Utama  

Demi Mengubah Nasib Keluarga, Kevin dan Wardah Berangkat Mengejar Mimpi ke Negeri Sakura

Demi Mengubah Nasib Keluarga, Kevin dan Wardah Berangkat Mengejar Mimpi ke Negeri Sakura.

Padang, Rakyat Sumbar  — Ada mimpi yang tumbuh dari kesederhanaan. Ada pula harapan yang lahir dari keadaan yang tidak selalu mudah. Bagi Kevin Blezynsky Jhonevan dan Wardah Putri Maghfirah, mimpi itu kini membawa mereka menuju Jepang, sebuah negeri yang jauh dari kampung halaman, tetapi menyimpan harapan besar bagi masa depan keluarga mereka.

Dari Kelurahan Limau Manis Selatan, Kecamatan Pauh, Kota Padang, keduanya memulai perjalanan untuk mengubah kehidupan. Mereka bukan berasal dari keluarga berada. Keduanya tumbuh dalam keluarga rumah tangga miskin (RTM), dengan keterbatasan ekonomi yang menjadi tantangan dalam meraih masa depan.

Namun, keterbatasan tidak lantas memadamkan keinginan untuk maju. Ketika kesempatan datang melalui program pelatihan bahasa dan budaya Jepang yang difasilitasi Forum Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Limau Manis Selatan bersama PT Semen Padang, Kevin dan Wardah memilih mengambil langkah.

Bagi mereka, kesempatan itu bukan sekadar jalan menuju pekerjaan di luar negeri. Ada harapan orang tua yang ingin diwujudkan, ada beban keluarga yang ingin diringankan, dan ada masa depan yang ingin mereka bangun dengan usaha sendiri.

Senin (12/10), suasana di Kantor Lurah Limau Manis Selatan terasa berbeda. Kevin dilepas untuk memulai perjalanan menuju Jepang. Di antara orang-orang yang hadir, tersimpan kebanggaan atas langkah seorang anak muda yang berani keluar dari keterbatasan untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.

Acara pelepasan tersebut dihadiri Staf Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Unit CSR PT Semen Padang Nurwan serta tokoh masyarakat setempat. Sementara itu, Wardah masih menunggu penyelesaian dokumen keberangkatan sebelum menyusul ke Negeri Sakura.

Dua anak muda, dua perjalanan, tetapi satu harapan: kembali suatu hari nanti dengan kehidupan yang lebih baik daripada ketika mereka berangkat.
Kevin, Anak Sulung yang Membawa Harapan Keluarga

Bagi Kevin, bekerja di Jepang bukan semata-mata tentang mendapatkan gaji lebih besar. Ada tanggung jawab yang telah lama tumbuh dalam dirinya, terutama sebagai anak pertama dari tiga bersaudara.

Kedua adiknya masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Kevin ingin memastikan perjalanan pendidikan mereka tidak terhenti hanya karena persoalan biaya.

Ia ingin ikut meringankan beban orang tua. Ia juga menyimpan keinginan untuk memiliki usaha sendiri ketika kelak kembali ke Tanah Air.

“Dengan adanya kesempatan bekerja ke Jepang, saya bisa membantu meringankan beban ekonomi orang tua, sekaligus memastikan kedua adik saya yang masih kuliah tetap memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pendidikannya. Di samping itu, kesempatan kerja di Jepang juga menjadi motivasi untuk mengubah nasib keluarga dan membuka usaha setelah balik ke Tanah Air,” ungkap Kevin.

Keinginan itu menjadi salah satu alasan yang membuatnya bersungguh-sungguh menjalani setiap tahapan persiapan.
Lulusan S1 Teknik Elektro Institut Teknologi Padang (ITP) tersebut harus menempuh proses panjang sebelum dinyatakan lolos bekerja di Jepang. Selama enam bulan, mulai Juni hingga Desember 2025, ia mengikuti pelatihan bahasa dan budaya Jepang di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (LPK) Kamisato Gakuin Center.

Di sana, Kevin tidak hanya belajar bahasa. Ia juga mempersiapkan diri menghadapi lingkungan kerja dan kehidupan yang berbeda dari kesehariannya di Padang.
Penguasaan bahasa menjadi bekal penting untuk memahami instruksi, berkomunikasi dengan rekan kerja, serta beradaptasi dengan kebiasaan masyarakat Jepang.

Setelah pelatihan, ia menjalani tahapan pengujian dan seleksi hingga akhirnya memperoleh kesempatan bekerja di sektor pertanian di Enjoji Yohei, Prefektur Ibaraki, Jepang.

Kesempatan itu menjadi pintu menuju babak baru dalam kehidupannya. Kevin menjelaskan, dirinya berangkat sebagai pekerja, bukan peserta magang, dengan kontrak awal selama satu tahun dan kemungkinan perpanjangan hingga maksimal lima tahun.

Ia berharap dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk mengumpulkan tabungan, membantu keluarga, sekaligus mempersiapkan modal usaha.

“Harapannya, saya bisa di Jepang selama lima tahun. Karena semakin lama kesempatan bekerja di Jepang, maka semakin besar pula peluang untuk mengumpulkan tabungan, membantu keluarga, dan mempersiapkan rencana usaha yang ingin dirintis setelah balik ke Tanah Air,” ujarnya.

Tentu, kehidupan di negeri orang tidak selalu mudah. Jauh dari keluarga, menghadapi perbedaan bahasa, serta menyesuaikan diri dengan budaya dan lingkungan kerja baru menjadi tantangan tersendiri.

Namun, Kevin memahami bahwa setiap harapan membutuhkan perjuangan. Baginya, kesempatan ini terlalu berharga untuk dilewatkan.

Ia ingin membuktikan bahwa keadaan ekonomi keluarga hari ini tidak harus menentukan masa depan mereka selamanya.

Wardah dan Keberanian Memulai Babak Baru

Jika Kevin telah bersiap menjalani kehidupan barunya di Jepang, Wardah Putri Maghfirah masih menghitung hari sembari menunggu kelengkapan dokumen keberangkatan.

Lulusan S1 Ilmu Politik Universitas Andalas itu memiliki harapan yang tidak jauh berbeda. Ia ingin memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, mengembangkan kemampuan diri, dan memperoleh pengalaman yang dapat menjadi bekal untuk masa depan.

Bagi perempuan berusia 25 tahun tersebut, bekerja di Jepang bukan hanya tentang berpindah tempat untuk mendapatkan penghasilan. Ia melihat kesempatan itu sebagai ruang untuk belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri.

“Bekerja di Jepang bukan hanya tentang berpindah tempat untuk mendapatkan penghasilan. Ada kesempatan untuk belajar menghadapi lingkungan baru, memahami budaya yang berbeda, meningkatkan kemampuan diri, dan membawa pulang pengalaman yang dapat berguna bagi kehidupan saya kelak,” katanya.

Wardah akan bekerja di bidang perawatan lansia di Hanamonogatari, Prefektur Kanagawa, Jepang.
Pekerjaan tersebut menuntut tanggung jawab, kesabaran, dan kemampuan beradaptasi. Karena itu, ia menyadari bahwa perjalanan yang akan ditempuh bukan sekadar meninggalkan kampung halaman, melainkan juga memasuki lingkungan baru yang membutuhkan kesiapan mental dan keterampilan.
Saat ini, Wardah masih menunggu penyelesaian sejumlah dokumen, termasuk Certificate of Eligibility (COE), yang menjadi salah satu dokumen penting dalam proses keberangkatannya ke Jepang.

Ia berharap seluruh persyaratan segera rampung sehingga dapat menyusul dan memulai perjalanan yang telah dipersiapkannya.

Di balik penantian itu, ada tekad untuk memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya. Wardah ingin pulang kelak bukan hanya membawa penghasilan, tetapi juga pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan yang dapat digunakan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Ketika Biaya Bukan Lagi Penghalang
Perjalanan Kevin dan Wardah memperlihatkan satu persoalan yang kerap dihadapi keluarga kurang mampu: kesempatan bisa saja terbuka, tetapi biaya untuk meraihnya tidak selalu tersedia.

Pelatihan, proses seleksi, pengurusan dokumen, hingga kebutuhan keberangkatan membutuhkan dukungan finansial. Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, biaya tersebut berpotensi menjadi penghalang, bahkan ketika calon pekerja telah berhasil memperoleh kesempatan kerja.
Di sinilah peran Forum Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Limau Manis Selatan menjadi penting.

Ketua Forum Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Limau Manis Selatan, Budi Safrianto, mengatakan program pelatihan bahasa dan budaya Jepang memang dirancang untuk membantu warga dari rumah tangga miskin memperoleh akses terhadap kesempatan kerja.

Menurutnya, keberhasilan seorang peserta mendapatkan pekerjaan di Jepang bukan hanya pencapaian pribadi. Jika dimanfaatkan dengan baik, penghasilan yang diperoleh dapat membantu memperkuat ekonomi keluarga dan membuka jalan menuju kemandirian.

“Program ini penting bagi kami di Forum Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Limau Manis Selatan. Karena peserta program ini berasal dari RTM. Artinya, jika satu peserta bisa berangkat, maka akan berpotensi untuk mengurangi satu RTM di Limau Manis Selatan,” ujar Budi.

Untuk mengatasi kendala pembiayaan, forum menjalin kerja sama dengan investor yang menyediakan dana talangan sekitar Rp30 juta per peserta.
Dana tersebut digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan biaya awal keberangkatan. Pengembaliannya dilakukan secara bertahap setelah peserta mulai memperoleh penghasilan di Jepang.

Skema ini diharapkan membuat kesempatan bekerja di luar negeri tidak hanya dapat dijangkau oleh mereka yang memiliki modal, tetapi juga oleh warga yang mempunyai kemampuan dan kemauan untuk berusaha, meskipun berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

“Peserta program ini memang berasal dari keluarga kurang mampu. Karena itu, kami berupaya agar keterbatasan biaya tidak menjadi penghalang bagi mereka yang telah berhasil memperoleh kesempatan bekerja di Jepang.

Harapannya, kesempatan ini dapat membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarga dan membuka peluang bagi mereka untuk keluar dari kategori rumah tangga miskin,” katanya.

Budi berharap program tersebut dapat berlanjut pada 2027 dengan dukungan PT Semen Padang. Semakin banyak warga yang memperoleh kesempatan, semakin besar pula peluang terciptanya perubahan ekonomi di tingkat keluarga dan lingkungan.

Program pelatihan bahasa dan budaya Jepang merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat yang tidak berhenti pada pemberian bantuan sesaat.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Limau Manis Selatan, Abu Nasir, menilai program tersebut memiliki manfaat nyata karena membuka jalan bagi warga untuk memperoleh pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan.

Ia mengapresiasi PT Semen Padang dan Forum Pemberdayaan Masyarakat yang telah menghadirkan program dengan sasaran warga yang membutuhkan dukungan.

“Kami menilai program ini memiliki asas manfaat dan ketepatan sasaran. Tentunya, ini menjadi bukti bahwa program pelatihan ini dapat memberikan manfaat konkret ketika dilaksanakan secara terarah dan berkelanjutan,” ujarnya.

Abu berpesan agar Kevin dan Wardah menjaga kepercayaan yang telah diberikan serta memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sungguh-sungguh.

“Mereka adalah orang-orang terpilih. Bekerja di Jepang selama beberapa tahun merupakan kesempatan berharga. Manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya,” katanya.

Sekretaris Lurah Limau Manis Selatan, Damsiar, juga mengapresiasi kolaborasi yang terbangun antara PT Semen Padang dan Forum Pemberdayaan Masyarakat. Menurutnya, kerja sama tersebut menghadirkan kepedulian yang dapat dirasakan langsung oleh warga.

Ia berharap program semacam ini dapat terus dikembangkan dan menjadi contoh bagi upaya pemberdayaan masyarakat di daerah lain.

Kepada Kevin dan Wardah, Damsiar mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan serta tidak melupakan keluarga yang menanti di kampung halaman.

“Jaga kesehatan dan jangan lupa dengan keluarga. Ingat, keberangkatan ke Jepang tidak hanya menjadi harapan secara pribadi, tetapi juga harapan keluarga yang ditinggalkan,” pesannya.

Kepala Unit CSR PT Semen Padang, Hernes, menjelaskan bahwa pelatihan bahasa dan budaya Jepang merupakan bagian dari program Basinergi Membangun Nagari.

Program tersebut dijalankan melalui dua Forum Pemberdayaan Masyarakat di Kecamatan Pauh, yakni Kelurahan Limau Manis Selatan dan Kelurahan Koto Lua.

Sebelum Kevin, seorang warga Kelurahan Koto Lua telah lebih dahulu diberangkatkan ke Jepang melalui program serupa. Dengan demikian, Kevin menjadi warga kedua yang berhasil diberangkatkan melalui program tersebut, sementara Wardah diharapkan segera menyusul setelah dokumen keberangkatannya selesai.

Bagi PT Semen Padang, dukungan terhadap pelatihan ini merupakan bagian dari upaya membangun kapasitas masyarakat agar memiliki kesempatan lebih luas dalam meningkatkan taraf hidup.

Hernes berharap para peserta tidak hanya berorientasi pada penghasilan selama bekerja di Jepang, tetapi juga mampu menyusun rencana masa depan setelah kembali ke Indonesia.

“Manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Menabung sebanyak-banyaknya. Saat kembali ke Tanah Air, harapannya bisa menciptakan lapangan kerja. Jadi, langkah kecil ini diharapkan bisa menjadi langkah besar nantinya,” ujarnya.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, menambahkan bahwa program pelatihan bahasa dan budaya Jepang merupakan bentuk dukungan perusahaan terhadap pendidikan sebagai investasi sosial jangka panjang.

Menurutnya, pemberdayaan masyarakat perlu diarahkan pada penguatan kapasitas dan penciptaan manfaat berkelanjutan, bukan sekadar pemberian bantuan.

Melalui kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan, PT Semen Padang berharap semakin banyak generasi muda yang memperoleh akses untuk mengembangkan kemampuan, meningkatkan kesejahteraan, dan membangun kemandirian ekonomi.

Pada akhirnya, perjalanan Kevin dan Wardah bukan semata-mata tentang Jepang. Bukan pula hanya tentang pekerjaan, kontrak, atau jumlah tabungan yang bisa dikumpulkan selama bertahun-tahun.

Di balik langkah mereka, ada keluarga yang berharap kehidupan anak-anaknya menjadi lebih baik. Ada orang tua yang ingin melihat beban hidupnya berkurang. Ada adik-adik yang ingin terus bersekolah. Ada pula cita-cita untuk kembali ke kampung halaman dengan bekal yang cukup untuk memulai usaha dan membangun kehidupan yang lebih mandiri.

Bagi Kevin, Jepang adalah kesempatan untuk membantu orang tua, menjaga keberlanjutan pendidikan kedua adiknya, dan menyiapkan modal usaha. Bagi Wardah, Jepang merupakan ruang untuk belajar, berkembang, serta memperjuangkan masa depan yang lebih baik.

Keduanya berangkat dari titik yang sama: keterbatasan ekonomi. Namun, kesempatan yang hadir melalui pelatihan, pendampingan, dan dukungan pembiayaan telah membuka jalan yang sebelumnya mungkin terasa sulit dijangkau.

Tentu, bekerja di luar negeri bukan jaminan bahwa seluruh persoalan ekonomi keluarga akan selesai. Hasilnya akan bergantung pada kerja keras, kemampuan beradaptasi, pengelolaan penghasilan, dan perencanaan masa depan.

Namun, setidaknya kini ada pintu yang terbuka.

Dari Limau Manis Selatan, Kevin mulai menapaki perjalanan menuju negeri yang jauh. Wardah bersiap menyusul, membawa tekad yang sama. Mereka meninggalkan kampung halaman bukan untuk melupakan tempat asal, melainkan untuk memperjuangkan kehidupan yang suatu hari ingin mereka bangun kembali di sana.

Sebab, bagi sebagian orang, sebuah kesempatan kerja mungkin hanya berarti pekerjaan baru. Namun, bagi mereka yang tumbuh dalam keterbatasan, kesempatan itu bisa berarti sesuatu yang jauh lebih besar: harapan untuk mengubah nasib keluarga, satu langkah demi satu langkah.(mul/rls)