Padangpanjang, rakyatsumbar.id—Mengusung tema Art, Folklore and Ecology, perhelatan Festival Seni Indonesia (FKI)+ XIII yang dilaksanakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang dari tanggal 20 sampai 24 Oktober 2026, resmi ditutup Rektor ISI Padangpanjang Dr. Febri Yulika, S.Ag., M.Hum di Gedung Pertunjukan Hoeridjah Adam, Sabtu (24/10/2026) malam.
Ivent dua tahunan Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS-PTSI) itu, menjadi panggung untuk seniman, akademisi dan pecinta seni dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara serta menjadi saksi bagaimana kreativitas dan kolaborasi mampu menyatukan beragam elemen bangsa.
Pada kegiatan penutupan yang juga dihadiri perwakilan Kemenrsitekdikti, Pemprov Sumbar, Pemko Padangpanjang, Rektor se-Sumatera Barat dan ribuan pengunjung yang berada di dalam ruangan hingga ke lapangan yang juga menyediakan aneka UMKM lokal.
Penutupan oleh Rektor ISI Padangpanjang yang juga Ketua BKS-PTSI ini, menjadi puncak seluruh rangkaian festival panggung FKI+ XIII, menjadi saksi hidup bagaimana kreativitas dan kolaborasi mampu menyatukan berbagai elemen bangsa dalam satu semangat kesenian.
Perhelatan akbar tersebut meninggalkan jejak berharga bagi insan seni kampus. Seluruh rangkaian acara dirancang untuk menunjukkan bahwa festival bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang refleksi, pertemuan gagasan, dan penguatan identitas kebangsaan melalui jalur seni.
Mengusung tema Art, Folklore, and Ecology, Febri menegaskan tema tahun ini bukan sekadar slogan. Tema tersebut merupakan ajakan nyata kepada seniman untuk lebih peduli terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan ekosistem di Indonesia.
Menurutnya, melalui karya seni pesan ekologis dapat disampaikan secara inovatif dan menyentuh. Seni memiliki peran krusial dalam mengomunikasikan isu global yang mendesak, sehingga mampu mengetuk kesadaran publik dengan cara yang lebih humanis.
Salah satu pesan paling kuat dalam pidato penutupan tersebut adalah seni sebagai media pemersatu bangsa yang tak tergantikan. Di tengah keberagaman budaya Indonesia, seni justru menjadi kekuatan pengikat yang menyatukan seluruh perbedaan menjadi satu identitas.
Warisan tersebut, kata Rektor, merupakan titipan para pendiri bangsa yang terus dijaga generasi muda melalui inovasi dan kreativitas yang mengalir tanpa henti. Kampus seni memiliki tanggung jawab menjaga warisan sekaligus melahirkan karya baru yang relevan dengan zaman.
Antusiasme Pengunjung Cukup Tinggi
Data panitia menunjukkan setiap malam jumlah pengunjung mencapai 800 hingga 1.000 orang. Angka tersebut membeludak dan melampaui kapasitas ruangan yang tersedia di ISI Padangpanjang.
Tingginya animo tersebut menunjukkan besarnya kerinduan dan apresiasi masyarakat Padangpanjang dan Sumatera Barat terhadap karya seni berkualitas. Sembilan perguruan tinggi seni menampilkan karya terbaiknya dan mendapat sambutan hangat dari publik.
Kesuksesan juga tercermin dari ragam agenda yang digelar, mulai dari pertunjukan karya unggulan, pameran seni rupa, screening film, Temu Maestro, hingga workshop Randai, Rendang dan Batik Minangkabau yang menjadi ciri khas budaya Minangkabau.
Penyelenggaraan FKI+ XIII didukung penuh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan. Dukungan difasilitasi mitra resmi Sanggar Sikambang Manih yang diketuai Wakil Rektor III Dr. Susas Rita Loravianti, S.Sn., M.Sn.
Dukungan tersebut mencakup pembiayaan sembilan maestro dalam program Temu Maestro, enam kurator pameran serta pembangunan panggung dan dekorasi. Konsep dan kurasi keseluruhan dirancang sepenuhnya oleh ISI Padangpanjang sebagai tuan rumah yang dipercaya untuk ketiga kalinya setelah 2001 dan 2016.
Meski panggung festival telah ditinggalkan, Rektor menegaskan semangat kolaborasi tidak akan berhenti di sini. FKI+ XIII hanyalah titik awal dari inovasi baru yang akan terus mewarnai ekosistem seni Indonesia dan membuka jejaring kerja sama antar kampus seni.
Sebagai penutup resmi, Febri Yulika mengumumkan tongkat estafet FKI ke-14 akan dilanjutkan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pengumuman tersebut menjadi penanda keberlanjutan semangat kolaborasi, sekaligus harapan agar seni tetap menjadi alat perjuangan dan pemersatu yang menyampaikan pesan kebudayaan secara elegan.
Pada gelaran penutupan FKI+ XIII juga dimeriahkan dengan penampilan Sanggar Seni Titian Aka, Sanggar Kuciang Tuo, penampilan Band El-Fasco SMAN 3 Padangpanjang, Jaguank Produktion, Syafiq Legasi Seni dari Malaysia dan Orkes Taman Bunga.
Penampilan Karya Unggulan Tarik Perhatian
Malam penutupan FKI+ XIII cukup menarik perhatian masyarakat. Dimana, antrian pengunjung untuk memasuki ruangan Gedung Pertunjukan (GP) Hoeridjah Adam sebagai lokasi acara puncak, telah berlansung satu jam jelang acara dimulai.
“GP sudah penuh, kita menyediakan lokasi untuk mengikuti rangkaian kegiatan di samping GP bagi pengunjung yang tidak bisa masuk ke dalam, dengan infokus dan pengeras suara, termasuk juga menyiarkan secara live melalui youtube,” kata Direktur FKI Dr. Yusril, S.Sn., M.Sn saat ditemui di lokasi acara.
Disampaikannya, tidak hanya saat penutupan, dari awal kegiatan berupa penampilan karya unggulan dari masing-masing delegasi perguruan tinggi seni di Indonesia dan mancanegara, selalu menarik perhatian dari mahasiswa dan masyarakat, dibuktikan dengan selalu penuhnya gedung pertunjukan sebagai lokasi pelaksaan kegiatan.
“Ini membuktikan, seni mulai mendapatkan tempat di masyarakat dan keradaan ISI Padangpanjang juga sudah mulai dikenal oleh masyarakat di Sumatera Barat. Tentunya ini akan menjadi bahan evaluasi bagi ISI Padangpanjang dan pelaku seni untuk menata pertunjukan seni lebih bagus lagi dari yang sekarang,” sebutnya.
Yusril juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemko Padangpanjang, Pemko Bukittinggi dan Pemkab Tanahdatar yang telah ikut menyukseskan pergelaran FKI tahun ini, baik dalam jamuan makan malam maupun dalam lokasi pelaksanaan lomba bagi peserta FKI,” sebut Yusril yang akrab disapa Pak Katil itu. (ned)





