02/12/2022
Beranda » Indak Talok Den Kanai Ati Dipublikasikan di IG

Indak Talok Den Kanai Ati Dipublikasikan di IG

Firdaus Abie, Penuis Cerbung Berbahasa Minang, Indak Talok Den Kanai Ati.

Padang, Rakyat Sumbar—Sepekan sudah cerita berbahasa Minang, Indak Talok Den Kanai Ati, dijadikan cerita bersambung di Harian Umum Rakyat Sumbar. Terhitung Senin (20/4) kemarin, cerita tersebut dipublis juga di IG (instagram), @firdausabie.

Sang penulis, Firdaus Abie yang sehari-hari General Manager dan Pemimpin Redaksi Harian Umum Rakyat Sumbar menyebutkan, dipublisnya cerita bersambung berbahasa Minang tersebut karena permintaan pembaca, khususnya pembaca dari luar Sumbar.

Firdaus Abie, Penuis Cerbung Berbahasa Minang, Indak Talok Den Kanai Ati.

Perihal  adanya cerita bersambung berbahasa Minang di Harian Umum Rakyat Sumbar, diketahui publik karena berita di Harian Umum Rakyat Sumbar dan sejumlah media online, termasuk promo di berbagai media sosial. Informasinya menyebar begitu cepat.

“Ada permintaan dari banyak orang Minang di rantau, mereka tidak bisa mendapatkan koran setiap hari, sehingga mereka meminta agar bisa mendapatkan akses membaca cerita bersambung tersebut,” kata Firdaus Abie sembari menyebutkan, kendati cerita di koran dan IG sama, namun versi IG terlambat beberapa edisi dibandingkan cerita  di koran.

Cerita Indak Talok Den Kanai Ati, berlatar belakang kehidupan remaja. Anak sekolahan. Semua materi menggunakan bahasa Minang umum, atau bahasa Minang yang dipakai sehari-hari di Padang. Sekali-sekali diselingi bahasa Minang dialek Pariaman dan daerah lain di Sumbar.

Perihal setting cerita, menurut Firdaus Abie, memang ditujukan untuk anak zaman now. Saat ini, anak-anak zaman now sudah mulai banyak meninggalkan “bahasa ibu”-nya. Mereka lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia, bahkan ada yang mencampur-aduk bahasa Indonesia dan bahasa asing.

Perihal cerita berbahasa Minang ini,  wartawan senior di Sumbar yang juga seorang sastrawan, Khairul Jasmi memberikan apresiasi kepada penulisnya. Menurutnya, menulis dan menghadirkan cerita menggunakan bahasa ibu, susahnya minta ampun, karena selama ini ada ‘jarak’ dan kita membiarkannya.

Menulis dalam “bahasa ibu”  memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Terasa ada, terkatakan tidak. Banyak orang terjebak, menulis dalam bahasa Minang hanya memindahkan dari bahasa Indonesia saja. Padahal tak bisa seperti itu. Bahasa Minang pada hakikatnya adalah bahasa lisan. Bukan bahasa tulis.  Tak banyak novel ditulis dalam bahasa Minang.  Jumlahnya  hanya hitungan jari, tapi sang penulis  sangat berani melakukannya.

Ia juga menyebutkan, dengan seting  seting cerita anak sekolah, setingkat SMA/SMK, Khairul Jasmi yang akrab disapa Kj melihat, ada  misi tersembunyi yang dibawa sang penulis, “tampaknya ia ingin membawa anak remaja (zaman now)  lebih dekat dengan keseharian, dekat dengan  bahasa ibu-nya,” katanya.

Novelis dan pegiat literasi yang juga Ketua Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, Muhammad Subhan melihat,  cerita bersambung berbahasa Minang ini bagaikan ‘membangkik batang tarandam’. Sebab, tak banyak pengarang Minang menulis menggunakan Bahasa Minang. Kalaupun ada, jumlahnya dapat dihitung jari.

Muhammad Subhan melihat, sesungguhnya pilihan  Firdaus Abie menulis cerita berbahasa Minang ini adalah pilihan yang  tak mudah, sebab ia berada di ruang sunyi. Tidak banyak pembaca yang membaca tulisan berbahasa Minang, meski di daerah sendiri—di mana akar bahasa ibu itu tumbuh. Sebagai sebuah konsekuensi, tampaknya Firdaus Abie tak peduli, dan ia terus mengarang hingga kelak cerbung itu menjadi buku; Novel Berbahasa Minang.

Sebagaimana cerbung, novel-novel berbahasa ibu, juga nyaris tak ditemui lagi. Penulis-penulis era millennial di Sumatra Barat, siapa yang berani menulis menggunakan Bahasa Minang? Tidak ada. Kalaupun ada yang menulis, tentu dengan Bahasa Indonesia, gayanya ke-Barat-baratan, atau ke-Korea-koreaan. Ya bagaimana lagi, itu pula zamannya.

Paham zaman berubah, termasuk media pemuatannya yang mulai bergeser perlahan ke ranah digital, Firdaus Abie ingin masuk ke dunia anak-anak milenial itu, melalui cerita berbahasa Minang yang asyik, seputar kehidupan remaja, dan mudah dicerna. Sepertinya ada tanggung jawab moral sebagai pengarang di tengah arus budaya global yang lambat laun menjauhkan pembaca generasi muda dari puak suku bangsanya, dan patut diselamatkan. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.