Dari Pandai Sikek, AI Menyalakan Harapan Baru bagi Usaha Lokal

Direktur Jasa, Teknologi dan Komunikasi Kemenekraf RI, Dony Harso
Direktur Jasa, Teknologi dan Komunikasi Kemenekraf RI, Dony Harso

Pandai Sikek, rakyatsumbar.id— Derasnya arus digitalisasi, produk lokal tak cukup hanya memiliki keunikan dan kualitas. Ia juga harus mampu bercerita, memikat perhatian dan menemukan jalannya menuju pasar yang lebih luas.

Disinilah teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang baru bagi pelaku usaha di Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat.

Dari nagari yang lekat dengan kekayaan tradisi dan kreativitas masyarakatnya itu, sebuah harapan sedang dirajut: bagaimana produk lokal tidak sekadar bertahan di tengah perubahan zaman, tetapi juga tumbuh, berkembang dan mampu bersaing di pasar digital tanpa kehilangan akar budayanya.

Harapan tersebut mengemuka dalam workshop yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenekraf RI), Senin (26/10/2026).

Puluhan pelaku usaha lokal mengikuti kegiatan yang dilaksanakan secara serentak di dua lokasi di Nagari Pandai Sikek, salah satunya di Gedung Pertemuan MTI, Jorong Koto Tinggi.

Workshop ini bukan sekadar ruang belajar tentang teknologi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi upaya mempertemukan kreativitas masyarakat dengan peluang ekonomi digital yang terus berkembang.

Melalui program SIAP, akronim dari Sinergi, Inkubasi, Akselerasi, dan Penguatan, para pelaku usaha didorong untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai instrumen pengembangan usaha.

Ide-ide yang selama ini tumbuh dari pengalaman dan kreativitas masyarakat diharapkan dapat diolah menjadi produk unggulan yang memiliki daya saing lebih kuat.

Bupati Tanahdatar, yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Inhendri Abas, S.Pd., MM saat membuka kegiatan tersebut menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam mengembangkan produk lokal.

Namun, kemajuan teknologi, menurut pesan yang disampaikan dalam kegiatan itu, tidak boleh membuat pelaku usaha tercerabut dari identitas budayanya sendiri.

AI dapat membantu merancang produk, memperkuat kemasan, hingga menyusun strategi promosi yang lebih menarik. Tetapi, nilai budaya yang melekat pada produk lokal harus tetap menjadi ruh yang membedakannya dari produk lain.

Pesan itu menjadi penting bagi Pandai Sikek, nagari yang dikenal dengan tradisi kerajinan dan kekayaan keterampilan masyarakatnya.

Saat persaingan yang semakin terbuka, identitas lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan modal berharga untuk membangun masa depan ekonomi kreatif.

Teknologi boleh berkembang pesat. Cara memasarkan produk boleh berubah. Namun, karakter, nilai dan cerita yang lahir dari kebudayaan masyarakat tidak seharusnya hilang dalam proses modernisasi.

AI sebagai Peluang, Bukan Pengganti Kreativitas

Bagi pelaku usaha kecil, memasuki pasar digital sering kali bukan perkara mudah. Keterbatasan pengetahuan, kemampuan promosi, dan pemanfaatan teknologi dapat menjadi penghalang untuk memperluas jangkauan pasar.

Di sisi lain, perubahan perilaku konsumen menuntut pelaku usaha untuk semakin kreatif dalam memperkenalkan produknya. Produk yang baik perlu didukung cara penyajian yang menarik, komunikasi yang tepat, serta strategi pemasaran yang mampu menjangkau calon pembeli.

Dalam konteks itulah, pemanfaatan AI menjadi relevan.

Teknologi ini dapat membantu pelaku usaha menggali ide, menyusun konsep visual, mengembangkan materi promosi, dan mengenali peluang pemasaran. Dengan pemanfaatan yang tepat, proses yang sebelumnya membutuhkan banyak waktu dan sumber daya dapat dilakukan secara lebih efisien.

Namun, teknologi hanyalah alat. Kreativitas, pemahaman terhadap kebutuhan konsumen, serta kualitas produk tetap menjadi penentu penting dalam membangun usaha yang berkelanjutan.

Karena itu, workshop tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan semata. Pengetahuan yang diperoleh perlu diterjemahkan menjadi langkah nyata, mulai dari memperbaiki tampilan produk, memperkuat identitas merek, hingga memanfaatkan kanal digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Dari gagasan sederhana yang lahir di ruang pelatihan, diharapkan tumbuh inovasi yang memberikan nilai tambah bagi usaha masyarakat.

Membangun Daya Saing dari Nagari

Direktur Jasa, Teknologi dan Komunikasi Kemenekraf RI, Dony Harso, dalam sambutannya, mengajak seluruh peserta mengikuti workshop dengan sungguh-sungguh dan memanfaatkan materi yang disampaikan para narasumber.

Ia mendorong peserta untuk menyerap pengetahuan yang diberikan agar mampu menciptakan daya tarik lebih kuat bagi produk yang dihasilkan.

Ajakan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan lebih dari sekadar modal dan keterampilan produksi. Kemampuan membaca perubahan, beradaptasi dengan teknologi, serta menyampaikan keunikan produk kepada konsumen juga menjadi bagian penting dari perjalanan sebuah usaha.

Pada pembukaan kegiatan itu turut hadir Riwud Mujirahayu, Tenaga Ahli Menteri Ekonomi Kreatif bidang perencanaan, keuangan dan program ekonomi kreatif, Camat X Koto, Kapolsek X Koto, serta sejumlah undangan lainnya.

Materi pelatihan disampaikan Cahyadi Setiawan, ST, praktisi digital, dengan topik Transformasi AI Practitioner. Peserta diharapkan memperoleh pemahaman praktis mengenai penggunaan teknologi AI untuk mendukung kreativitas dan pengembangan usaha.

Workshop dijadwalkan berlanjut pada Selasa (27/10/2026) di tempat yang sama.

Bagi pelaku usaha di Pandai Sikek, kesempatan ini menjadi pintu untuk mengenal lebih jauh teknologi yang kian memengaruhi cara dunia bekerja dan bertransaksi.

Tantangannya bukan sekadar menguasai perangkat digital, melainkan bagaimana menjadikan teknologi sebagai jembatan antara kekayaan lokal dan kebutuhan pasar modern.

Sebab, sebuah produk tidak hanya membawa nilai ekonomi. Di dalamnya juga terdapat kerja keras, keterampilan, kreativitas, dan kisah masyarakat yang melahirkannya.

Jika AI dapat membantu kisah itu menjangkau lebih banyak orang, maka teknologi bukan lagi sesuatu yang terasa jauh dari kehidupan nagari. Ia menjadi alat untuk memperbesar peluang, membuka pasar, dan memperkuat keberlanjutan usaha masyarakat.

Pada akhirnya, kemajuan ekonomi kreatif tidak semata-mata diukur dari seberapa canggih teknologi yang digunakan. Ukuran yang lebih bermakna adalah sejauh mana teknologi mampu meningkatkan daya saing produk, memperluas kesempatan usaha dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dari Pandai Sikek, pesan itu menemukan relevansinya: melangkah ke masa depan tidak berarti meninggalkan akar budaya. Justru dengan menjaga identitas dan memanfaatkan teknologi secara cerdas, produk lokal memiliki kesempatan lebih besar untuk dikenal, dihargai dan tumbuh di pasar yang semakin terbuka. (ned)