19/08/2022
Beranda » Aplikasi RACHEL Dilirik Kementerian Kordinator PMK

Aplikasi RACHEL Dilirik Kementerian Kordinator PMK

Kepala SMPN 6 Padangpanjang Muji Siswanto yang berhasil mengembangkan RACHEL sebagai program belajar tanpa kuota.

Guguk Malintang, Rakyat Sumbar– Inovasi pembelajaran daring tanpa kuota internet yang diperkenalkan SMPN 6 Padangpanjang, mulai dilirik Kementerian Kordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK).

Secara Virtual, Kepala Sekolah SMPN 6 Padangpanjang Muji Sirwanto, M.Pd diundang untuk memprsentasikan aplikasi RACHEL di Kementerian PMK, dihadapan Menteri PMK yang diwakili Deputi Bidang Pendidikan dan Agama Agus Sartono, Senin (27/07/2020).

Hasil uji coba yang dikembangkan Muji Siswanto bersama tim guru TIK sekolah itu, tahun lalu, menggunakan perangkat bernama Remote Area Community Hotspots for Education and Learning (RACHEL), ternyata membawa manfaat saat Proses Belajar Mengajar (PBM) dilaksanakan secara daring di masa Tatanan Normal Baru.

Tidak perlu paket data internet, lewat RACHEL, siswa SMPN 6 hanya perlu mendekati perangkat yang dipasang di beberapa titik di lingkungan mereka tinggal. Dengan demikian, mereka dapat mengunduh bahan pelajaran yang diberikan guru maupun meng-upload kembali bahan yang dikerjakan.

Caranya hanya mengaktifkan Wifi dan memilih jaringan dengan Kode RPI. Setelah Wifi aktif, lewat Goggle browser maupun Opera, siswa lalu mengakses 10.10.10.10. Maka, pembelajaran daring lewat RACHEL SMPN 6 bisa diaktifkan, baik dengan gadget maupun laptop.

“Bahan-bahan dari guru berupa video pembelajaran, modul diinput kedalam, sehingga anak anak tinggal mendekati alat tersebut. Buku elektronik sudah di dalam, anak tidak perlu ke sekolah. Buku tinggal di Unduh, video tinggal Unduh, tugas tinggal Unduh,” kata Muji Siswanto.

Sekali seminggu, lanjutnya, bahan ajar di download oleh siswa. Minggu berikutnya, siswa mengupload tugas yang diberikan dengan mendekati RACHEL yang sinyalnya radius 150 meter.

“Saat ini kita akan pasang 3 Titik di Padangpanjang Timur dan 3 titik di Padangpanjang Barat,” Kata Muji.

RACHEL itu di pasang di salah satu rumah wali murid yang letaknya strategis sehingga mudah dijangkau oleh siswa lain. “Sekarang kita memetakan tempat tinggal anak, dimana paling banyak di situ kita pasang,” sebut Muji.

Muji mengatakan niatnya hanya ingin memudahkan orang tua maupun murid. Dengan adanya RACHEL SMPN 6 ini, proses PBM via daring terlaksana tanpa harus banyak mengeluarkan biaya untuk membeli pulsa.

Uji coba RACHEL SMPN 6 yang diterapkan pada siswa tahun lalu berjalan dengan baik. Kini SMPN 6 akan mensosialisasikan kepada siswa baru kelas VII. Minggu depan seluruh siswa di sekolah itu sudah mulai melaksanakan pembelajaran daring tanpa kuota internet.

Muji Sirwanto juga menjelaskan alasannya mengembangkan RACHEL antara lain, lantaran 80 persen anak yang bersekolah di SMPN 6 merupakan buruh tani, yang membutuhkan bahan pokok dari paket data. “Kami bersama dengan tim berusaha membuat sesuatu yang mempermudah anak dalam proses pembelajaran itu sendiri di masa Covid-19,” kata Muji.

RACHEL berasal dari sebuah alat yaitu, Raspberry P, adaptor, SD card 128 GB dan penunjang lainnya, yang menampung seluruh tugas maupun pembelajaran baik berupa video modul-modul maupun buku elektronik.

Anak-anak, lanjut Muji, tinggal men-download, mendekati spot-spot untuk mengakses RACHEL. Sekali seminggu, Pembelajaran di update diakses kembali oleh Siswa. Posisi Spot RACHEL ditempatkan di daerah yang banyak siswa SMPN 6 Padangpanjang.

Deputi Pendidikan dan Keagamaan Kementerian PMK Agus Sartono sempat menanyakan sumber biaya pengembangan RACHEL yang menelan Rp24 juta, karena 1 RACHEL biayanya mencapai Rp4 juta. Muji mengatakan biaya pengembangan RACHEL berasal dari kantong pribadinya dibantu sejumlah donatur.

Presentasi pada Rapat Koordinasi Online dengan tema Inovasi Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid-19 turut diikuti oleh berbagai sekolah tingkat SMP dan SMA di Indonesia. (ned)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.