Dari Singkong, Prodi PNF UNP Bangun Pendidikan Keluarga

Tim UNP melalui Program Studi PNF Fakultas Ilmu Pendidikan melaksanakan Program Integrasi Program Studi dan Nagari (PIPN) di Nagari Kamang Hilia, Kamang Magek, Agam, Kamis (23/07/2026.
Tim UNP melalui Program Studi PNF Fakultas Ilmu Pendidikan melaksanakan Program Integrasi Program Studi dan Nagari (PIPN) di Nagari Kamang Hilia, Kamang Magek, Agam, Kamis (23/07/2026.

Padang, rakyatsumbar.id– Universitas Negeri Padang (UNP) melalui Program Studi Pendidikan Non Formal (PNF), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), melaksanakan Program Integrasi Program Studi dan Nagari (PIPN) di Kenagarian Kamang Hilia, Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam yang telah berlangsung pada Kamis, 23 Juli 2026 yang lalu.

Program yang mengusung tema Optimalisasi Peran Istri dalam Pendidikan Anak dan Penguatan Ekonomi Keluarga melalui Pengolahan Pangan Lokal di Kenagarian Kamang Hilia Kecamatan Kamang Magek tersebut, menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi menghadirkan program pemberdayaan yang secara langsung menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kapasitas perempuan dalam keluarga.

Kegiatan yang merupakan hasil kolaborasi antara Program Studi Pendidikan Non Formal FIP UNP dengan Pemerintah Nagari Kamang Hilia ini dipimpin oleh Ketua Tim PIPN, Prof. Dr. Setiawati, M.Si., yang memiliki kepakaran di bidang Pendidikan Keluarga.

Tim pelaksana turut diperkuat oleh Ciptro Handrianto, S.Pd., M.Ed., Ph.D, Dr. MHD. Natsir, S.Sos., M.Pd, Dr. Zahratul Azizah, M.Pd, Fitri Dwi Arini, M.Pd, dan Reni Kurnia, M.Eng.

Program ini berangkat dari pemahaman bahwa perempuan, khususnya ibu dalam keluarga, memiliki peran strategis yang tidak hanya berkaitan dengan pengasuhan dan pendidikan anak, tetapi juga mampu menjadi penggerak peningkatan kesejahteraan keluarga.

Karena itu, penguatan kapasitas perempuan dilakukan secara terpadu dengan menghubungkan aspek pendidikan keluarga dan keterampilan produktif yang dapat dikembangkan berdasarkan potensi lokal yang dimiliki masyarakat.

Prof. Dr. Setiawati, M.Si mengatakan, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi seorang anak. Di dalam keluargalah karakter, kebiasaan, nilai, serta fondasi kehidupan seorang anak mulai dibentuk.

Menurutnya, peran ibu menjadi sangat penting karena tidak hanya mendampingi proses tumbuh kembang anak, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan keluarga melalui berbagai aktivitas produktif yang dapat dilakukan dari lingkungan rumah.

“Keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak. Peran ibu sangat menentukan dalam membangun karakter, kebiasaan belajar, nilai-nilai kehidupan serta memberikan pendampingan terhadap tumbuh kembang anak. Pada saat yang sama, perempuan juga memiliki potensi besar untuk berkontribusi meningkatkan ketahanan dan ekonomi keluarga,” ujar Prof. Setiawati saat ditemui rakyatsumbar.id, Selasa (28/07/2026).

Ia menegaskan, pemberdayaan perempuan tidak semata-mata diarahkan pada peningkatan kemampuan ekonomi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas ibu dalam menjalankan fungsi pendidikan di dalam keluarga.

“Pemberdayaan perempuan dalam keluarga tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan ekonomi, tetapi juga bagaimana seorang ibu semakin memiliki pengetahuan dan kapasitas dalam mendampingi pendidikan serta tumbuh kembang anak. Ketika kapasitas pendidikan dan keterampilan produktif ibu meningkat, dampaknya diharapkan dapat dirasakan oleh seluruh anggota keluarga,” katanya.

Mengolah Pangan Lokal

Sebagai implementasi dari konsep tersebut, salah satu kegiatan utama PIPN adalah pelatihan pengolahan makanan berbahan pangan lokal yang dipandu oleh Dra. Lucy Fridayati, M.Kes. sebagai pemateri dan pelatih utama. Pelatihan dirancang agar masyarakat tidak hanya mengetahui cara mengolah bahan pangan lokal, tetapi juga mampu mengembangkan kreativitas dalam menghasilkan produk makanan yang menarik serta memiliki potensi ekonomi.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mempraktikkan secara langsung pembuatan berbagai produk olahan berbahan dasar singkong, di antaranya combrong garing, bola-bola singkong, singkong fantasi, dan bolu zebra berbahan dasar singkong.

Pemanfaatan singkong dipilih sebagai bentuk optimalisasi pangan lokal yang mudah diperoleh masyarakat dan memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah.

Lucy Fridayati memberikan pendampingan mulai dari pengenalan bahan baku, teknik pengolahan, formulasi produk, hingga praktik pembuatan makanan.

Pendekatan praktik langsung membuat peserta mampu mengikuti setiap tahapan pengolahan sekaligus memperoleh pengalaman yang dapat diterapkan kembali secara mandiri di rumah.

Antusiasme terlihat dari ibu-ibu rumah tangga di Kenagarian Kamang Hilia yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Selama proses penyampaian materi maupun praktik pengolahan pangan, peserta aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta menggali berbagai kemungkinan pengembangan olahan pangan lokal sebagai produk unggulan keluarga.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif dan penuh semangat. Bagi para peserta, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai variasi pengolahan singkong, tetapi juga membuka wawasan bahwa bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Keterampilan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata. Peserta didorong untuk terus berlatih secara mandiri, melakukan inovasi terhadap rasa maupun bentuk produk, serta melihat peluang menjadikannya sebagai usaha produktif berbasis rumah tangga.

Apabila dikembangkan secara berkelanjutan, pengolahan pangan lokal diyakini dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu meningkatkan pendapatan keluarga tanpa mengurangi peran perempuan dalam mendampingi pendidikan dan pengasuhan anak.

Tantangan Keluarga di Era Digital

Selain pelatihan pengolahan pangan lokal, kegiatan PIPN juga menghadirkan materi mengenai Pendidikan Keluarga di Era Digital yang disampaikan oleh Ciptro Handrianto, S.Pd., M.Ed., Ph.D.

Dalam paparannya, ia menjelaskan, perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar terhadap pola pengasuhan dan pendidikan anak sehingga orang tua, khususnya ibu, dituntut memiliki literasi digital yang baik agar mampu mendampingi anak memanfaatkan teknologi secara positif, aman dan bertanggung jawab.

Menurut Ciptro Handrianto, keluarga merupakan benteng utama dalam membentuk karakter anak di tengah pesatnya perkembangan media digital.

Orang tua tidak hanya berperan sebagai pengawas penggunaan gawai, tetapi juga menjadi teladan dalam membangun komunikasi yang hangat, menanamkan nilai-nilai moral, serta menciptakan keseimbangan antara aktivitas digital dengan interaksi langsung di lingkungan keluarga.

“Di era digital saat ini, pendidikan keluarga tidak lagi hanya mengajarkan nilai dan karakter, tetapi juga membekali anak dengan kemampuan menggunakan teknologi secara bijak. Pendampingan orang tua menjadi kunci agar teknologi menjadi sarana belajar dan berkembang, bukan justru menimbulkan dampak negatif bagi anak,” ujarnya.

Materi tersebut mendapat sambutan positif dari para peserta karena dinilai sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi keluarga saat ini. Para ibu rumah tangga aktif berdiskusi mengenai cara mengatur waktu penggunaan gawai, membangun komunikasi yang efektif dengan anak, hingga strategi mendampingi anak memanfaatkan internet sebagai media pembelajaran.

Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Prof. Setiawati menjelaskan, kekuatan utama Program Integrasi Program Studi dan Nagari ini terletak pada pendekatan pemberdayaan yang tidak memisahkan pendidikan keluarga dengan peningkatan ekonomi masyarakat.

Kedua aspek tersebut ditempatkan sebagai bagian yang saling mendukung dalam membangun keluarga yang mandiri, tangguh, dan sejahtera.

Menurutnya, peningkatan keterampilan ekonomi perempuan akan memperkuat ketahanan keluarga, sementara pemahaman mengenai pendidikan keluarga memastikan bahwa aktivitas ekonomi tetap berjalan beriringan dengan perhatian terhadap pendidikan, pengasuhan, dan perkembangan anak.

“Ketika keluarga memiliki ketahanan ekonomi yang baik dan orang tua memiliki kapasitas yang memadai dalam mendidik anak, maka fondasi pembangunan sumber daya manusia juga akan semakin kuat. Karena itu, pendidikan keluarga dan pemberdayaan ekonomi harus berjalan beriringan,” tutur Prof. Setiawati.

Melalui pendekatan tersebut, Program Studi Pendidikan Non Formal FIP UNP berupaya menerapkan keilmuan pendidikan masyarakat secara nyata. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima program, tetapi juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran, pengembangan keterampilan, serta pemanfaatan potensi yang dimiliki nagari.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah nagari juga menjadi bagian penting untuk memastikan program yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehingga memiliki peluang besar untuk terus berlanjut setelah kegiatan pengabdian selesai.

Pelaksanaan PIPN di Kamang Hilia sekaligus mempertegas kontribusi Universitas Negeri Padang dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

Pengetahuan dan kepakaran akademisi diterjemahkan menjadi kegiatan yang aplikatif dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Program ini juga menunjukkan bahwa penguatan ekonomi keluarga dapat dimulai dari potensi yang tersedia di sekitar masyarakat.

Pangan lokal seperti singkong tidak hanya berfungsi sebagai sumber pangan, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai tambah apabila didukung pengetahuan, keterampilan, inovasi, serta pendampingan yang tepat.

Melalui sinergi antara Program Studi Pendidikan Non Formal FIP Universitas Negeri Padang dan Kenagarian Kamang Hilia, PIPN diharapkan menjadi langkah awal bagi terbentuknya kelompok perempuan yang semakin kreatif, produktif, dan mandiri dalam memanfaatkan potensi pangan lokal.

Lebih jauh lagi, keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan dapat ditularkan kepada keluarga dan masyarakat lainnya sehingga dampak program semakin luas dan mendorong tumbuhnya proses belajar sepanjang hayat di tengah masyarakat.

Antusiasme ibu-ibu Kamang Hilia menjadi modal penting bagi keberlanjutan program tersebut. Dari dapur keluarga dan potensi pangan lokal, perempuan dapat mengambil peran yang semakin besar dalam membangun keluarga yang kuat, mendampingi pendidikan anak, sekaligus menciptakan peluang ekonomi produktif yang berkelanjutan. (edg)