OPINI  

Bangsaku Butuh Ulama, Bukan Ulama O.E

Oleh H. Asril Manan.

Perjalanan hidup ini berjalan sangat cepat, sehingga membuat kita merenung dalam-dalam akan nilai-nilai yang menjadi landasan bangsa ini. Di kampung saya, Muaro Pauh Sungai Batang Maninjau, terdapat sosok ulama yang sangat dikenal dan dihormati, yang akrab dipanggil Inyiak Rasul atau Inyiak Dr. Beliau adalah bapak seorang ulama besar, Buya Hamka, yang karya-karyanya telah banyak menginspirasi umat. Bahkan, sebuah rumah bernama Kutub Kanah menjadi saksi betapa pentingnya ilmu dan bimbingan ulama bagi masyarakat di sana.

Karismatik Inyiak Dr. sungguh luar biasa. Meskipun saya pribadi belum pernah bertemu langsung dengannya, kesan pengajiannya sangat terasa di tengah masyarakat. Pengajian beliau mengajarkan perintah dan larangan Allah, mengingatkan tentang halal dan haram, wajib dan sunnah, semua akrab dengan tingkah laku masyarakat sehari-hari.

Kita harus membiasakan diri memahami dan mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an agar jalan yang kita tempuh selalu lurus. Dengan begitu, timbangan kebaikan di hari perhitungan nanti terisi dengan amal-amal yang membahagiakan dan menuntun kita ke Surga Allah. Al-Qur’an adalah kitab suci yang wajib kita sebarkan dan jadikan pedoman hidup. Di dalamnya terangkum jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat. Bagi yang beriman, Al-Qur’an harus disertai dengan amal shaleh, dan di sinilah ulama berperan penting sebagai pembimbing di setiap pelosok negeri.

Namun, saya merasa sangat prihatin melihat kondisi bangsa kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang mulai mengalami kemerosotan moral. Sikap masyarakat yang semakin tidak beradab bahkan biadab menunjukkan kenyataan yang memprihatinkan. Pertanyaan besar pun muncul, bagaimana bisa ini terjadi? Aturan yang dibuat sendiri oleh bangsa kita kerap kali tidak ditaati, mulai dari tingkat atas hingga bawah, dari pejabat negara sampai rakyat biasa.

Hari ini, kita dengan mata kepala sendiri menyaksikan hal-hal yang sangat memalukan. Menteri Agama sekalipun tercatat melakukan korupsi, suatu perbuatan mencuri yang seharusnya tidak terjadi. Banyak pejabat yang seharusnya menegakkan hukum justru melanggarnya sendiri. Kondisi ini sangat menyakitkan karena kita hidup di negara yang kaya, namun mayoritas masyarakatnya terbebani dalam kemiskinan yang tersistem.

Melalui tulisan pendek ini, saya ingin mengajak kita semua kembali menghidupkan semangat juang dan kebanggaan seperti zaman kemerdekaan, yang mencita-citakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat dan kedaulatan sejati. Jika kita ingin mencari solusi demi masa depan bangsa, kita harus memahami sebab dan akibat dari sistem demokrasi yang ada.

Sistem demokrasi kita saat ini tidak mengajarkan kebaikan. Malah, melahirkan kepemimpinan “Tuan Takur” — pemimpin yang mengejar keuntungan pribadi dan kelompok partainya, tanpa memikirkan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Kepemimpinan seperti inilah yang menimbulkan kesombongan dan keburukan, sebagaimana firman Allah dalam surat As-Saffat (35:42) yang menyatakan bahwa kesombongan akan melahirkan kejahatan, dan kejahatan itu menimpa para pelakunya sendiri.

Salah satu buktinya adalah pembiaran terhadap pembabatan hutan yang menyebabkan longsor di banyak daerah, mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit dan luka yang sangat dalam bagi bangsa ini. Apakah kita akan membiarkan semuanya terus berlanjut? Kita harus mulai memikirkan secara mendalam karena hak berpikir bukanlah milik profesor dan doktor saja, melainkan setiap individu punya hak dan tanggung jawab untuk memerangi kemungkaran dan mengamalkan kebaikan.

Sebagai penutup, saya tegaskan bahwa kita membutuhkan ulama yang sesungguhnya, bukan ulama O.E — ulama yang mencari kenikmatan duniawi lewat ilmu, yang berdiri di samping pejabat dan bangga dengan kedudukan tersebut. Terlebih bila ulama tersebut dapat tawaran untuk mendukung pemimpin yang tidak diketahui kapabilitasnya, lalu langsung mengiyakan demi materi duniawi.

Kita butuh ulama yang mendidik kita menjalankan syariat Islam dengan taat dan khusyuk, yang mengajak mentadabburi Al-Qur’an agar kita tak kehilangan akal sehat. Ulama yang berani menegakkan hukum Islam dengan tegas kepada umat, yang mencuri dipotong tangannya, yang berzina dicambuk, sehingga harapan kita tidak pernah padam dan selalu berada di bawah lindungan rahmat Allah.

Mari kita pahami firman Allah dalam surat Ali Imran (3:150):

“Balillaahu maulaakum, wa huwa khoirun naashiriin”
Artinya: “Tetapi hanya Allah-lah pelindungmu, dan Dia penolong yang terbaik.”

Demikian pendapat ini saya sampaikan, mohon maaf apabila terdapat kekurangan dan kejanggalan. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. (*)