2021 mendatang.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang ada di daerah dan luar daerah, pemerintah daerah setempat, juga sudah menetapkan beberapa kecamatan di daerahnya sebagai percontohan sentra budidaya ikan air tawar (minapolitan). Adapun daerah percontohan tersebut meliputi kecamatan Rao dan Rao Selatan. Sementara kawasan penyangga yakni Padang Gelugur, Panti dan Bonjol.

Kepala Dinas Perikanan Pasaman, M Dwi Richie, S.Pi, M.Si pada Rakyat Sumbar di ruang kerjanya,  Rabu (22/07/2020) mengatakan, potensi budidaya ikan air tawar di daerah ini sangat besar karena didukung oleh sumber air cukup memadai.

“Pemasaran hasil produksi ikan masyarakat di daerah ini tidak hanya di daerah setempat, tapi juga sampai ke provinsi tetangga seperti Riau, Jambi, Bengkulu, dan Medan Sumatera Utara serta daerah lainnya, ” kata Richie.

Kadis Perikanan Pasaman, M Dwi Richie, S.Pi, M.Si bersama jajaran meninjau salah satu kolam masyarakat di Pasaman beberapa waktu lalu.

Dijelaskannya, pada 2018 lalu luas arel perikanan Pasaman pada 12 kecamatan  mencapai 4.332 Ha. Tidak itu saja, jumlah pembudidaya ikan di 12 kecamatan di Pasaman sejak 2018 – 2019 kemarin juga mengalami peningkatan. Di tahun 2018 Jumlah pembudidaya ikan di Pasaman sebanyak 18.284 orang, dan tahun 2019 meningkat menjadi 18.464 orang.

“Jumlah pembudi daya ikan terbesar 2018 di Pasaman ini terdapat di Kecamatan Rao Selatan mencapai 4.653 orang. Kemudian disusul Kecamatan Rao 4.388 orang, Padang Gelugur 2.794 orang,  dan Kecamatan Simpang Alahan Mati 688 orang, ” terang Kadis Perikanan Pasaman itu.

Terkait jumlah produksi ikan budidaya di daerah itu juga mengalami peningkatan. Tahun 2018 lalu, jumlah produksi ikan budidaya sebanyak 51.824,32 ton, dan pada tahun 2019 mengalami peningkatan menjadi 53.540,26 ton. “Untuk jumlah Produksi ikan air tawar per komoditas di pasaman tahun 2018, untuk ikan mas sebanyak 23.986,35 ton, ikan nila 15.048,59 ton, ikan gurame 187,78 ton, dan ikan lele 9.000,11 ton, serta lain-lainnya mencapai 60 ton,” paparnya.

Sementara itu, nilai produksi perikanan budidaya sejak tahun 2018-2019 juga alami peningkatan yang signifikan. “Tahun 2018 nilai produksi perikanan budidaya pasaman hanya sebesar Rp962.152.965.000,- dan tahun 2019 naik menjadi Rp999.224.380.000,-,” ucap alumni S1 perikanan UNRI, dan alumni S2 universitas Bung Hatta itu.

Terkait luas areal pembenihan dan produksi benih ikan tahun 2018-2019 di daerah itu juga mengalami peningkatan. “Tahun 2018 luas areal pembenihan dan produksi benih ikan di Pasaman mencapai 1.135 Ha, dan tahun 2019 seluas 1.236 Ha,” kata Richie.

Lebih jauh Richie menambahkan, luas budidaya ikan di Pasaman 2018-2019 juga alami peningkatan. “Tahun 2018 luas budidaya ikan di Pasaman 4.440 ha, dan 2019 meningkat menjadi 4.458 ha. Sedangkan, jumlah pedagang ikan di Pasaman tahun 2018 mencapai 167 orang, tukang ojek ikan 350 orang, dan kebutuhan pakan ikan sebanyak 6.000 ton,” terang Kadis Perikanan pasaman itu.

Richie memaparkan, untuk menghasilkan induk ikan unggul secara kontiniu guna memenuhi kebutuhan UPR di daerah itu, pemerintah daerah telah membangun 5 unit Balai Benih Ikan (BBI).  “Lima BBI  itu yakni, UPT BBI Beringin (Sertifikasi CPIB) di Kecamatan Rao Selatan dengan komoditi ikan mas, UPT BBI Lundar (Serrifikasi CPIB) di Kecamatan Panti dengan komoditi ikan mas, dan nila. Selanjutnya, UPT BBI Bonjol (Serrifikasi CPIB) di Kecamatan Bonjol dengan komoditi ikan gurame dan nila, dan BBI Duo Koto Kecamatan Duo Koto,” ucap dia.

Menurutnya, beberapa peluang dan tantangan pembangunan sektor perikanan yang dihadapi saat ini pertama, pengembangan  kawasan minapolitan. “Pengembangan kawasan minapolitan ini telah ditetapkan di Kecamatan Rao dan Rao Selatan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman Nomor 3 Tahun 2015 tentang Kawasan Minapolitan dan Keputusan Bupati Pasaman Nomor: 188.45/672/BUP-PAS/2008 tentang Penetapan Lokasi Pengembangan Kawasan Minapolitan Kabupaten Pasaman, dilakukan pengembangannya ke beberapa Kecamatan penyangga seperti Padang Gelugur, Panti, Lubuk Sikaping dan Bonjol,” terangnya.

Guna mendukung pengembangan kawasan Minapolitan ini, Dinas perikanan pasaman juga telah melaksanakan beberapa kegiatan diantaranya, Gerakan Pakan Mandiri (GERPARI). “Pada program ini, kita melakukan pelatihan terhadap POKDAKAN dalam memproduksi pakan sendiri. Kita juga berikan bantuan berupa mesin pembuat pakan dan bahan baku untuk sambungan kawasan minapolitan,” ujarnya.

Program Demplot/Demfarm Budidaya juga dilahirkan. Dimana kegiatan Demfarm budidaya dengan beberapa jenis komoditi dengan menerapkan teknologi baru sehingga dengan adanya penguasaan teknologi mampu meningkatkan pendapatan para pembudidaya. “Demplot/ Demfarm juga dapat mengaktifkan kembali lahan-lahan marginal yang tidak termanfaatkan dengan melakukan budidaya lele dan gurame sistem biofloc,” ucapnya.

Beberapa program andalan lainnya seperti, program mina padi, program peremajan induk bagi UPR, pembagunan jalan produksi perikanan, menjaga ketersediaan air di kawasan budidaya, pembangunan saluran Air di kawasan, rehabilitasi kolam juga perlu dilakukan, pemasaran hasil perikanan tak luput jadi perhatian, pembentukan koperasi pemasaran. Disamping itu, juga dibutuhkan sarana dan prasarana seperti alat angkut/transportasi yang memenuhi syarat teknis untuk pengangkutan ikan.

Saat ini, kata Richie beberapa peluang dan tantangan pembangunan sektor perikanan yang dihadapi adalah, pengembangan usaha mina pedesaan (PUMP). “Program ini untuk membantu para POKDAKAN yang masih terkendala dalam permodalan melalui bantuan modal dan pelatihan teknis budidaya. Dengan adanya bantuan modal kelompok dapat mengembangkan dan memaksimalkan usahanya sehingga dapat menuju menjadi kelompok yang mandiri,” katanya.

Selanjutnya, program magang bagi pembudidaya dan UPR, pengembangan wisata perikanan dan jaringan pemasaran, pengawasan dan pembinaan mutu hasil perikanan, Gerakan memasyarakatkan gemar makan ikan (Gemarikan), Kang Mas Man (Kampung Ikan Mas Pasaman), Salam Sarumah (satu kolam satu rumah), Sia Kang Mas Man (Sistem informasi aplikasi kampung ikan mas pasaman), serta bela dan beli produk perikanan.

Lebih jauh Richie menjelaskan bahwa, beberapa program inovasi Dinas Perikanan yang telah direncanakan pada 2021 mendatang meluputi, warung informasi teknologi perikanan budidaya (Wangi Tek Ida),  sistem informasi perikana. “Budidaya (Sikanda), Sabtu Makan Ikan (Samakan), Satu Kolam Satu Rumah (Salam Sarumah), serta Kampung Ikan Mas Pasaman (Kang Mas Man), juga masuk dalam program kita nantinya,” ucapnya.

Karena produksi ikan di Pasaman cukup banyak, saat ini kpihaknya juga telah mengandeng Usaha Mikro Kecil (UMK) di daerah ini. “Para UMK ini diberikan pembinaan, pelatihan dan bantuan untuk peningkatan hasil produk mereka. Terobosan itu ditujukn untuk membuka akses kepada para pelaku UMK dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) terutama dalam pengolahan ikan menjadi makanan ringan,” ujarnya.

Dengan pembinaan yang telah kita lakukan, kini kata Richie pelaku UMK Pasaman sudah banyak yang membuat produk-produk makanan ringan yang berbahan ikan. Bahkan kini makanan ringan itu telah menembus dunia pasar.

Ia berharap, makanan ringan atau semacamnya yang berbahan ikan juga dapat dipasarkan melalui inovasi khusus nantinya. “Jadi kita berharap ikan ini tidak saja untuk dimasak dan dijadikan lauk, namun juga bisa diolah menjadi makanan ringan atau semacamnya. Bila ini terjadi, otomatis putaran penjualan ikan bakal meningkat, masyarakat pun sehat dan sejahtera,” harapnya.

Kata Richie lagi, beberapa UMK Pasaman binaan Dinas Perikanan yang telah membuat produk-produk makanan ringan berbahan ikan itu diantaranya, UMK Borkat Manian, alamat Air Bungkeh Jorong Bahagia Nagari Panti Utara. “UMK ini memproduksi Abon ikan betutu, mintak ikan betutu,  rendang betutu, aneka olahan lele asap, dan nila kering,” katanya.

Selanjutnya, UMK Bungga Rosella, alamat Jrg II Pasar Rao Nagari Tarung-tarung, jenis produk kerupuk ikan. Kemudian,  UMK Mina Semangat Baru alamat Jalan Flamboyan Kecamatan Rao dengan produk kembang loyang rasa ikan, UMK Usaha Keluarga alamat Jprong Kp Talang Kecamatan Bonjol dengan produk lele asap,  serta UMK Khadafi Jorong Batu Badindiang Utara Nagari Limokoto Kecamatan Bonjol dengan produk ikan lele. (zon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.