Padang, Rakyat Sumbar — Pelaksanaan Blue Ocean Minang (BOM) Run 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357 mendapat perhatian serius dari sisi pengamanan dan rekayasa lalu lintas. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Padang bersama Kepolisian menyiapkan skema pengaturan arus kendaraan untuk memastikan pelaksanaan lomba berlangsung aman, tertib dan tetap memberikan ruang bagi aktivitas masyarakat.
BOM Run 2026 digelar pada 7–9 Agustus 2026, dengan puncak lomba pada Minggu, 9 Agustus. Ajang yang mengusung tema “Run The Coast, Feel The Culture” ini menghadirkan lima kategori lomba, yakni 21K, 10K, 5K, 2K dan 1K, dengan rute yang melintasi sejumlah ruas jalan utama Kota Padang.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Padang, Yudi Indra Syani, mengatakan Manajemen Rekayasa Lalu Lintas (MRLL) telah disiapkan untuk mengantisipasi meningkatnya mobilitas masyarakat selama rangkaian HJK, termasuk saat pelaksanaan BOM Run.
“Kami siapkan pengaturan arus, pengalihan rute, hingga penataan parkir agar seluruh rangkaian berjalan lancar dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat secara luas,” ujar Yudi kepada awak media di kantornya, Kamis (30/7/2026).
Khusus untuk BOM Run, sebanyak 80 personel Dishub Kota Padang akan disebar di sejumlah persimpangan utama yang berada di sepanjang rute lomba. Personel tersebut akan berkoordinasi dengan unsur Kepolisian dalam mengatur pergerakan kendaraan, mengamankan persilangan rute lomba serta memberikan informasi kepada pengguna jalan.
Pengaturan ini menjadi penting mengingat BOM Run menggunakan sejumlah ruas jalan yang juga menjadi jalur aktivitas masyarakat. Karena itu, rekayasa lalu lintas tidak hanya diarahkan untuk memberikan ruang bagi peserta lomba, tetapi juga menjaga agar mobilitas warga tetap berjalan.
Revdi: Bukan Sekadar Menutup Jalan
Ketua Pelaksana BOM Run 2026, Revdi Iwan Syahputra, mengatakan keselamatan peserta dan kenyamanan masyarakat menjadi dua hal yang harus berjalan beriringan.
Menurutnya, event olahraga dengan jumlah peserta besar membutuhkan perencanaan lalu lintas yang matang. Penutupan atau pengalihan arus tidak boleh dilakukan tanpa skenario yang jelas, sebab jalan yang digunakan peserta juga merupakan ruang publik yang setiap hari digunakan masyarakat.
“BOM Run bukan hanya tentang orang berlari. Ini tentang bagaimana sebuah kota menjadi ruang bersama. Keselamatan peserta harus berjalan beriringan dengan kenyamanan masyarakat dan kelancaran aktivitas warga,” ujar Revdi.
Karena itu, menurut Revdi, koordinasi antara panitia, Dishub dan Kepolisian menjadi bagian penting dari persiapan kegiatan.
“Yang kami bangun adalah kolaborasi. Panitia tidak mungkin bekerja sendiri. Dishub memiliki kewenangan dan keahlian dalam rekayasa lalu lintas, Kepolisian memiliki fungsi pengamanan, sementara panitia memastikan peserta mengikuti ketentuan dan rute yang telah ditetapkan,” katanya.
Revdi menegaskan, panitia tidak ingin masyarakat melihat BOM Run hanya sebagai kegiatan yang menyebabkan ruas jalan ditutup. Sebaliknya, event tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari aktivitas kota yang memberikan pengalaman positif bagi peserta maupun masyarakat.
“Target kita bukan hanya peserta sampai garis finis dengan selamat. Kami juga ingin masyarakat Kota Padang merasa nyaman menjadi tuan rumah. Jangan sampai sebuah event yang kita banggakan justru menimbulkan keresahan karena informasi dan pengaturan lalu lintas yang tidak jelas,” ujarnya.
Menghidupkan Kota Lewat Olahraga
Menurut Revdi, BOM Run dirancang tidak semata sebagai perlombaan lari. Melalui tagline “Run The Coast, Feel The Culture”, peserta diajak mengenal Padang melalui olahraga, sekaligus menikmati pesisir, ruang kota, kuliner dan atmosfer budaya yang menjadi karakter daerah.
“Peserta datang untuk berlari, tetapi mereka juga akan melihat wajah Kota Padang. Mereka menikmati pesisir, merasakan atmosfer kota, bertemu masyarakat dan mengenal budaya kita. Itu yang ingin kita bangun,” katanya.
Karena itu, keberhasilan BOM Run tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau kelancaran lomba, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu memberikan dampak positif bagi kota.
Revdi berharap BOM Run dapat menjadi salah satu penggerak sport tourism di Kota Padang dan Sumatera Barat, sekaligus memberikan ruang bagi UMKM dan ekonomi kreatif lokal.
“Event ini harus memberi manfaat lebih luas. Ada olahraga, pariwisata, UMKM, ekonomi kreatif dan promosi daerah. Karena itu kami ingin BOM Run dilaksanakan secara tertib, aman dan profesional,” katanya.
Rekayasa Lalu Lintas di Sejumlah Lokasi HJK
Selain BOM Run, Dishub Kota Padang juga menyiapkan rekayasa lalu lintas untuk sejumlah kegiatan HJK Padang ke-357 yang berlangsung 6–10 Agustus 2026.
Untuk Festival Telong-Telong di kawasan Pantai Padang pada 6 Agustus, sisi barat Jalan Samudera akan ditutup mulai pukul 18.30 WIB hingga 00.00 WIB.
Arus kendaraan dialihkan melalui Jalan Purus I hingga Purus V, sementara sisi timur Jalan Samudera diberlakukan sistem satu arah dengan pola parkir paralel.
Kemudian untuk Xploria Padang dan Padang Gastronomy Market di kawasan Batang Arau pada 7–10 Agustus, akses dari Simpang TIKI dan Simpang Padangsche akan ditutup mulai pukul 15.00 WIB hingga 00.00 WIB.
Kendaraan dari arah Nipah dan Pulau Karam diarahkan melalui Jalan Bandar Pulau Karam, sedangkan kendaraan yang menuju Jembatan Siti Nurbaya dialihkan melalui Jalan Klenteng.
Sementara khusus agenda peresmian Jembatan Hildesheim pada 7 Agustus, tamu undangan akan diarahkan melalui Jembatan Siti Nurbaya menuju titik penurunan penumpang. Area parkir disiapkan di sekitar Masjid Amal dengan akses melalui Jalan Palinggam dan Seberang Palinggam.
Dengan berbagai skenario tersebut, Dishub dan Kepolisian bersama panitia BOM Run berupaya memastikan rangkaian HJK Padang ke-357 dapat berlangsung aman dan tertib.
Bagi BOM Run, rekayasa lalu lintas bukan sekadar persoalan mengatur kendaraan, tetapi bagian dari bagaimana sebuah event besar hadir di tengah kehidupan kota tanpa mengganggu denyut aktivitas masyarakat.
Padang berlari, lalu lintas tetap terkendali, dan masyarakat tetap nyaman menjadi tuan rumah.(*)





