19/08/2022
Beranda » Diagnosa Pasien Suspect Corona Sumbar Bakal Lebih Cepat

Diagnosa Pasien Suspect Corona Sumbar Bakal Lebih Cepat

Laboratorium Kedokteran Dimamfaatkan, RS Unand Dipersiapkan Tampung Pasien

Padang, Rakyat Sumbar–Pemerintah Provinsi Sumbar  langkah cepat dalam menangani penyebaran virus corona atau Covid 19. Agar tak menunggu lama mengetahui hasil apakah seorang pasien positif atau negatif Covid-19, laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dipersiapkan untuk melakukan uji sampel  pasien suspect  corona di Sumbar.

“Hari ini kita putuskan laboratorim fakultas kedokteran untuk membantu dalam menguji sampel dari pasien suspect corona. Dari Fakultas Kedokteran Unand secara peralatan dan tenaga medis mereka siap. Jadi, kita uji disini,” sebut Wagub Sumbar Nasrul Abit usai memimpin rapat kesiapan penanganan corona di Rumah Sakit Unand, Selasa (17/3) .

Ia mengatakan, saat ini hanya tinggal menunggu reagennya. Kalau sudah ada, maka bisa segera dioperasionalkan. Kalau samplenya dikirim ke Jakarta, itu cukup lama, sampai 5 hari. Kalau disini bisa hitungan jam sudah diketahui hasilnya apakah pasien tersebut positif atau negatif Covid-19.

“Keterangan dari pihak Unand, dalam waktu 3 sampai 4 jam, atau paling lama 1 X 24 jam sudah bisa keluar hasil labornya.  Kalau sudah ada reagennya sudah bisa pemeriksaan sampel tersebut dilakukan di laboratorium kedokteran Unand.  Tadi, kita sudah telepon Sekjen Kemenkes. Besok kita harapkan alat reagennya bisa dikirim dari sana. Kita percepat proses uji labornya, kita potong mata rantai itu,” jelasnya.

Wagub Sumbar Nasrul Abit saat mengadakan rapat terkait kesiapan Rumah Sakit Unand untuk dijadikan sebagai salah satu rumah sakit pasien suspect corona di Sumbar, Selasa (17/3)

Dalam kegiatan ini juga dihadiri, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Merry Yuliesday. Kepala BPBD Sumbar Erman Rahman, beberapa Kepala Rumah Sakit di Sumbar, dan Rektor Unand Prof Yuliandri serta jajaran, termasuk juga Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Padang.

Meski demikian Wagub menyebutkan, pihaknya tetap meminta dinas kesehatan Sumbar untuk berkoordinasi dan minta izin ke Balitbang Kemenkes RI. Sebab ada standar yang harus dipenuhi. Mudah-mudahan nanti, standar yang akan diterapkan  di laboratorium Kedokteran Unand tersebut, sama dengan standar yang diterapkan oleh Kemenkes RI.

“Kita memang minta izin ke Litbang Kemenkes RI Karena memang mereka punya standar. Kita tetap izin kesana. Mudah-mudahan, standar kita disini nanti akan sama dengan litbangkes. Jadi, nanti tidak perlu ke Jakarta,” ungkapnya.

Lebih lanjut Nasrul Abit, selain diperuntukkan uji sample Covid-19, laboratorium ini nanti juga bisa dimanfatkan untuk meracik hand sanitizer untuk mengatasi kelangkaan hand sanitizer di Sumbar. Secara prinsip dari pihak Unand siap membantu jika memang bahan bakunya ada.

“Kita juga  telah melihat kesiapan Rumah Sakit Unand untuk menampung pasien suspect corona di Sumbar. Ada 7 kamar, dan ruangan terpisah dan bisa menampung hinggfa 23 orang pasien. Tinggal menyiapkan kamar mandi untuk petugas. Kita telah laporkan ke Dinas PUPR Sumbar untuk dapat membantu membantu membangunnya dalam waktu 2 sampai 3 hari,” jelasnya.

Ia menambahkan, untuk peralatan, seperti Rontgen Radiologi  telah ada rumah sakit RS Saanin yang memimjamkan. Tinggal nanti dinas kesehatan menambah perawatnya, sebab secara tenaga medis, rumah sakit ini punya beberapa orang dokter yang ahli paru, namun butuh tambahan perawat yang nantinya menangani pasien.

“Jadi kalau RSUP M Djamil sudah penuh atau tidak bisa lagi menampung, bisa dibawa langsung dari bandara ke RS Unand. Ada 7 kamar disini. Menjelang ini selesai,  terpaksa ke M Djamil dulu,” ungkapnya.

Saat ini di RSUP M.Djamil sebagai RS rujukan di Padang terdapat 10 orang pasien yang dirawat di ruang isolasi. Pasien itu 7 suspect MERS CoV dan 3 suspect corona . Namun, statusnya saat ini masih suspect karena hasillaboratorium dari Litbangkes Kemenkes belum sampai di Padang.

“Kita juga mendapat kabar ada 14 orang jamaah di Kota Bukittinggi baru saja pulang dari Malaysia. Satu diantaranya masuk dalam orang dalam pantauan. Untuk itu RSUD Achmad Mochtar yang akan menangani. Satu vortabel telah dikirim ke sana, diharapkan dengan standar ruangan yang telah dimiliki, pasien bisa juga ditampung disana,” bebernya.

Rektor  Unand Prof Yuliandri  menyebutkan, secara sarana dan SDM  Unand  dapat membantu dalam mengantisipasi dan penanganan masalah corona di Sumbar. Hal ini sebagai bentuk kepedulian Unand yang juga punya fakultas kedokteran dan rumah sakit.

“Kalau sekiranya ada kasus,  rumah sakit Unand siap menampung, kita punya ruangan isolasi yang penempatan pasiennya  perbeda dengan pasien lain. Ruang isolasi kita punya di lantai dasar (basemen)  rumah sakit yang sebelumnya adalah gudang,” jelasnya.

Ia menyampaikan, dengan adanya tambahan peralatan pendukung lainnya Pemprov Sumbar, adanya kamar mandi khusus bagi tenaga medis  yang menangani pasien  suspect corona,  dan tambahan Alat Pelindung Diri (APD), maka Unand bisa dengan cepat bisa menangani pasien.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Rika Susanti menambahkan, selama ini laboratorium tersebut telah ada. Laboratorium Biomedik tersebut dibagi menjadi dua bagian yakni lab khusus untuk infeksi dan non infeksi.

“Untuk infeksi ini bisa untuk pemeriksaan rutin, salah satunya Covid-19. Saat ini, labor kita sudah punya alat PCR dan juga bisa untuk pemeriksaan sampel virus corona ini. Saat ini menunggu reagen. Dengan adanya reagen nanti, Insya Allah kita sudah siap pemeriksaan, pemeriksaan bisa sampai tiga atau empat jam nanti untuk satu kasus,”ujarnya didampingi Kepala Laboratorium  Biomedik Fakultas Kedokteran Andani Eka Putra.

Terkait tenaga ahli, ada tenaga ahli yang mumpuni dimasing-masing bidang. Punya tenaga ahli Virologi dan beberapa ahli teknisi yang biasa menggunakan alat seperti itu. Untuk mengikuti protokol dari Balitbang Kemenkes RI, maka pihaknya mengusulkan teknisi yang ada saat ini dikirim ke Jakarta untuk Melihat dan mempelajari protokol yang diterapkan Litbangkes, apakah sama.

“Karena harus mengikuti protokol, maka kita usulkan teknisi kita dikirim ke Jakarta dulu. Kalau kendala sekarang, cuma reagen. Sebab untuk pemeriksaan sampel untuk mengetahui corona atau tidak harus ada reagen,”jelasnya.

“Mau nanti secara regulasi Indonesia menetapkan harus dari Litbangkes, namun minimal yang dari kita sendiri sudah positif tahu hasilnya dalam 24 jam. Sehingga Pemprov Sumbar bisa menentukan sikap dalam menanganan corona ini lebih cepat,”pungkasnya. (mul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.