14/08/2022
Beranda » Berpacu Menuju Raudah

Berpacu Menuju Raudah

Umroh Gratis Karyawan Paragon Technology and Innovation (4)
Oleh: Firdaus Abie

Perjalanan Jakarta – Madinah menggunakan penerbangan Garuda Indonesia, GA 960, berlangsung tenang. Sesekali terasa ada guncangan. Aku dapat seat 41 C. Di sebelah kiriku Aziz. Di kirinya, Risnanda. Keduanya kukenal di dua tempat berbeda.

Aziz merupakan karyawan Paragon Technology and Innovation yang sehari-hari bertugas di Cirebon. Aku mengenalnya di Bandara Soeta – Tanggerang, disaat semua rombongan calon jamaah umroh berkumpul.
Ketika itu, ada banyak orang menggunakan seragam sewarna dengan kemaja batik yang aku gunakan.

Seragam bermerek NRA (Nur Rima Al-Waali), biro perjalanan yang akan menggantarkan kami ke Tanah Suci. Kendati berseragam sama, namun aku menghitung, terlihat nyata ada lima kelompok. Aku harus di mana?
Aku perhatikan secara seksama.

“Kita ke sana,” ajak  Ira Anzaina Putri (Human Capital Executive Paragon Technology), yang biasa aku sapa Mbak Ira, sebelum sempat aku menentukan kepastian kelompok mana yang harus didatangi.

“Ya,” balasku. Junus dan Juhri menurut.

Ada perbedaan penampilan kelompok yang hendak kami tuju dibandingkan empat yang lain. Kami menuju kelompok jamaah yang menggunakan scarf berwarna biru, bermerek Jamaah Umroh Paragon.  Scarf yang sama juga melingkar di leherku dan Junus serta Juhri.

Penjelasan Ustad Muhammad Azzam, pembimbing ibadah kami, bersamaan keberangkatan jamaah Paragon, ada empat kelompok lain yang dibawa NRA. Kelimanya satu paket perjalanan. Rute dan jadwalnya sama. Hotelnya juga sama. Bedanya hanya kelompok bus yang membawa selama perjalanan saja. Ketika itu, NRA memberangkatkan 150 jamaah, di antaranya 35 jamaah umroh Paragon.

Aku mengenal Risnanda di Wisma Haji dan Umroh milik NRA, Jl. Mampang Prapatan Raya No 74E Tegal Parang – Jakarta Selatan.  Ketika hendak salat Magrib, aku turun ke musala wisma. Ketika itu, ada Risnanda bersama isterinya dan Eggy Erizal bersama isteri. Kami berjamaah. Risnanda yang jadi imam.

Perjalanan kami selingi dengan bicara panjang lebar, khususnya seputar ibadah umroh. Ada kalanya kami juga asyik sendiri-sendiri dengan tayangan di depan kursi masing-masing. Aku menikmati sajian salawat penyejuk jiwa melalui fasilitas tayangan di pesawat. Menggunakan Headphone yang disediakan.

Sampai di Madinah, setelah mengambil koper kecil, perjalanan dilanjutkan ke Hotel Al-Haram.

“Nanti keluar dari hotel, lurus saja. Kita akan jumpai pintu dua puluh enam, nah itu panduannya,” kata Ustad Hakim, pembimbing ibadah yang disediakan untuk kami. Ustad Hakim sudah enam tahun menetap dan kuliah di Makkah.

Biro perjalanan NRA menyediakan dua orang ustad untuk membimbing dan mendampingi Jamaah Umroh Paragon. Selain Ustad Hakim, juga ada Ustad Muhammad Azzam yang berangkat bersama jamaah, Jakarta – Madinah – Makkah – Jeddah – Jakarta. Ustad Hakim menjemput ke Bandara Internasional Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMMA) Madinah, mendampingi selama di Tanah Suci hingga ke Bandara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah.

Informasi Ustad Hakim semakin membuat semangat jamaah umroh Paragon bersemangat. Setelah turun dari bus, dalam perjalanan masuk ke lobi hotel, sebuah suara membelah keheningan malam.

“Jam dua nanti, kita ke masjid,” ajak suara itu. Entah siapa yang memulai, tak ada yang tahu, tetapi semua menjawab setuju. Ketika itu, pukul 00.15 waktu Madinah.

Benar saja. Kamis, 16 Januari 2020, pukul dua, semua sudah berada di lobi hotel. Setelah cukup, langkah pun dilangkahkan menuju Masjid Nabawi. Dingin. Menggigil. Angin berhembus sangat kencang. Seakan menusuk tulang. Suhu dinihari, 8 derajat celsius.
Aku bersama Paragonians (sebutan untuk karyawan Paragon dan keluarga besar Paragon) bergerak menuju  pintu 26 Masjid Nabawi.

Bismillahirahmanirrahim. Langkah pun dilangkahkan.

Di dalam masjid, jamaah lain sudah ramai, mengisi syaf-syaf demi syaf. Saya dan tujuh teman lainnya,  bergegas menuju syaf terdepan. Tujuannya, Raudah (Taman Sorga), yang terletak antara mimbar Rasulullah dengan kediaman Baginda Rasul.

Dalam risalah disebutkan, Raudah merupakan salah satu tempat paling mustajab dalam doa.  Kesempatan masuk ke  Raudah merupakan salah satu tempat utama jamaah.

Diriwayatkan Abdullan bin Zaid al-Maziini RA, Nabi SAW bersabda, Antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman surga. Kemulian ini membuat jemaah selalu mengincar tempat ini untuk melaksanakan  salat wajib dan sunah.
Raudah tidak terlalu besar. Ukurannya hanya 22 x 15 meter. Terbentang dari mimbar yang dulunya dipakai Nabi Muhammad hingga sebelah rumah beliau. Kini, Raudah menjadi bagian dari Masjid Nabawi yang memiliki 232 tiang.

Awalnya, masjid ini memiliki enam tiang. Tiang-tiang Masjid Nabawi, pada mulanya berasal dari pohon kurma.
Sesampai di bagian utama Masjid Nabawi, khususnya di pintu 2, 3 dan 4, aku melihat orang berlarian. Aku tertegun, lalu ikut berlari ke arah orang berlari tersebut. Aku yakin, petugas telah membuka sekat untuk masuk ke Raudah.

Impian untuk bisa beribadah di Raudah membuncah dalam diri kami. Kami benar rindu untuk bisa beribadah di Raudah.

“Haji.., haji.., haji..,” teriak petugas sembari menunjuk-nunjuk.

Aku melihat kepadanya. Tunjuknya di antaranya ditujukan juga padaku, pada jamaah lainnya. Ia kemudian merentangkan tangan, pertanda tak boleh melewati batas yang diberikannya. Jamaah lain berdiri terpaku. Aku juga. Tak lama di antaranya, ia kemudian memberikan tanda agar semua duduk.
Aku melihat ke kiri, mencari titik batas rumah Rasulullah yang kini sudah dijadikan komplek pemakaman beliau. Seorang lelaki di sebelah kananku juga terlihat mengamati hal yang mirip denganku.

“Kita di luar Raudah,” katanya. Aku mengangguk. Aku tak kenal jamaah tersebut, namun aku yakin ia berasal dari Indonesia.

Posisiku ketika itu, dua shaf di belakang shaf terakhir Raudah. Tak bisa masuk menembus Raudah, akhirnya aku kuatkan diri untuk tetap berada di syaf tersebut, lalu mencari celah untuk bisa masuk. Minimal, selepas salat Subuh. Eh, belum selesai salat Subuh, wilayah Raudah sudah ditutup kembali. Kali ini justru dibatasi pembatas plastik seperti tebal tebal.

Hari pertama ke Masjid Nawabi tersebut, ternyata hanya dua di antara delapan jamaah pria rombonganku yang berhasil masuk ke Raudah dinihari tersebut. Ia berkesempatan beribadah di Raudah hingga lepas Subuh. Sisanya bertekad untuk bisa masuk ke Raudah saat ibadah berikutnya. InsyaAllah Masih ada hari di Madinah untuk bisa ke Raudah.

Selepas Subuh, aku akhirnya mengikuti alur jamaah yang berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW melalui pintu di depan syaf terdepan Masjid Nabawi. Ada rasa tak biasa ketika berada persis di depan pintu makam. Aku tertegun. Kupanjatkan doa untuk Sang Junjungan Umat. Kulantunkan salawat. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.