Padang, Rakyat Sumbar — Hujan deras tak menyurutkan langkah Lurah Gunung Sarik yang baru, Dodi Candra, S.Kom., S.H., M.H., menemui warga RW 011 Perumahan Tarok Indah 2, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Jumat malam (18/9/2026).
Di Pos Satkamling Perumahan Tarok Indah 2, pertemuan yang awalnya menjadi ajang silaturahmi itu berkembang menjadi forum menyampaikan sejumlah persoalan konkret di lingkungan. Warga meminta perhatian terhadap betonisasi dua titik jalan dengan total panjang sekitar 150 meter, penanganan dan pelebaran drainase di sejumlah lokasi, hingga pembangunan pondasi bandar di sekitar Mushala Nurul Ikhlas.
Tak hanya soal infrastruktur. Kebersihan, ketertiban lingkungan, penataan pedagang, hingga pembinaan generasi muda melalui konsep Smart Surau turut menjadi bagian dari pembahasan.
Pertemuan tersebut dihadiri Ketua RW 011 Firman Wanipin, Ketua RT 03 Rio Putra, Ketua RT 01 Indra Budiman, perangkat RT serta sejumlah tokoh masyarakat dan warga.
Ketua RW 011 Tarok Indah 2, Firman Wanipin, mengapresiasi kehadiran Dodi Candra yang tetap datang meski kondisi cuaca hujan.
Menurut Firman, kunjungan langsung lurah ke lingkungan warga penting untuk membuka komunikasi dua arah. Persoalan yang selama ini dirasakan masyarakat, kata dia, dapat disampaikan secara langsung sekaligus dilihat kondisi lapangannya.
«“Kami mengapresiasi kehadiran Pak Lurah di tengah masyarakat RW 011. Walaupun malam ini hujan, beliau tetap datang dan berdialog langsung dengan warga. Ini penting karena persoalan di lingkungan bisa kita sampaikan secara terbuka dan dapat dibicarakan bersama untuk mencari solusi sesuai kewenangan pemerintah,” ujar Firman.»
Dua Titik Jalan Diusulkan Betonisasi
Dalam dialog tersebut, Ketua RT 01/RW 011 Tarok Indah 2, Indra Budiman, menyampaikan kebutuhan betonisasi jalan pada dua titik di lingkungan RT 01.
Titik pertama berada di sekitar rumah Nofrizal, Sekretaris RT 01, dengan panjang sekitar 50 meter. Sedangkan titik kedua berada di dekat rumah Ketua RT 01 dengan panjang sekitar 100 meter.
Dengan demikian, total panjang dua titik jalan yang diusulkan untuk betonisasi mencapai sekitar 150 meter.
Selain betonisasi, warga juga menyampaikan kebutuhan penanganan drainase di sepanjang jalan utama hingga kawasan rumah Ketua RT 01.
Persoalan drainase juga menjadi perhatian Ketua RT 03, Rio Putra.
Ia menyebut terdapat sekitar empat titik drainase yang membutuhkan perhatian. Tiga titik di antaranya membutuhkan pelebaran, sementara pada titik utama di tikungan jalan, kondisi drainase justru semakin mengecil.
Menurut Rio, usulan penanganan drainase tersebut telah disampaikan melalui surat kepada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Padang.
Warga juga mengusulkan pembangunan pondasi bandar di sekitar Mushala Nurul Ikhlas. Usulan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya memperbaiki aliran air di kawasan permukiman.
Di hadapan warga, Dodi Candra tidak hanya membahas persoalan infrastruktur. Lurah baru Gunung Sarik itu juga memperkenalkan tagline “Gunung Sarik Juara dan Bermartabat.”
Menurut Dodi, upaya mewujudkan tagline tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat. Pemerintah kelurahan, RT/RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat hingga warga dinilai memiliki peran masing-masing.
Dodi juga mengaitkan pembangunan lingkungan dengan Padang Rancak Award 2026.
Menurutnya, konsep “rancak” tidak semata-mata berbicara mengenai tampilan wilayah. Jalan yang baik, drainase yang berfungsi, lingkungan bersih, tidak terjadi genangan akibat saluran tersumbat, pengelolaan sampah yang tertib serta pasar yang teratur menjadi bagian dari lingkungan yang diharapkan.
Dalam persoalan sampah, masyarakat didorong melakukan pemilahan dari rumah. Sampah kemudian dikumpulkan dan diangkut menuju tempat penampungan sebelum dibawa ke lokasi pengolahan atau pembuangan sesuai mekanisme yang berlaku.
Sementara kawasan perdagangan, termasuk pasar kaget dan pedagang kaki lima, diarahkan untuk ditata secara persuasif dengan tetap memperhatikan fungsi jalan dan drainase.
Dodi menekankan bahwa pemerintah kelurahan tidak mungkin bekerja sendirian.
Sinergi diperlukan bersama mamak, alim ulama, cadiak pandai, tokoh masyarakat, ketua RT/RW serta seluruh perangkat kelurahan.
Pembinaan generasi muda juga menjadi perhatian dalam dialog tersebut.
Dodi menyampaikan gagasan Smart Surau, yang mendorong surau tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang pembinaan karakter anak dan remaja.
Konsep tersebut diarahkan untuk membantu mencegah tawuran dan kenakalan remaja melalui kegiatan pembinaan yang melibatkan tokoh agama, orang tua dan masyarakat.
Selain itu, Dodi menyampaikan gagasan penguatan peran Dubalang dalam menjaga ketertiban lingkungan dengan pendekatan persuasif.
Dubalang diarahkan memberikan edukasi mengenai kebersihan dan sampah, ketertiban lingkungan serta penataan lapak atau kegiatan usaha yang berpotensi mengganggu ketertiban.
Namun, apabila persoalan membutuhkan kewenangan penindakan, penyelesaiannya tetap melalui instansi yang berwenang, seperti Satpol PP, Babinsa maupun Bhabinkamtibmas.
Tokoh masyarakat RT 02/RW 011, Siri Antoni, mengapresiasi langkah Dodi Candra yang turun langsung menemui masyarakat.
Menurutnya, forum semacam itu penting agar pemerintah kelurahan dapat mendengar langsung kebutuhan warga sekaligus mengetahui kondisi lingkungan.
“Menurut saya, pertemuan seperti ini sangat penting. Warga bisa menyampaikan langsung apa yang menjadi kebutuhan di lingkungan, sementara Pak Lurah juga bisa mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan. Kita berharap komunikasi seperti ini terus dilakukan secara rutin, bukan hanya ketika ada persoalan,” ujar Siri Antoni.
Ia menilai pembangunan jalan dan drainase harus diikuti tanggung jawab bersama untuk menjaga fasilitas tersebut.
“Jalan dan drainase memang penting, tetapi setelah dibangun juga harus dijaga bersama. Jangan sampai drainase sudah diperbaiki tetapi kemudian tersumbat karena sampah atau ditutup sembarangan. Ini tanggung jawab pemerintah sekaligus masyarakat,” katanya.
Siri juga berharap tagline “Gunung Sarik Juara dan Bermartabat” diterjemahkan ke dalam program yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Kalau Gunung Sarik ingin juara dan bermartabat, tentu harus dimulai dari lingkungan. Jalan baik, drainase berfungsi, lingkungan bersih, tetapi masyarakatnya juga harus tertib dan saling menjaga,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat RT 03/RW 011, Jhonofa, menyambut baik kedatangan Lurah Gunung Sarik.
Menurutnya, sebagian persoalan masyarakat membutuhkan koordinasi lintas pihak sehingga komunikasi antara pemerintah kelurahan, RT/RW dan warga perlu dibangun secara terbuka.
“Kami menyambut baik kedatangan Pak Lurah. Ini kesempatan bagi masyarakat untuk menyampaikan langsung apa yang kami rasakan dan apa yang kami butuhkan. Tidak semua persoalan bisa diselesaikan oleh RT atau RW, sehingga perlu komunikasi dengan kelurahan,” kata Jhonofa.
Ia juga menyoroti persoalan drainase, terutama ketika musim hujan.
«“Kalau drainase bagus tetapi masyarakat masih membuang sampah sembarangan, tentu masalah tetap akan muncul. Jadi pembangunan harus dibarengi dengan kesadaran masyarakat,” ujarnya.»
Jhonofa turut mendukung gagasan Smart Surau sebagai ruang pembinaan anak dan remaja.
“Anak-anak kita perlu ruang untuk belajar agama, bergaul dan mendapatkan pembinaan. Smart Surau menurut saya bisa menjadi salah satu wadah, tentunya dengan melibatkan tokoh agama, orang tua dan masyarakat,” katanya.
Menurut Jhonofa, keberhasilan program kelurahan membutuhkan kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat.
“Yang paling penting adalah kebersamaan. Pemerintah kelurahan punya program, RT/RW punya aspirasi, masyarakat juga punya kebutuhan. Kalau semuanya duduk bersama dan saling mendukung, insyaallah pembangunan di Gunung Sarik bisa berjalan lebih baik,” tutupnya.
Aspirasi Warga Masuk Tahap Tindak Lanjut
Pertemuan tersebut dihadiri Ketua RW 011 Firman Wanipin, Ketua RT 03 Rio Putra, Ketua RT 01 Indra Budiman, perangkat RT 01 dan RT 02, serta sejumlah tokoh masyarakat dan warga, di antaranya Jhonofa, Siri Antoni, Maikiar, Azwardi Uncu, Dulmas Merek, Tunisman, Maizardi dan Nofrizal selaku Sekretaris RT 01.
Forum tersebut menjadi ruang awal untuk memperkuat komunikasi antara Pemerintah Kelurahan Gunung Sarik dengan masyarakat sekaligus memetakan kebutuhan prioritas di RW 011, khususnya terkait betonisasi jalan, penanganan dan pelebaran drainase serta pembangunan pondasi bandar.
Aspirasi yang disampaikan warga diharapkan tidak berhenti pada forum dialog. Usulan tersebut membutuhkan tindak lanjut melalui koordinasi antara kelurahan, RT/RW dan perangkat daerah terkait.
Untuk usulan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kota Padang, proses selanjutnya mengikuti mekanisme pengajuan, verifikasi kondisi lapangan serta ketersediaan program dan anggaran.
Ketua RW 011 Firman Wanipin bersama pengurus RT dan tokoh masyarakat juga mendorong agar komunikasi dengan pemerintah kelurahan dilakukan secara berkala. Dengan pola komunikasi tersebut, persoalan lingkungan dapat dipetakan, disampaikan melalui jalur yang tepat dan dipantau perkembangannya.
Di sisi lain, program “Gunung Sarik Juara dan Bermartabat”, Padang Rancak, Smart Surau serta penguatan ketertiban lingkungan membutuhkan keterlibatan bersama.
Pemerintah kelurahan berperan dalam koordinasi dan fasilitasi, sementara masyarakat memiliki peran dalam menjaga fasilitas, kebersihan dan ketertiban lingkungan.
Pertemuan di Pos Satkamling Tarok Indah 2 itu akhirnya tidak sekadar menjadi perkenalan lurah baru dengan warga. Forum tersebut menjadi titik awal untuk menghubungkan aspirasi dengan proses tindak lanjut—mulai dari menyerap persoalan, memetakan kebutuhan, mengoordinasikan usulan hingga bersama-sama mengawal perkembangannya. (fwi)





