Padangpanjang, Belok Kiri Kedai Kopi

274
Kopi Om Ben Guguak Malintang Padangpanjang.

Oleh : Muhammad Subhan –  Padangpanjang

Minum kopi sudah menjadi gaya hidup. Pagi ngopi, sore ngopi, bahkan malam pun ngopi. Seperti merokok, ngopi menciptakan candu bagi pehobi minuman paling populer di dunia itu.

Di Padangpanjang, kota paling menawan panoramanya sebab dilingkungi gunung-gunung pasak bumi seperti Marapi, Singgalang, dan Tadikek, potret kedai kopi, baik tradisional maupun modern, sudah lebih dari hitungan jari.

Hampir di setiap persimpangan di kota berjulukan Serambi Mekah itu, ditemui kedai kopi. Pun, kedai-kedai makanan, selalu menyediakan kopi.

Suasana udara sejuk Padangpanjang yang pada hari-hari tertentu dibasuh rinai dan kabut, sangat mendukung kian tumbuh dan menjamurnya kedai-kedai kopi di kota yang juga tersebut namanya di dalam novel fenomenal HAMKA, “Tenggelamnya Kapal van der Wijck”.

Pemandangan yang menarik diamati beberapa tahun terakhir, kedai-kedai kopi di Padangpanjang mulai bermetamorfosa memberi label “kafe (cafe)” pada merek dagang mereka. Kafe, kedai kopi modern yang umum ditemui di kota-kota besar, khususnya di bandar udara, mal-mal, pasar, maupun objek-objek wisata.

“Kami punya tempat alternatif untuk ngopi dan diskusi di Padangpanjang, selain nyaman, suasananya juga enak dipandang mata,” ujar Ronal (26), salah seorang mahasiswa di Padangpanjang menyikapi fenomena maraknya kafe di kota itu.

Ronal sering memanfaatkan layanan kafe bersama teman-temannya, tidak sekadar ngopi, diskusi, tetapi juga berselancar di dunia maya melalui telepon pintar yang menjadi kawan kesehariannya, terutama untuk keperluan tugas belajar maupun memanfaatkan media sosial untuk belajar internet marketing.

“Dulu, di Padangpanjang belum banyak kafe seperti yang kita lihat sekarang. Tentu, ini sebuah kemajuan,” ungkap Ronal.

Menjamurnya kafe-kafe modern dengan berbagai menu olahan kopi di Padangpanjang menjadi salah satu indikator geliat dunia usaha di kota itu semakin baik meski tak luput dari terpaan pandemi.

Padangpanjang merupakan daerah perlintasan yang rawan kasus kriminalitas maupun peluang masuk dan tersebarnya pandemi sebab masih ditemukan sejumlah warga terpapar. Tentu, protokol kesehatan harus semakin ketat dilakukan.

Salah seorang pengguna layanan kedai kopi, Dharminta Soeryana, menyambut positif tumbuhnya kedai-kedai kopi di Padangpanjang, baik menerapkan konsep tradisional maupun modern.

Namun, ia berpendapat, alangkah baiknya kedai-kedai kopi di Padangpanjang juga menyediakan fasilitas layanan baca buku maupun baca koran gratis. Setiap kedai kopi memiliki pojok baca yang tentu saja mendukung kota itu sebagai Kota Literasi.

“Kalau di Aceh, saya amati, kedai-kedai kopi di sana, selalu tersedia koran, selain Wi-Fi. Di Padangpanjang, hal serupa ini, saya kira perlu pula, sebab sudah menjadi Kota Literasi,” kata Doktor Prodi Teater ISI Padangpanjang, di sela-sela ngopi dan diskusi bersama Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padangpanjang, Alvi Sena, S.T., M.T., Ketua Prodi Teater ISI Padangpanjang, Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn., Januar Efendi, S.Pd., Guru dan Pegiat Literasi, dan Zainal Arif, Pegiat Ruang Kreatif Hamasah STAI Imam Bonjol Padangpanjang, Rabu (21/10/2020), di sudut Kedai Kopi Om Ben, Guguak Malintang Padangpanjang.

Kopi dan literasi pun sepertinya sudah lekat menjadi satu kesatuan tradisi di Padangpanjang. Kegiatan-kegiatan bertajuk ngopi dan diskusi, terutama sebelum pandemi, sering diadakan komunitas-komunitas baca secara aktif di kota itu, seperti rutin dilakukan Ruang Baca Rimba Bulan, Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, dan beberapa komunitas baca lainnya.

Sementara itu, Owner Kopi Om Ben Guguak Malintang Padangpanjang, Bento, mengatakan, kedai kopi miliknya yang baru berumur sebulan disiapkan sebagai tempat ngopi dan diskusi pula. Kopi yang dijualnya kopi khas Gayo Aceh dengan racikan beberapa menu spesial meski ia mengaku bukan orang Aceh, tapi tertarik mengakrabi kopi Aceh dengan aroma khas itu.

“Terima kasih sudah datang, ngopi, dan diskusi di Kopi Om Ben,” sambutnya ramah.

Kafe-kafe maupun kedai-kedai kopi yang terpantau cukup diminati dan ramai dikunjungi pehobi kopi di Padangpanjang, sekadar menyebut beberapa nama, di antaranya: Dabie Coffee, MaQhaa Cafe, Bakedai Coffee, Green Vill Cafe, Gubuk Coffee, Warung Tenda J-24, DW Cafe, Sakuik Cafe, Liem Resto N Coffee, Resto Gumarang, Bino Cafe, dan banyak lainnya.

Kehadiran kafe-kafe atau kedai kopi dengan layanan modern di Padangpanjang memberi nuansa baru bagi kota yang kaya kuliner itu. Semakin banyak pilihan tempat duduk asyik sambil ngopi dan diskusi, dan keberadaan kafe maupun kedai-kedai kopi itu semakin mudah dilacak melalui mesin pencari di gawai terutama bagi pengunjung yang datang dari luar Padangpanjang.

“Belok kiri kedai kopi”, kata seorang pengunjung kedai kopi di kota itu, di saat senja jatuh di kaki Singgalang.

Tentu, tidak semua jalan belok ke kiri ditemui kedai kopi, tergantung berjalan dari arah mana. Meski begitu, di sepanjang jalan di Padangpanjang, pada jarak yang tak berjauhan, kafe atau kedai-kedai kopi semakin mudah ditemukan. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here