05/12/2022
Beranda » Dinas Kebudayaan, Apa Masih Perlu?

Dinas Kebudayaan, Apa Masih Perlu?

Oleh : Pinto Janir

Bahasa itu “Pemain utama kebudayaan”.
Bahasa yang bermuatan pikiran adalah “kebudayaan”.

Bahasa penelitian dan teknologi itu kebudayaan.

Bahasa sastra, kebudayaan.
Bahasa sosial, kebudayaan.
Bahasa simbol, kebudayaan.

Ia bisa singgah di tangan perupa, bentuknya lukisan dan lain-lain. Ia bisa tertitip di tangan seniman tari, bentuknya bisa jadi gerak kias, gerak hias, gerak luas dan gerak jelas.

Ia bisa terselip di puisi seorang pujangga melalui aksara tersembunyi.

Dan….

Perlu pemahaman lebih bijaksana tentang kebudayaan itu sendiri.
Jangan sempit tapi jangan pula melebar.
Karena kebudayaan tak selebar daun kelor.

Sahabat budaya…

Mengadakan lomba itu baik. Tapi itu hanya ranting kecil dari salah satu cara untuk merawat kebudayaan.

Kebudayaan di mata saya (pada konteks dinas kebudayaan) lebih baik mempersering menunjukkan “apa, mengapa dan bagaimana” isi buku, bukan hanya sekedar menerbitkannya.
Menerbitkan itu kerja mudah. Banyak orang bisa.

Mengadakan lomba kerja mudah, banyak event organizer bisa. OSIS saja bisa melaksanakannya. Kita jangan sampai terperangkap dan berlama lama terkurung pada lukah yang kecil.

Jadi jalan keluarnya apa?

Saran saya, Dinas Kebudayaan memperbanyak dialog dengan insan yang peduli produk pikiran. Tak usah formal formal amat, di mana saja bisa tempatnya.

Contoh, bercakap cakap dengan Ery Mefri dengan Nan Jombang-nya serta dengan banyak insan lain.

Saran saya, Dinas Kebudayaan segera lebih giat lagi melakukan Gerakan Kebudayaan dengan tepat, jelas, terang dan lebih sampai.

Lalu Gerakan Kebudayaan itu apa? Kampanye Kebudayaan-kah?

Lalu kampanye kebudayaan itu apa pula?

Lalu urusan Dinas Kebudayaan itu sebenarnya apa dan bagaimana?

Apakah ngurus adat! Kalau iya, bukankah sudah ada lembaga yang ngurus adat?

Ngurus bahasa? Lah sudah ada pula lembaga yang mengurusnya?

Ngurus tari, ngurus lukisan, ngurus puisi atau karangan?

Begitukah?

Atau ngurus pariwisata? Ha, sudah ada lembaga yang ngurus.

Ngurus pendidikan? Ada lembaga yang mengurusnya.

Bila semua lembaga yang beraroma kebudayaan sudah ada lembaga yang mengurusnya di Sumbar, lalu untuk apa lagi Dinas Kebudayaan Sumbar dibentuk?

Apakah hanya untuk ngurus-ngurus seniman dan karyanya atau organisasinya? Begitukah?

Sebagai seniman, saya pribadi malas diurus-urus. Gamang saya. Mengurus nanti karya saya.

Sementara kita tahu, kebudayaan bukan seni melulu…

Lalu, apakah Dinas ini percuma adanya?

Tidak.

Bagi saya selaku pegiat seni, dinas ini perlu. Bahkan amat perlu. Setidaknya, perlu bersama sama kita bantu dalam pikiran dan pemikiran.

Kalau Dinas Kebudayaan tidak perlu pikiran yang melahirkan saran atau gagasan, saya kira, itu ironik yang tragik.

Nista kebudayaan kita jadinya kalau tak menghargai pikiran.

Saya yakin, sesuai namanya, Dinas Kebudayaan –idealnya– adalah dinas yang sangat menghargai pikiran dan ikut menumbuhkannya dengan menanam, menyiram dan memupuk.

Mari kita duduk dudukkan pemahaman dalam pikiran jernih dan hati yang teduh. Selagi ini belum duduk, selagi visi belum sevisi, maka potensinya membuat misi menjadi anggau.

Anggau “tupoksi” namanya.

Karena kebudayaan itu, salah satu ulunya adalah pikiran—karena masih ada hulu yang lain yakni hati yg melahirkan rasa– maka terimalah kebudayaan sebagai sesuatu yang berpikir. Adatnya, pikiran melahirkan pelaksanaan.

Jangan sampai terjadi, laksanakan dahulu, latar belakang menyusul atau dicari-carikan.

Lenyapkan rasa ego berlebihan, hilangkan rasa lebih tahu berlebihan, hilangkan menganggap orang bodoh berlebihan, singkirkan budaya berpikir “siapa” dia dan budayakan budaya berpikir “apa” yang dia katakan.

Kemudian jangan mudah kagum dan gampang “hormat” berlebihan kepada orang karena “materi dalam bentuk uang” dan kekuatan dalam bentuk kekuasaan.

Jangan mudah mengakui dan kagum pada seseorang karena namanya telanjur dianggap besar atau dibesar besarkan. Tapi, kagumlah dengan karya yg berpotensi besar sekalipun lahir dari orang kecil yang tak dianggap di ruang sosial yg belum sportif.

Olala, malam ini pikiran saya kok jadi bertura tura?

Bagi saya, satu pikiran dapat melahirkan berjuta juta materi, tapi berjuta juta materi belum tentu dapat melahirkan satu pikiran (gagasan).

Lalu gagasan kita untuk Gerakan Kebudayaan itu apa?
Mari kita mahota hota.
Ayo, saling mendengar dan saling bicara.
Salam bahagia
Salam berpikir

Pikiran itu energi dan doa tanpa aksara.
(Tapi jangan berpikir ke berpikir saja tanpa pelaksanaan). Mana kan pernah perahu sampai ke pulau di saat mana untuk mendayung saja kita berpikir lama.

Kalau sudah ada perahu dan sudah jelas pulau yang dituju, apa juga lagi, ayo kita dayung dengan tenaga, soal badai, kita hadapi bersama sama, tibo samo sampai, hanyuik samo baranang. Kalau tak bisa berenang ketika hanyut atau karam… Jangan gacar. Berdoalah mengharap tibanya tim Sar.

Suatu “pikiran” pernah bertanya kepada saya yang bukan siapa-siapa, Dinas Kebudayaan Sumbar, apa masih perlu?

Jawaban saya, perlu !

Kasihan, gedungnya saja gagah.

Jawaban saya : ” Perlu!”.

Yakni perlu untuk lebih mendudukkan pikiran. Bukan pikiran terduduk.

Apakah mau duduk baselo, duduak mancangkuang, duduak maunjua, duduak tarak lapak malapak, duduak manih, duduak di muko pintu, duduak manunggu atau duduak jo pikiran basamo nan duduak atau duduak di subalah supir?

Supayo ijan sampai tajadi “bingung Tupoksi gamang berlaksana, saatnya dinas yang kita cintai ini lebih berpikir besar untuk kerja besar dengan harapan menjadi pemotif yang mendorong dan mengarahkan dan menciptakan ruang untuk melahirkan karya dan orang besar”.

Salam sakali lai
Salam nan dipinto.
Salam duduak sambia marokok jo mangopi sarato manulih gai.
Jan serius na, hidup itu main main, hasilnya kerja.
Jangan sampai terjadi, bentuk bentuk orang kerja tapi hasilnya main main. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.